PART 34

86 5 0
                                        

Happy Reading

Mobil Bara berhenti didepan gerbang rumah Sifa , Bara memperhatikan Sifa yang sedang sibuk membuka sabuk pengaman . Setelah kejadian ditepi jalan tadi baik Sifa maupun Bara tidak ada yang mengeluarkan suara nya. Sebelum turun Sifa menoleh kearah Bara "makasih kak" ucap Sifa lalu turun dari mobil.

"Sama-sama" jawab Bara pelan bersamaan dengan pintu mobil yang ditutup dari luar oleh Sifa.

Bara memandangi Sifa yang dengan buru-buru membuka gerbang dan berlari masuk kedalam rumahnya. Bara pasrah jika setelah ini Sifa tidak akan pernah mau bertemu dengan nya lagi.

Sifa menjatuhkan tubuhnya diatas kasur kesayangan nya , ia memikirkan kembali ucapan Bara tadi. Beberapa tahun dia mengenal Bara dan mengetahui dari awal Bara memiliki perasaan lebih pada nya namun ini adalah kali pertamanya Bara mengucapkan sayang dalam mode serius seperti tadi.

Sifa menggeleng-gelengkan kepalanya , bagaimana pun juga sampai detik ini Sifa tidak pernah menaruh perasaan sedikit pun pada Bara. Baginya Bara adalah sosok laki-laki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
.
.
.
.
Ali menutup buku dan meletakkan nya diatas meja , pandangan nya kini mengarah ke depan menatap jalanan. Dirinya sedang berada diteras depan rumahnya , sejak beberapa minggu yang lalu dia kini tak pernah lagi melihat Sifa . Dan mengapa sekarang sangat terasa beda dalam hatinya saat ia tak bertemu dengan wanita itu.

Hati Ali terasa kosong sejak kepergian Sifa kemarin. Kini ia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena meminta Sifa untuk melupakan .

Uminya tampak heran dengan sikap Ali beberapa waktu belakangan ini. Ali selalu terlihat tidak bersemangat seperti sedang memikirkan hal yang berat. Seperti sekarang Ali sedang duduk melamun dengan tatapan yang kosong . Uminya pun segera menghampiri nya.

"Ali?" Ucap umi Ami sambil menepuk pundak Ali.

Sontak Ali terkejut dan langsung menengok kearah uminya.

"Kenapa umi? Ngagetin aja" ucap Ali

"Kamu lagi ngapain ngelamun gitu? Ada yang lagi dipikirin?" Tanya uminya.

Ali menggeleng pelan "entahlah umi , Ali juga gak ngerti" jawab Ali

Uminya langsung duduk disamping Ali , seperti nya ia memang butuh bicara dengan anak satu-satunya itu.

"Cerita sama umi apa yang mengganggu pikiran kamu" tutur umi

Ali menarik nafas dan menghembuskan nya kasar , dia bingung harus memulai nya dari mana. "Ini tentang alasan Ali membatalkan niat Ali untuk mengkhitbah Alisya" ucap Ali.

Uminya diam menunggu Ali melanjutkan ucapannya. "Ali membatalkan semuanya bukan karena Ali belum siap membangun rumah tangga , tapi karena ada sosok wanita lain yang membuat Ali ragu dengan perasaan Ali" ucap Ali.

"Maksud kamu? Siapa wanita itu?" Tanya uminya tenang.

"Sifa umi , dia yang membuat Ali ragu sama perasaan Ali sendiri" ucap Ali jujur.

Umi nya terlihat kaget dengan ucapan Ali namun berusaha tetap tenang.

"Ali baru menyadari kalau Ali ternyata mencintai Sifa umi" lagi-lagi ucapan Ali membuat uminya tak menyangka.

CINTA DIAM DIAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang