"Siapa yang peduli kau berasal darimana. Peduli lah pada seberapa besar perjuanganmu untuk mencapai sebuah kesuksesan."
.
.
.
'Mr, bagaimana rasanya sekarat? Ada yang bilang rasanya seperti di kuliti hidup-hidup. Aku pernah mencobanya, sedikit. Rasanya seperti... '
"Kau sedang menulis apa?" Leo tersentak, ia reflek menutup bukunya.
Leo mendongak menatap laki-laki yang menunduk dengan mata yang terus memandangi wajahnya.
Leo menggeser tubuhnya kemudian berdiri menyampirkan ransel nya dan bersiap untuk pergi dari hadapan pria aneh yang terus menebar senyum padanya itu.
"Mau kemana?" tanya Noah berlari kecil menyusul Leo yang berjalan menjauh dengan langkah lebarnya.
"Hei tunggu!" susah payah Noah mengejar Leo yang hilang diantara kerumunan mahasiswa membuat pria itu memutuskan untuk berhenti melangkahkan kakinya. Noah menatap punggung pria yang sesekali terlihat diantara mahasiswa yang lalu lalang.
"Sayang sekali," gumam Noah dan berjalan kearah sebaliknya. Ia berniat mencari Jack. Walau Noah tau jika pria dingin itu positif akan bersikap tak acuh padanya.
Disisi lain, Leo berjalan dengan perasaannya yang sedikit jengkel karena diganggu oleh pria asing yang seingat Leo namanya Noah.
Saat ini harusnya menjadi quality time dirinya dengan si Mr. Diary-— buku super privasi nya.
Memang kelihatan ketinggalan jaman. Kalo dipikir, siapa juga yang masih menulis di buku diary di jaman serba modern ini. Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari.
Tapi terserahlah, menurut Leo hanya Mr. Diary yang bisa mengerti semua pemikiran dan perasaannya. Haha lucu, terlalu mellow memang untuk ukuran pelaku kriminal seperti Leo.
Tapi percayalah. Isi diary Leo bukan kata-kata puitis atau mellow seperti yang kalian bayangkan. Dan jika kalian tidak sengaja menemukan buku diary milik Leo kemudian membacanya. Aku yakin kalian tidak akan melanjutkannya sampai halaman kedua.
Akan kuceritakan suatu saat nanti apa alasannya. Jika aku ingat.
"Leo! Hey Leo tunggu!" seseorang mencengkram bahu Leo agar pria itu menghentikan langkahnya.
Leo reflek menepis tangan pria itu dan berbalik bersiap untuk memarahinya.
"Ow wow, calm down. Aku hanya ingin berbicara denganmu," ucap pria itu mengangkat kedua tangannya, takut Leo benar-benar emosi. Leo mendengus napas kasar. Bukan Noah ternyata.
"Ada apa," ucap Leo yang sudah menetralkan ekspresinya. Pria itu segera menurunkan tangannya, sudah aman sepertinya begitu pikir pria berambut klimis itu.
"Kenalin, aku Tara. Kita satu kelompok untuk tugas mata kuliah filsafat. By the way, sama Joan juga," ucapnya.
Reflek Leo mengernyit heran, "Joan?"
Tara mengangguk dan ikut memasang ekspresi yang sama seperti Leo, "Kenapa?" tanyanya.
"Tidak, hanya saja... " Leo bingung mau melanjutkan apa. Ia jadi bingung, Joan kan sudah—
KAMU SEDANG MEMBACA
MURDER || NCT ✔
Action[Completed] "Hanya menunggu waktu, pembalasan akan datang." Ini bukan kisah romansa para Mafia. Ini tentang kesetiaan, penghianatan dan makna keluarga dari setiap sudut pandang. -Mengandung kekerasan, gore, pembunuhan. Tidak disarankan bagi pembac...
