Happy Reading 😄😄😄
Jungkook masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan bahwa paru-parunya tersumbat sehingga ia belum dapat bernafas dengan normal. Jungkook harus bernafas melalui sebuah selang oksigen.
Jimin dan Yoongi tengah duduk menunggu Jungkook sadar. Dia belum memberi kabar apapun pada Namjoon karena bibi Ahn melarangnya. Namjoon akan sangat khawatir dan panik jika tahu anaknya masuk rumah sakit.
Jimin terlihat menyesal, duduk disamping brankar Jungkook tanpa melepas tatapannya kepada wajah pucat temannya. Seandainya saja Jimin tahu lebih awal, tentang nasib Jungkook yang baru saja bibi Ahn ceritakan, tak akan ada hal seperti ini terjadi pada temannya lagi. Ia menyesal, rasa curiganya sejak beberapa hari yang lalu tidak bisa membantu apapun. Jimin bahkan tak berfikir jika saja Jungkook terluka karena perbuatan orang lain yang sangat dekat dengannya.
Yoongi yang sedari tadi duduk disofa selalu menatap Jimin dan Jungkook bergantian. Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu masih mencerna perkataan bibi Ahn. Cerita penganiayaan yang sudah ditutup-tutupi wanita paruh baya itu akhirnya bocor kepada orang baru seperti dirinya. Ahn pasti memiliki maksud mengapa ia berani menceritakan rahasia nyonya besarnya. Yoongi harus bisa membantu masalah yang dihadapi anak bernama Jungkook ini.
Selain karena bibi Ahn, Yoongi masih memiliki rasa penasaran tentang diri Jungkook. Seperti yang telah Jimin katakan, mengapa Jungkook memiliki wajah kecil yang mirip seperti adik Seokjin. Saat Yoongi melihat sepintas wajah pucat itu, nampak segelintir lekukan wajahnya yang hampir mirip dengan Jeon Jungkook. Yang paling kentara adalah tahi lalat kecil dibawah bibir.
Namun Yoongi belum dapat memastikan, banyak anak yang memiliki tahi lalat serupa diwajahnya. Bukan hanya Kim Jungkook.
"Hyung, apa yang kau lakukan saat sahabatmu terluka karena kelalaianmu?" Suara Jimin yang lirih menghentikan lamunan Yoongi. Ia bertanya tanpa mengalihkan pandangnya dari wajah Jungkook.
"Aku pasti sangat menyesal. Lalu aku berusaha untuk menjaganya meski dari kejauhan." Jawab Yoongi. Cara Yoongi menjaga orang yang ia sayangi adalah seperti itu. Yoongi pernah sangat menyesal saat satu sahabatnya hilang karena kelalaiannya. Yoongi bahkan sempat kehilangan sahabatnya yang lain dalam kasus yang sama, beruntung Yoongi dapat menyelamatkan Seokjin saat itu. Mulai saat itulah Yoongi berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak lalai menjaga Seokjin, orang yang sangat ingin ia lindungi walaupun dari kejauhan. Setidaknya Seokjin masih tetap aman dalam pengawasannya.
"Meskipun dia tidak mempedulikanmu?" Tanya Jimin lagi. Ia merasa Jungkook butuh pelindung, hanya saja dia selalu merasa kuat padahal hatinya rapuh.
"Ne. Kau bisa melakukannya tanpa sepengetahuan dirinya."
Jimin mengangguk, ia menoleh kearah Yoongi, "Gomawo, Hyung."
Yoongi tersenyum seraya mengangguk.
Tanpa disadari, Jungkook mendengar percakapan mereka. Dia sudah sadar namun belum dapat membuka matanya lantaran rasa lemas masih mengendalikan tubuhnya.
Jungkook baru menyadari, Jimin ternyata sangat peduli padanya. Bahkan Jimin ada disaat dirinya terluka seperti ini. Ia bersalah telah menyia-nyiakan sahabat seperti Jimin. Bahkan Jiminlah yang selalu mengerti dirinya, dirinya lah yang selalu nampak acuh padanya.
"J-jimin-ah..." Ucapnya lirih setelah ia berhasil menatap Jimin yang tengah duduk disampingnya walau nampak memburam.
Jimin menoleh, terlihat sunggingan bibir yang diciptakan untuk dirinya. Ia menangkap itu, walau samar. Jimin nampak senang dengan kesadarannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gwenchana, Hyungnim
FanfictionJeon Seokjin dan Jeon Jungkook harus berpisah dengan kedua orang tuanya dalam insiden kebakaran rumah. Kejadian tragis yang menimpa keluarganya membuat dirinya harus hidup dalam sebuah panti asuhan. Alih-alih ingin selalu bersama dengan Jungkook, Se...
