Part 4

101 15 2
                                        

Sesampainya di rumah, Cia turun dari motor Ryan. Ia membuka helm dan memberikannya pada Ryan.

"Thx." Cia berjalan meninggalkan Ryan.

"Cia!" panggil Ryan sebelum Cia jauh dari pandangannya.

Cia menoleh dan berkacak pinggang sambil mengernyitkan dahinya.

"Kenapa?" ujar Cia dengan nada agak tinggi.

"I love you," sahut Ryan kemudian memutar gas motornya dan pergi meninggalkan Cia.

"Dasar kain kanebo!" gerutu Cia lalu masuk ke dalam rumahnya.

Cia pun melihat kedua orang tuanya yang tengah bekerja. Mamanya sedang fokus menatap laptop, sedangkan Papanya sedang bertelepon dengan orang lain.

Cia akhirnya memberi salam kepada mereka. Namun, tidak ada balasan satu pun. Mereka begitu sibuk hingga mengabaikan anak gadis mereka yang hampir menginjak 17 tahun.

Dengan kesal Cia menuju kamarnya dan membanting pintunya. Cia tidak peduli suara dentuman dari pintu kamarnya terdengar atau tidak.

Cia akhirnya mandi dan ganti baju. Cia merapikan meja belajarnya dan mengeluarkan buku dari tasnya yang akan diganti sesuatu jadwal pelajaran besok. Kebetulan, besok ada jadwal olahraga. Jadi, Cia tidak lupa membawa baju olahraganya.

Gadis ini merenung dan selalu merasa kalau dirinya pintar namun orang tuanya tidak memperhatikannya. Cia berjuang namun tidak dihiraukan kedua orang tuanya.

"Ma, Pa, aku di sini. Kenapa sih kalian tidak pernah memberiku kasih sayang? Percuma aku hidup mewah tanpa cinta dari kalian. Bagaikan indomie tanpa kuah. Hampa!" isak Cia meratapi nasibnya.

Cia pun langsung belajar dan tidak makan malam karena malas dan tidak nafsu makan.

Setelah 2 jam belajar, Cia mulai mengantuk dan merebahkan dirinya di kasur kesayangannya yang berwarna pink. Ya, warma kesukaannya.

Keesokan harinya, Cia bangun tidur dan seperti biasa Cia mandi dan memakai seragamnya lalu menuju ke bawah. Orang tua Cia sedang makan dibawah. Cia dengan santainya pergi ke sekolah tanpa pamit. Namun, orang tua Cia memanggilnya.

"Nak!" panggil Mama Cia.

Langkah Cia berhenti lalu menghampiri kedua orang tuanya dengan wajah cemberut.

"Sini makan dulu, Nak!" sahut Mama Cia - Risma Marianata.

"Gak nafsu," ujar Cia. "Cia, berangkat dulu, ya, Ma, Pa," lanjutnya lalu mencium tangan kedua orang tuanya.

"Hati-hati, Nak."

Tidak jauh setelah berpamitan, Cia menoleh ke belakang lalu melihat Mama dan Papanya begitu sibuk dengan kegiatan masing-masing.

'Huh! Dasar keluarga yang gak punya waktu.' Cia berjalan menikmati angin pagi yang sejuk.

Jarak sekolah Cia dengan rumahnya lumayan dekat. Hanya berjalan 20 menit, Cia sudah sampai di sekolahnya.

********************************

Cia pun sampai di sekolah. Jam pertama adalah pelajaran olahraga. Cia dan Vania akhirnya berganti pakaian lalu menuju ke lapangan.

Semua siswa dan siswi berbaris di lapangan. Mereka begitu antusias mengikuti kegiatan olahraga, namun berbeda dengan 3R. Siapa lagi kalau bukan Rachel, Raisya, dan Rina.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Ivan, guru olahraga yang memiliki badan atletis. Banyak siswi yang suka padanya.

"Pagi, Pak," ujar murid-murid serentak.

RYAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang