Happy Reading!
Dasha berlari ke gerbang sekolah. Bahunya melesu saat mengetahui gerbang sudah ditutup.
"Pak bukain pintunya buat Dasha dong!" Teriak Dasha pada pak Rudy yang sudah terkantuk kantuk.
"Horotoyoh!" Latah pak Rudy sambil mengusap wajahnya, "Astagfirullah neng, ngagetin aja"
"Bukain pak" Melas Dasha sambil mencekal pagar.
"Bapak bukain tapi nengnya dihukum"
"Gapapa!" Ujar Dasha cepat.
Pak Rudy menoleh sebentar kearah pak Harry selaku guru pengawas yang tengah berjaga, kemudian membukakan pagar untuk Dasha.
Gadis itu tersenyum, "Makasih pak!" Pekiknya kemudian berlari.
"Heh! Mau kemana kamu?" Terlambat, kerahnya lebih dulu ditarik oleh pak Harry.
"Eh maaf pak, saya ga liat" Dasha menunduk takut, apalagi melihat kumis tebal milik pak Harry. "Bersihkan koridor ujung sebagai hukumannya, awas kamu kabur!"
Dasha menganggukkan kepalanya cepat, "Siap pak!"
Pagi ini menjadi pagi yang amat buruk baginya. Bukan hanya pagi, mungkin hari ini juga. Sudah telat, dihukum, ditambah lagi Darren tidak masuk.
***
Dasha mengusap keningnya yang dipenuhi keringat. Ia baru saja selesai melakukan hukuman.
Dasha meletakan pel yang ia gunakan di gudang belakang kemudian merapikan sedikit kardus kardus disana.
BLAMMM
Suara menggelegar itu membuat Dasha menoleh dengan cepat. Pintu gudang ditutup dengan keras.
Gadis itu panik seketika, ia berlari mencoba membuka pintu itu lagi, namun usahanya gagal. "SIAPAPUN YANG ADA DI LUAR, TOLONG BUKAIN PINTUNYA!" teriak Dasha kuat.
Sayang tak ada satu sahutan sama sekali.
Dasha tidak banyak berharap seperti adegan di novel, dimana si perempuan terkurung di gudang dengan tubuh lemas dan si laki laki datang menyelamatkan dengan wajah tegas nan dikilati amarah. Mana mungkin bisa? Darren saja tidak masuk sekolah.
Gadis itu merogoh saku, mengambil ponsel yang untungnya masih 100%. Pertama ia menelfon Alika, namun sayangnya tak diangkat. Kedua, ia bingung harus menelfon siapa.
Dasha terduduk, ia mencoba menggedor pintu kembali, berharap ada yang mendengarnya. Gadis itu membuka room chatnya dengan Darren, beberapa kali ia sudah menanyakan keberadaan Darren, bagaimana laki laki itu sekarang, sedang apa, dan bla bla bla.
Namun apa yang didapat? Nihil. Sepertinya ponsel Darren jarang aktif, maka itu ia jarang membalas chat Dasha.
Dasha menarik nafas, menghembuskannya kemudian mengulangi itu selama beberapa kali hingga berangsur tenang. Ia kembali berdiri, menyiapkan segenap tenaga untuk menggedor pintu besi ini.
"HEY SIAPAPUN YANG ADA DI LUAR, AKU MANUSIA! TOLONG BUKAIN PINTUNYA! AKU DASHALINE DARI KELAS 12 IPA 4, BUKAN KUNTILANAK PENUNGGU GUDANG!"
****
Di sisi lain, Serin baru saja selesai melakukan panggilan alamnya. Ia merapikan seragam sambil berjalan keluar dari toilet.
Gadis itu sempat tersentak kala mendengar suara bising dari arah gudang. Namun wajah datar tetap ia tunjukan.
Serin berjalan mengendap menuju gudang. Ia menghela nafas malas saat mengetahui siapa gadis yang tengah berteriak itu.
"TOLONG BUKAIN PINTUNYA PLIS!"
Serin mengarahkan tangannya berusaha membuka pintu gudang yang sayangnya sangat sulit. Namun bukan Serin bila menyerah begitu saja. Ia tetap mendorong pintu itu sekuat tenaga, hingga akhirnya terbuka.
"MAKASIH!" pekik seseorang langsung menghamburkan pelukan ke tubuh ramping Serin.
Dahi Serin mengernyit, "Lo kenapa bisa ada disini?"
Dasha melepaskan pelukannya, "Aku hanya mau naruh alat pel kesini, tapi pintunya ketutup. Mungkin kena angin"
"Mana ada" balas Serin dengan dengusan. Mana mungkin pintu besi yang cukup berat itu tertutup rapat hanya dengan tiupan angin?
"Serin, sekali lagi makasih.. Kamu ternyata baik" ujar Dasha dengan cengirannya. "Meski sering nempel sama Darren"
"Ck. Lebih waspada lain kali" ketus Serin kemudian membalik badannya, berjalan meninggalkan Dasha.
Secuek cueknya Serin, ia masih peduli dengan sekitar. Bahkan kini fikirannya berkecamuk karna Dasha. Ada yang sengaja menjahili gadis itu pastinya.
Serin terus memutar otak.. Hingga ia terdiam sejenak kala mengingat sesuatu. Maniknya menajam, ia harus memastikan hal ini.
****
"Beneran, tadi jantung aku hampir berhenti karna kekunci di gudang! Untung ada Serin" Dasha bercerita panjang, sementara Alika masih meletakan kepalanya diatas meja.
"Alika? Kamu denger aku?"
"Iya Sha.." balas Alika lemas.
"Kamu kenapa?" Tanya Dasha mulai khawatir.
"Gue rada pusing Sha" Alika mengangkat kepalanya, menampilkan wajah pucat gadis itu. Sontak Dasha langsung memegang dahi sahabatnya, "Ngga panas sih" gumam Dasha, "Tapi kita ke UKS aja"
Alika menggeleng, "Gue kayaknya pulang aja deh Sha. Pusing banget, takut ga kuat buat pelajaran"
"Oh oke" Dasha mengangguk kemudian membantu Alika membereskan barang barangnya.
"Aku izinin ke bu Atik ya? Kamu pulang aja langsung" ujar Dasha ketika mereka beranjak keluar dari kelas.
"Beneran gapapa?"
"Gapapa, Lika.. kamu udah ada yang jemput?" Alika mengangguk, "Bokap gue udah nunggu, emang dari pagi tadi gue rada ga vit"
"Oke, cepet sembuh Lika.. kalau masih belum kuat, besok ga usah masuk" Alika menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Sha.." panggil Alika saat Dasha hendak berbalik.
"Iya?"
"Kalau misalkan gue ga masuk selama beberapa hari ke depan, Lo hati hati di sekolah ya.. Jangan dengerin atau terpengaruh kata kata orang, terutama hati hati ke Serin. Oke?"
"Oke Lika" Dasha tersenyum lebar. Ini yang menjadikan Dasha nyaman bersahabat dengan Alika. Alika itu suka bercanda, baik, penasihat buat Dasha, selalu ada dan lain lain. Meski kadang Alika suka bolos.
Setelah Alika keluar dari gerbang, Dasha berbalik hendak melangkah. Namun arah langkahnya berubah, tubuhnya terhuyung ke kanan karna seseorang menariknya.
"Leon?" Gumam Dasha saat melihat Leon tepat di hadapannya.
"Ikut gue"
"Gamau, aku harus kasih izinnya Alika ke bu Atik" tolak Dasha berusaha menarik tangannya. Ia tidak mau Darren tau soal hal ini lagi, dan marah marah seperti waktu itu.
"Nanti gue yang urus"
"Ikut kemana?"
"Bolos"
"Tapi tas aku—"
"Biar Ronal yang ambil" potong Leon.
"Mau bolos kemana, Leon?"
Leon menghela nafasnya kasar kemudian melirik Dasha sekilas, "Adek gue sedih terus, dia butuh temen main. Gue harap hari ini Lo bisa nemenin dia"
****
Holaaa, kemarin libur 2 hari:')
Jadi kalian tim
#DashaLeon
Atau
#DashaDarren
Semangat vote dan komenn! Ayo ramein POV!
KAMU SEDANG MEMBACA
POV (Hiatus)
أدب المراهقين⚠️mengandung beberapa kata dan adegan kekerasan. [SEBAIKNYA FOLLOW SEBELUM MEMBACA!] Cinta terbentuk dari dua sudut pandang. Namun jika Dasha harus bertahan dengan sudut pandang Darren, ia akan melakukannya. Gadis polos itu terlanjur mengikat hati...
