PART 28

81 7 0
                                        

Happy Reading


"Makasih kak" ucap Sifa setelah mengambil bunga dan hadiah dari tangan Bara. Sifa menghirup aroma bunga mawar merah yang ada ditangan nya setelah itu kembali menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan keberadaan Bara disampingnya.

"Sifa?" Panggil Bara pelan.
Sifa menengok kearah Bara dan mengangkat alisnya sebelah seakan bertanya kenapa Bara memanggilnya.

Bara menatap Sifa dan tersenyum lembut . "Ada apa? Kamu bisa cerita sama kakak" ucap Bara hati-hati.

Mendengar ucapan Bara membuat Sifa teringat dengan kata-katanya waktu itu.

"Sifa , jika suatu saat nanti ada orang yang menyakiti kamu, datang lah padaku aku akan mendengar kan semua keluh kesah kamu . Aku akan selalu ada kapanpun kamu butuhkan"

Kata-kata Bara melintas dipikiran Sifa , apa harus Sifa menceritakan orang yang menyakiti nya dan orang itu adalah orang yang ia cintai. Orang yang mampu membuat Sifa menolak semua laki-laki yang mendekati nya termasuk Bara.

"Apa kak Bara pernah mencintai orang yang tengah mencintai orang lain?"pertanyaan Sifa membuat Bara menatap kearahnya.

Bagaimana mungkin Sifa menanyakan soal itu sedangkan semua itu sudah Bara rasakan semenjak mencintai Sifa yang Bara sendiri tidak tau Sifa sedang mencintai siapa.

Apakah selama ini Sifa tidak menyadari perasaan Bara untuk nya , semuanya Bara lakukan karena ia sangat menyayangi Sifa meskipun Bara tau Sifa tidak akan membalas perasaan nya.

"Pernah" jawab Bara tersenyum.

"Lalu apa yang kak Bara lakuin?" Tanya Sifa lagi.

"Sifaa level tertinggi dalam mencintai itu adalah mengikhlaskan, ikhlas jika memang orang yang kita cintai ternyata tidak bisa kita miliki. Karena terkadang cinta itu tak harus memiliki. Kadang cinta sengaja dihadirkan hanya untuk mengajarkan arti ketulusan pada kita. Bahwa apa yang kita berikan dengan sungguh-sungguh pada orang lain belum tentu dibalas dengan balasan yang sebanding. Yaa contohnya kita mencintai orang dengan tulus tapi ternyata orang itu malah mencintai orang lain dan mengabaikan kita sendiri. Kalo sudah begitu yang bisa kita lakukan hanya merelakan dia bahagia dan semoga kita mendapatkan ganti yang jauh lebih baik lagi"

Kata-kata Bara tidak ada yang salah , iyaa mungkin memang sekarang tidak ada yang bisa Sifa lakukan selain mengikhlaskan Ali bersama Alisya . Bukan kah besok Ali akan mengkhitbah Alisya dan mereka akan segera menikah lantas apalagi yang harus Sifa harapkan.

Sifa tersenyum menanggapi ucapan Bara , setidaknya itu membuat perasaan Sifa sedikit membaik dari sebelumnya . Bara lega melihat Sifa sudah tak seburuk ketika ia baru datang tadi.

"Wanita secantik kamu itu gak pantes nangis dihari bahagia kamu , kan udah dibawain bunga sama cowok terganteng dikampus dulu hahahah" ucap Bara mencoba menghibur Sifa.

Sifa tertawa meskipun tak selepas biasanya "terus ini kado buat apa?" Tanya Sifa

"Itu kado ulang tahun kamu , maaf yaa ngasih nya telat" ucap Bara

"Makasih yaa kak , kakak selalu baik sama aku dari dulu" kata Sifa dengan mata yang sedikit menyipit karena efek terlalu banyak menangis.

"Sama-sama kamu udah aku anggap adik aku sendiri"

"Serius cuma nganggep aku adiknya kak Bara? Gak lebih?" Tuh kan jangan salahkan Bara yang berharap pada Sifa karena Sifa sendiri yang selalu membuat nya baper namun ujung-ujungnya hanya PHP.

"Serius, kecuali kalo kamu mau aku ajak nikah Sekarang"

"Mau dong diajak nikah hahahah" seketika mood Sifa mulai membaik dan sudah bisa tertawa lagi.

"Gak usah mulai-mulai deh Sifa nanti aku nikahin beneran baru tau rasa"

"Hahahah ampun ampun Sifa baru banget lulus masa udah mau dinikahin aja"

"Makanya gak usah macem-macem. Aku anterin pulang yuk udah mau magrib nih" kata Bara sambil berdiri.

Sifa hanya mengangguk dan mengikuti Bara menuju mobilnya. Saat sampai didepan rumah Sifa, Bara langsung pamit karena sudah terdengar azan magrib . Dia buru-buru kemasjid untuk solat magrib .

Sifa memasuki rumah nya yang terlihat sepi . Mungkin yang lainnya sedang melaksanakan solat magrib dan ahh Sifa melupakan sesuatu . Buru-buru ia menuju kamarnya dan mendapati kamar nya kosong. Kemana Rindu? Selama itukah Sifa pergi sampai dia melupakan rindu yang sore tadi tidur di kamarnya.

Sifa mengambil handphone nya yang tergeletak dibawah bantal . Tadi Sifa lupa membawa ponselnya saat pergi keluar karena niat nya hanya keluar sebentar , ia tidak tau akan terjadi hal seperti ini . Sifa langsung mengirimkan pesan pada Rindu menanyakan keberadaan nya dan meminta maaf karena meninggalkan nya cukup lama.

Setelah mengirim kan pesan pada Rindu , Sifa menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan solat magrib.

Sifa merebahkan dirinya diatas kasur yang dibalut sprei berwarna pink , bukan hanya tubuhnya yang lelah saat ini hatinya juga terasa sangat capek. Sifa masih tidak menyangka hal yang sangat ia takutkan seperti ini akhirnya terjadi juga.

Sifa merubah posisi tidurnya jadi menyamping , menutup sebagian wajahnya dengan guling . Disaat sepi seperti ini hatinya terasa sedih lagi , otaknya memutar kembali kejadian beberapa jam yang lalu dan tanpa sadar air mata nya kembali menetes.

Sifa menghapus air matanya cepat saat terdengar ketukan pintu kamar nya. Tok tok tok

Sifa berlari kearah cermin memastikan wajah nya dalam kondisi baik sebelum membuka pintu. Setelah dirasa aman Sifa langsung membukakan pintu dan terlihat sosok uminya .

"Kamu tadi dari mana aja?" Ucap uminya to the point.

"Hehehe jalan-jalan sore aja umi ketaman ehh keasikan sampe lupa waktu" Sifa menunjukkan cengirannya , sedangkan uminya hanya geleng-geleng kepala.

"Kamu tau gak Rindu sampe bosen nungguin kamu sendirian , mana kamu gak bawa hp akhirnya dia pulang sendiri kan kasian"

"Iyaa umi maaf tadi Sifa udah telfon Rindu kok ngejelasin sekalian minta maaf" ucap Sifa

"Yaudah sekarang kamu turun kita makan malam" kata umi sambil meninggalkan Sifa menuju meja makan.

Dimeja makan Sifa terlihat sama sekali tidak tertarik dengan makanan yang ada didepannya. Tangannya sibuk mengaduk-aduk nasi dan lauk dipiring nya sedangkan matanya menatap kesembarang arah dengan tatapan kosong. Umi dan ayahnya heran dengan tingkah Sifa , gak biasanya anak pertamanya itu bersikap aneh seperti ini.

"Kamu kenapa?" Ucapan ayahnya tak berhasil membuyarkan lamunan sifa. Sifa masih asik dengan pikirannya sendiri.

"Ekhemm Sifa" kali ini suara ayahnya cukup keras dan membuat Sifa sangat terkejut ketika mendengarnya. Sifa menoleh kearah ayahnya duduk dan tampak ayah nya yang sedang memandang Sifa.

"Kenapa yah?" Tanya Sifa

"Kamu yang kenapa? Umi capek-capek masak buat kamu makan malah kamu aduk-aduk gak jelas gitu"

"Maaf yah yaudah ini aku abisin dulu yaa" ucap Sifa kemudian langsung menghabiskan makanan nya.

BERSAMBUNG

THANKS ❤️

CINTA DIAM DIAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang