Twenty Six : Shocking Fact

51 3 0
                                        

Tiga jam sebelum pertempuran besar terjadi ....

Di suatu malam yang teramat dingin, di sebuah markas tersembunyi, dua orang perempuan dan seorang lelaki tengah berbincang-bincang di ruang kedap suara. Membicarakan strategi sekaligus taktik mereka yang akan digunakan tengah malam nanti. Ya, waktu yang biasa mereka gunakan untuk menyerang.

Seperti biasa, di depan Ryanya dan Gybran, telah berdiri Yuan yang tampak serius memerhatikan layar hologram. Menyusun rencana yang sedikit demi sedikit tersusun di otaknya.

"Agen Hera? Anda sudah terus menerus melihat itu. Dan sampai sekarang, Anda belum mengatakan strateginya. Apakah menurut Agen Hera, ini adalah sesuatu yang susah?"

"Bukan susah lagi! Tapi, sangat tidak memungkinkan," jawab Yuan lesu. Membuat kedua nyali remaja di depannya menciut. Yuan yang sadar pun segera merubah rautnya.

"Tapi, tenang saja! Saya yakin kalian bisa. Bukannya kalian sudah pernah ke sana sebelumnya? Saya juga ada ruang bawah tanah yang saya temukan. Tepatnya di bawah markas mereka. Dan untuk jalan masuknya, ada di sini!" Tunjuk Yuan tepat pada sebuah ruangan yang berada di tengah-tengah markas. Menunjuk sebuah kayu yang tampak berbeda dari lainnya.

"Nah, sekarang, kalian tinggal menangkap dan mengurung semua pengawalnya saja di suatu tempat sampai Dragon Fire tidak memiliki pengawal lagi," jelas Yuan sembari menatap kedua remaja di depannya.

"Oh, ya, jika kalian bertemu Demon Master, janganlah kalian gegabah! Kalian lebih baik bekerja sama untuk kabur bersama dari Dragon Fire saja. Pokoknya, hindari saja dia!"

"Tapi, kenapa Agen Hera?" Yuan hanya mengulas senyum. "Persiapkan diri kalian saja! Oh ya, jangan lupa bawa tasmu lagi, Phoenix! Kalau tidak mau terkena cambuk," peringat Yuan.

Gybran mendengus. Memutar kedua bola matanya malas.

"Iya, Agen Hera. Saya mengerti." Mereka pun beranjak dari saja menuju sebuah pintu yang berada di ruangan tersebut.

Lampu menyala. Memampilkan ratusan atau bahkan jutaan lebih persenjataan yang selama ini dimiliki oleh SWI AGENCY dari beberapa tahun lalu. Bahkan, senjata Leon dan Angel masih tersimpan rapi di sana. Dan kerap kali mereka gunakan jika memang ada misi yang mengharuskan untuk menggunakannya. Dan ya, senjata mereka telah dimodifikasi. Mengingat umur senjata itu yang telah berusia berabad-abad lamanya.

Dirasa sudah siap, mereka pun keluar dari ruang persenjataan kembali menemui Yuan. Berpamitan sekaligus meminta doa. Agar misi mereka kali ini berhasil dan bisa kembali dengan keadaan selamat di bawah perlindungan Allah.

"Oke, seperti biasa. Sebelum menjalankan misi, kita berdoa dulu. Berdoa, dimulai!" Ryanya, Gybran, dan Yuan menundukkan kepala sejenak. Berdoa di dalam hati seperti yang biasa mereka lakukan sekaligus sudah menjadi aturan turun temurun mereka setiap hendak menjalankan misi.

"Selesai!" Mereka mengangkat kepala serempak.

"Oke, semoga sukses! Ingat! Setelah menangkap Dragon Fire, bawa dia ke markas! Jangan biarkan dia kabur lagi. Ingat?!"

"Ingat, Agen Hera!" Yuan mengulas senyum. Berjalan menghampiri sang putra dan mengelus kepalanya lembut seraya membenarkan ikat kepalanya.

"Jaga dirimu baik-baik! Jangan repotkan sepupumu."

"Ih, bukan Gygy Ma yang ngrepotin. Tapi, Anya."

"Heh! Enak aja!"

Yuan memerhatikan keponakan dan anaknya yang tengah tertawa serta saling memukul itu dengan senyum terulas tipis. Tanpa ia sadari, air matanya pun menetes di sudut matanya. Pada akhirnya, ia tidak ingin kejadian ini segera terjadi. Namun, bagaimana lagi! Cepat atau lambat, mereka harus tahu akan fakta sebenarnya. Ya, inilah waktunya!

SWI AGENCY (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang