"Hm, namanya juga anak kecil, ya Bun, hahaha," celetuk Risma mencairkan suasana.
"Kamu apa kabar, Nak?" tanya Samuel mengalihkan pembicaraan.
"Kabar baik, Om. Om sendiri apa kabar?" balas Cia menyapa Papa Fahri.
"Baik juga." Samuel tersenyum.
"Kamu gimana sekolahnya, Nak?" tanya Rianti pada Cia.
"Baik, Tante. Aku gak nyangka kalau Fahri anak baru di sekolahku," ujar Cia.
Tidak lama kemudian, Fahri muncul dari dalam rumahnya dan menghampiri kedua orang tua Cia. Fahri mencium punggung tangan Risma dan Ronald.
"Hey, Cia!" sapa Fahri sambil mengedipkan salah satu matanya dengan jahil.
"Heh, gue colok nih!" pekik Cia pada Fahri.
"Nak, jangan gitu dong sama Fahri," tegur Risma pada anaknya.
"Iya, walau Fahri begini 'kan dulu kamu sempat suka sama anak Tante," ujar Rianti menimpali.
Cia hanya tersenyum kecut dan berusaha tersenyum seolah baik-baik saja. Padahal, dalam hati Cia begitu risih dan tidak nyaman.
Tiba-tiba Fahri memegang tangan Cia dan mengajak Cia keluar dari rumahnya dan mengobrol di taman yang tidak jauh dari rumah Fahri.
"Om, Tante, aku izin bawa Cia ke depan, ya," pamit Fahri dengan tangan yang menggandeng Cia.
"Iya, silahkan," jawab Ronald dan Risma.
Setelah mereka keluar dan menuju taman, Cia melepas gandengan Fahri. Cia duduk di ayunan dan diayunkan oleh Fahri.
"Lo ngapain sih bersikap kayak gitu?" decak Cia dengan kesal.
Fahri membelai rambut Cia sambil berkata,"aku tahu kamu risih di dalam rumahku, 'kan, Sayang?"
"Gak usah pegang-pegang, deh lo!" ketus Cia lalu turun dari ayunan menuju rumah Fahri namun tangan Cia dicekal oleh Fahri.
"Kali ini gue gak akan lepasin lo, Cia. Lo harus jadi milik gue." Fahri tersenyum simpul sambil hampir mencium Cia.
PLAK!
"Berani lo sama gue?" Cia menampar pipi Fahri sampai merah.
"Dulu kecil kita deket, Cia. Sekarang kenapa lo begini?" tanya Fahri merasa tidak terima.
"Itu dulu! Sekarang gue ada Ryan dan gue menganggep lo hanya sebatas teman!" murka Cia menegaskan pada Fahri.
"Sampai kapan pun gue akan terus kejar lo, Cia! Gue akan lakuin berbagai cara untuk mendapatkan hati lo lagi," ancam Fahri.
"Terserah! Gue gak peduli apapun tentang lo, Alfahri Budivian." Cia pergi ke rumah Fahri dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan.
"Eh, kok cepat sekali bermesraannya?" tanya Rianti dengan mulutnya yang agak comel dan bawel.
"Tanya anak tante sendiri. Maaf tante sebelumnya, lebih baik tante didik anak tante agar jangan kurang ajar dengan wanita." Cia tetap mencium punggung tangan Samuel dan Rianti.
"Ma, Pa ayo pulang," lanjut Cia sambil pergi meninggalkan rumah Fahri.
Sesampainya di rumah, Ronald dan Risma heran atas apa yang terjadi pada anaknya.
Cia menuju kamar dengan isak tangis. Risma pun menyusul Cia yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Risma pada anaknya yang sedang tiduran di kasurnya.
"Fahri tadi mau mencium aku, Ma. Dia bilang dia ingin sekali menjadi pacarku," jelas Cia lalu dipeluk oleh sang Mama.
"Astaga! Kurang ajar sekali itu anak. Mungkin karena pergaulan dia di sekolah sebelumnya, jadi dia merasa biasa saja melakukan hal yang kurang pantas," ujar Risma pada Cia dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
RYAN [END]
Roman pour AdolescentsSetelah sampai, Cia didudukkan dikursi lalu diikat dengan tali. Mulutnya ditutup oleh lakban. Ya! Cia disandera oleh Fahri dan Rachel. Ternyata mereka sudah merencanakan ini semua dengan mulus tanpa menimbulkan rasa curiga. Beberapa lama kemudian, C...
![RYAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/246302111-64-k102168.jpg)