02. LEO

462 27 11
                                        

Happy reading
.
.
.
.
.

Bugghh

Bughh

Buughh

Praanggg 

Gubrakk

Seseorang terbanting ketumpukan kursi dan meja yang sudah tidak terpakai. Membuatnya berceceran kemana-mana.

Ia hanya bisa mengeram kesakitan tanpa melawan. Bahkan ia tetap diam saat lawannya mulai mendekat dan menarik paksa kerah bajunya. Memaksa Ia untuk bangkit kembali.

"Jauhi milikku atau kau akan mati ditanganku!"

"Saya tidak pernah mendekati milikmu --uhuukk uhukk.." nafasnya kini mulai sesak akibat cekikan pada lehernya.

"Kami cuma rekan kelompok," lanjut pria yang sekarang sudah penuh lebam biru akibat pukulan yang berkali-kali ia dapatkan.

Ujung bibirnya tampak robek akibat ulah pria yang kini tengah mencengkram kerah kemejanya.

"Alasan! Jelas-jelas kau akan mencium wanitaku! Dasar bajingan cupu!"

Bughh!

Joan memukul wajah Leo untuk yang kesekian kalinya. Pria bar-bar itu tidak akan pernah puas menyiksa korban bully-annya 

"Joan, 5 menit lagi kita ada kelas," ucap temannya menepuk bahu.

"Iya Jo, kita 2 kali bolos kelasnya Pak Matteo," tambah yang lain.

Joan menggeram kesal, "Daripada Leo, kau lebih cocok dengan nama Caty! Dasar bajingan cupu!" Joan tertawa keras diikuti teman-temannya. Kemudian pergi meninggalkan Leo yang tergeletak mencoba mengatur nafasnya yang tidak teratur.

Leo merangkak meraih kacamata nya yang tadi sempat diinjak oleh Joan. Gagangnya patah satu namun masih terpasang, kacanya retak dan dipenuhi debu. Walaupun begitu Leo tetap memakainya.

Leo berdiri dan menepuk-nepuk pundak dan badannya, guna menghilangkan debu yang menempel pada kemeja hitamnya. Leo berjalan pincang menuju pintu gudang.

"Sial! Pintunya dikunci. Aaagghh!!"

Bbraaakk

Leo menendang keras pintu gudang yang terkunci dari luar. Membuat kakinya kian nyeri.

Leo meraih telepon genggam disaku celana jeansnya dan memutuskan untuk menelpon seseorang.

"Saya terkunci digudang lantai satu dekat pembuangan sampah," ucap Leo pada seseorang disebrang sana.

"Haruskah?" jawabnya datar.

"Saya butuh bantuanmu, tolong mengerti," ucap Leo pasrah. Karena dia sudah tidak tau lagi harus meminta bantuan pada siapa lagi.

Dia bahkan hampir tidak punya teman sama sekali. Sebut saja Leo itu manusia 'Anti Sosial'.

Meminta bantuan pada orang yang sedang ia hubungi sekarang saja hampir tidak mungkin di iyakan. Tapi ini pilihan terakhir Leo.

Ia bisa saja melompat dari jendela yang tingginya hampir mendekati atap gudang. Tapi kakinya yang pincang akibat ditendang dan diinjak berkali-kali oleh Joan dan kawan-kawannya tadi tidak memungkinkan Leo untuk melakukannya.

Sebenarnya Joan hanya salah paham. Joan menuduh Leo mencium pacarnya, padahal kenyataannya tidak sama sekali.

Leo hanya membantu Clara—pacar Joan. Leo berusaha meniup mata Clara yang terkena debu dari rak buku. Hanya itu. Leo bahkan tidak menyentuh tubuh wanita itu sama sekali.

MURDER || NCT ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang