Nineteen : He was scared

73 4 0
                                        

Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Hingga membawanya menuju salah satu ruko di salah satu kompleks ternama di Kota Jakarta. Mengatakan jika ia ingin meminta beberapa saran kepadanya. Seketika Ryanya bertanya-tanya dalam benaknya.

"Ruko? Untuk apa?" Artsya tidak menjawab. Ia pun mengajak Ryanya masuk ke dalam. Dan seketika Ryanya berdecak kagum melihat interior ruko tersebut.

"Lo mau buat tempat billiard?" Artsya mengangguk.

"Ya ampun! Keren banget!"

"Mau main?" tawar Artsya. Ryanya menganggukkan kepala cepat dan mengambil sebuah tongkat yang berada tidak jauh dari mereka. Menggosok-gosokkan chalk di bagian tip beberapa kali hingga bagian tip bewarna.

"Oke, kita main yang 9 bola, ya. Lo bisa mainnya?" Ryanya menggelengkan kepala. Jujur, ia belum pernah memainkan permainan ini sebelumnya. Ia pun hanya bisa menggosokkan chalk pada tongkat yang bahkan ia ketahui melalui film-film tontonannya.

"Oke, gue ajarin. Pegang tongkat di sebelah pinggul dengan tangan dominan lo, bungkukkan badan ke arah meja, buat bridge terbuka dengan tangan lo yang lain, pegang tongkat dengan mantap selagi 'membidik' bola target, arahin ke kumpulan bola itu. Nah, habis itu pegang tongkat dengan seimbang dan ... Pukul bolanya." Artsya memukul bola putih di hadapannya hingga bola-bola menyebar ke segala sudut meja.

"Sekarang, lo harus masukin bola-bola itu dari urutan kecil ke besar. Yaitu, dari 1 sampai ke-9. Paham?" Ryanya mengangguk.

"Kalo begitu, lo main dulu. Gue habis lo aja." Ryanya pun bersiap. Mengarahkan tongkatnya ke arah bola bewarna putih. Dan ....

"Gila! Lo sebenarnya udah pernah main apa belom sih? Sekali main langsung masuk 5," decak Artsya penuh rasa kagum memerhatikan cara bermain Ryanya. Belum sempat ia berganti pemain, Ryanya telah berhasil memasukkan 5 bola sekaligus.

"Nggak, baru pertama kali." Artsya menatap Ryanya mengintimidasi.

"Serius?"

"Iya, minggir! Gue mau main nih." Artsya memutar kedua bola mata malas. Dalam hati berharap agar bola milik Ryanya tidak mengenai target. Dan seakan Allah berpihak kepadanya, bola pun meleset dari target dan mengenai sisi meja. Artsya bersorak gembira. Menyuruh Ryanya menyingkir dan mulai mengambil ancang-ancang.

"Lihat, nih! Gue jamin keempat bola itu bakal masuk," ucap Artsya penuh percaya diri.

"Hm ... serah lo!"

Artsya melebarkan senyum. Dan mulai memasukkan bola-bola itu satu per satu.

"Btw, ruko lo kan belum selesai dibangun. Nah, tukangnya ke mana?" tanya Ryanya sembari berkeliling melihat-lihat ruko.

"Ya, liburlah. Lo kira yang bisa libur cuman kita aja apa?" sungut Artsya sembari menatap Ryanya. Ryanya berbalik, balas menatap Artsya.

"Ya kan gue cuman nanya." Artsya tak merespon dan kembali bermain.

Tiba-tiba ....

Listrik di ruko tersebut padam. Ryanya mengerjapkan mata terkejut seiring dengan suara tongkat yang terjatuh. Suara yang memekakkan telinga. Tentu, itu bukanlah suara tongkat miliknya. Akan tetapi ....

"Artsya?" panggil Ryanya pelan. Ia pun buru-buru mengcek tas ranselnya dan mencari senter kecil yang biasa ia bawa.

Kali ini, sudah ia pastikan jika benda berharga itu ada di dalam tasnya, setelah beberapa kali mengeceknya. Dan parahnya kejadian di Ruang Bawah Tanah kala itu adalah hasil perbuatan Aunty-nya. Ya, senter dan pisau lipat yang ia siapkan waktu itu justru diambil oleh Bi Fenny—asisten rumah tangganya—atas perintah Yuan, yang menyuruhnya untuk masuk tatkala Ryanya keluar mengisi botol minumnya di dapur. Sungguh, rencana yang tidak terduga.

SWI AGENCY (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang