04. RICHI

305 23 0
                                        

Happy reading
.
.
.
.
.

"Sial! Kenapa Richi ada disana. Dia tidak mengenaliku kan? Tidak. Itu sangat berbahaya. Aaarrgghhh!!" Leo mengacak rambutnya frustasi.

"Tenang Leo, tenang. Dia mana mungkin mau ikut campur dengan masalah ini. Pembunuhan di club yang ia datangi, itu bukanlah urusannya. Dia pasti datang hanya untuk bersenang-senang. Argh bodoh!! Kaki bodoh!" ucapnya mencoba menenangkan diri. Tapi rasanya itu percuma. Leo benar-benar panik sekarang.

"Ah!" Leo tersentak. Ujung jarinya berdarah karena ia gigit terus menerus.

Kabar pembunuhan di fullsun club mungkin saja tersebar. Dan Richi baru saja bertemu pelaku yang tidak sengaja ia tabrak. Ini semua karna kaki Leo yang pincang akibat tusukan di betisnya. Andai saja-

Leo menggeleng pelan. Ia tidak boleh berpikir terlalu jauh. Richi bukan siapa-siapa. Ia hanya mahasiswa yang pergi ke club. Ia tidak akan tau.

Leo merebahkan tubuhnya mencoba memberi ketenangan pada otaknya. Leo menoleh ke tumpukan tugas di meja belajarnya. Leo menghela napas panjang. Itu tugas nya ditambah tugas Richi.

Richi lagi. Andai Leo bisa menjauh dari Richi. Berhenti menjadi suruhannya. Dan kuliah dengan baik.

Leo beranjak dari ranjangnya, memilih berkutat dengan tugas kuliahnya. Berharap ia dapat melupakan kejadian hari ini.

Satu jam fokus dengan laptop dan alat tulisnya. Leo memasang wajah khawatir saat ponselnya memperlihatkan panggilan masuk tertera nama Richi.

"Halo."

"Bagaimana dengan tugasku," ucap Richi datar.

"Saya sedang mengerjakannya," jawab Leo berusaha tenang.

"Besok harus sudah selesai," kata Richi.

"Saya mengerti. Tugas saya masih banyak, saya tutup-"

"Tunggu," Richi memotong ucapan Leo.

Hening beberapa saat, sengaja. Leo diam menunggu Richi berbicara. Leo mengecek ponselnya, siapa tau sambungan telah terputus. Tapi jelas-jelas masih terhubung, Leo jadi bingung sendiri. Sebenarnya Richi mau bilang apa?

"Saya tutup-"

"Tadi... kemana?" ucap Richi mendadak.

Leo mematung beberapa saat. Jantung Leo seperti berhenti berdetak.

"Apa maksudnya?" tanya Leo berusaha tenang.

Hening kembali. Lama menunggu jawaban dari Richi membuat Leo semakin frustasi.

"Tidak, lupakan. Kerjakan tugasku dengan benar."

Sambungan terputus. Membuat perasaan Leo kian kalut. Richi tidak mungkin mengenalinya kan? -batin Leo.

.
.
.
.

Richi kembali duduk disofa ruang kerja Haxel.

Haxel tengah mabuk. Tak terhitung sudah berapa botol alkohol ia habiskan. Maklum, ia kan punya banyak di club miliknya.

Richi memperhatikan Haxel yang semakin lama seperti orang kesetanan. Melempar benda apa saja yang ada didekatnya.

Tubuh Richi bahkan hampir dihantam patung kuda yang Haxel lempar. Untung ia pandai menghindar.

Haxel melempar tubuhnya ke sofa. Merebahkan tubuhnya tepat disamping Richi. Pria berkulit coklat itu terengah-engah. Kancing kemejanya hampir lepas semua memperlihatkan perut six-pack nya.

MURDER || NCT ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang