PART 46

286 10 3
                                        

Happy Reading


Sifa membuka pintu rumahnya dan langsung masuk kedalam , ia menuju ke kamarnya kemudian membersihkan diri. Hari ini Sifa  menghabiskan waktu nya dirumah Rindu sampai sore.

Sifa mengunci pintu kamar nya dan tak keluar kamar sampai waktu magrib , orang tuanya sengaja tak ingin mengganggu Sifa karena mereka bisa merasakan apa yang sedang Sifa rasakan saat ini.

Selesai solat magrib Sifa merebahkan tubuhnya diatas kasur , bolak-balik berganti posisi sambil menunggu waktu isya.

Sementara ditempat lain Ali tak hentinya melantunkan doa , mulutnya tak berhenti berzikir sejak selesai solat magrib tadi dirinya tak beranjak dari tempat solatnya.

Ali benar-benar merasa gugup malam ini akan kembali kerumah Sifa , apalagi tadi ayahnya Sifa sudah mengabari bahwa Sifa ada dirumahnya malam ini.

Apa yang akan dilakukan gadis itu saat melihat dirinya nanti datang kerumahnya untuk membicarakan acara pernikahan nya sedangkan ia pernah meminta Sifa untuk pergi dari hidupnya.

Tiba-tiba bayangan Sifa mengganggu pikiran Ali yang sedang khusu berdoa , terbesit rasa bersalah dihati Ali pernah menyakiti Sifa kemarin.

"Aku janji setelah ini tidak akan menyakitimu lagi Sifa , aku gak akan membuat kamu menangis lagi seperti janji ku dulu ketika kita masih kecil" ucap Ali sungguh-sungguh pada dirinya sendiri.

Azan isya berkumandang Sifa menggelar sajadahnya dan mulai melaksanakan solat isya. Di detik-detik terakhir waktunya ini Sifa benar-benar ingin memantapkan hati nya , memikirkan kembali keputusan yang akan ia ambil sebentar lagi.

Sifa mengusap wajahnya dengan kedua tangan sambil mengaminkan doanya didalam hati. "Bismillah semoga ini keputusan yang tepat" ucap Sifa meyakinkan hatinya.

Sifa merapikan peralatan solatnya lalu beranjak menuju meja riasnya memakai jilbab berwarna soft pink miliknya. Sifa memandangi wajahnya didepan cermin menghembuskan nafasnya kasar , tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya yang sudah Sifa tau itu pasti uminya.

Dengan langkah pelan Sifa berjalan membukakan pintu kamarnya dan terlihat uminya "kamu sudah siap sayang?" Tanya uminya sambil mengusap kepala Sifa.

Sifa menjawab ucapan uminya dengan anggukan kepala "yasudah ayo kita turun keluarga Ali sudah ada dibawah" ucapan uminya membuat jantung Sifa berdetak cepat.

Sifa kembali menarik nafas panjang menetralkan detak jantungnya dan berusaha bersikap tenang lalu kedua nya turun ke ruang tamu. Sifa menggenggam tangan uminya erat , terasa sekali tangan Sifa yang sedikit dingin menandakan gadis itu sedang gugup.

"Bismillah sayang semoga keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang di ridhoi oleh Allah" ucap umi nya menenangkan Sifa.

Lagi-lagi Sifa hanya mengangguk tak mampu rasanya sekedar mengucapkan kata "iyaa". Saat tiba diruang tamu mata Sifa langsung terfokus pada seorang lelaki yang juga sedang menatap kearahnya.

Dibalik wajah Ali yang datar Sifa melihat senyuman tipis lelaki itu membuat perasaan Sifa semakin tak karuan. Sementara Ali sedang mati-matian menahan dirinya untuk tak tersenyum melihat Sifa muncul bersama dengan uminya.

Gadis yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya itu memakai baju berwarna pink , warna kesukaan nya sejak kecil. Wanita itu terlihat tak memakai makeup sedikitpun memperlihatkan wajah putihnya yang natural. Berkali-kali Ali mengucapkan istighfar dalam hatinya.

CINTA DIAM DIAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang