11- Bertemu Bunda

67 17 26
                                        


Darren menghampiri kelas Dasha bersama Ronal. Leon lebih banyak menyendiri, seolah tidak mau bergabung lagi dengan mereka. Hal itu menciptakan tanda tanya besar di kepala murid murid lain. Biasanya ketiganya selalu bersama, namun akhir akhir ini mereka seperti terpecah.

"Dashaline Aresya!"

"Hadir"

"Alika Derlis"

"Ngga masuk"

Itu suara Bu Katrin yang tengah mengabsen, dibalas dengan suara Dasha.

Darren terdiam di depan jendela kelas Dasha. Ia memandangi gadis itu dari jauh. Darren dan Ronal bolos, itu sudah biasa.

Ia mengetuk jendela pelan, membuat siswi yang duduk di samping jendela itu menoleh. Matanya membulat melihat wajah tampan Darren, kemudian berdehem pelan hendak memanggil Dasha.
"Jangan" cegah Darren dengan suara pelan.

"Minta kertas" ujar Darren tanpa suara.

Siswi itu mengerti kemudian mengangguk dan menyobekan kertas lalu memberikannya pada Darren. Juga tak lupa memberikan bolpointnya.

Darren terlihat fokus menulis sementara siswi itu sibuk memandanginya. "Kasih ke Dasha, nanti" Darren menyerahkan kertas dan bolpoint itu lagi.

"D-dasha?"

"Ya dan hanya dia yang boleh baca. Sampai itu kertas jatuh ke tangan orang lain, Lo tau akibatnya nanti" ancam Darren kemudian menarik kerah Ronal untuk pergi sebelum tercyduk Bu Katrin.

Darren menghela nafasnya kasar. Ia bingung dengan diri dan perasaannya sendiri. Sudah beberapa kali ia temukan perasaan janggal. Perasaan yang membuatnya mengingat Dasha juga semua perbuatannya yang dilakukan pada gadis itu.

"Jadi Lo mulai cinta sama dia?" Pertanyaan Ronal sangat mewakili dirinya sendiri. Namun bukan Darren jika tidak mengelak, "Gak"

"Lo yakin?"

"Gue belum bisa yakinin hati gue sendiri, Ron"

Ronal turut menghela nafas kemudian menepuk nepuk bahu Darren. "Lo harus belajar dari sekarang. Ga usah berbuat kalau Lo masih takut. Lo bilang ga mau nyakitin cewek, tapi sekarang mana buktinya? Kalau gini Lo sama aja kayak bokap Lo"

"Gue ga nyak—"

"Lo emang ga nyakitin Dasha secara fisik, tapi Lo nyakitin perasaan dia. Jangan sia siain seseorang yang bertahan mati matian buat lo" 

"Gue susah mencintai dua hati" gumam Darren sangat pelan. Namun sayang Ronal masih dapat mendengar itu.

****

"Dari Darren" Neina meletakan kertas berisi tulisan Darren tadi diatas meja Dasha. Gadis itu masih menelungkupkan wajahnya dibawah lipatan tangan.

"Makasih" balas Dasha malas. Sesudahnya Neina meninggalkan meja Dasha.

Dasha menggumam pelan. Otaknya lemot sampai baru bisa memahami kata kata Neina. Ia mengangkat kepalanya lagi kemudian membuka kertas itu dengan segera.

Pulang sekolah kita jalan. Sorry, kmrn ninggalin Lo

-Darren

Dasha mengulas senyum tipis. Awalnya dia mau mencoba marah sehari saja, namun nyatanya ajakan Darren berhasil menggagalkan rencananya. Begitulah polosnya Dasha. Polos polos bego. Udah disakitin berkali kali juga tetep nurut.

"Pulang sekolah" gumamnya pelan sambil tersenyum kemudian menoleh ke kursi sebelahnya. "Andai Alika ada disini, pasti aku udah nyerocos ceritain semuanya ke dia”

POV (Hiatus)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang