15. Dilukai si Telapak Api

297 19 5
                                        


Setelah pengalaman bentrokan dengan jago-jago Topeng Tengkorak Putih, rombongan Ciu Hay dan Saka Deva kemudian melanjutkan perjalanan tapi kali ini dengan penuh waspada. Mereka sadar bahwa kini mereka sudah memiliki musuh dan kapanpun akan menemui serangan bahaya. Maka itu mereka pun berlaku hati-hati dengan berusaha mencari keterangan tentang Kelompok Topeng Tengkorak Putih selama perjalanan. Walau ternyata sangat sulit, tapi akhirnya mereka bisa juga mendapatkan sedikit petunjuk dari orang-orang persilatan yang mereka temui selama perjalanan bahwa kelompok Topeng Tengkorak merupakan kelompok misterius yang muncul dua tahun belakangan ini tapi identitas mereka benar-benar tidak diketahui seorangpun. Dan hebatnya, dalam aksinya kelompok manusia bertopeng ini telah berhasil menghancurkan beberapa perguruan silat terkenal dan membunuh tokoh-tokoh silat ternama di negeri ini.

Hal inilah yang membuat kelimanya kemudian sepakat untuk sementara waktu rombongan mereka tidak akan berpisah sampai tujuan masing-masing tercapai. Tentu saja hal ini membuat Mei Lan dan Sagita Devi yang sudah sangat akrab jadi gembira. Dua orang gadis ini memang sudah merasa cocok satu sama lain. Bun Tan sendiri dalam hati diam-diam merasa bersyukur karena sebenarnya pemuda ini mulai tertarik pada Sagita Devi. Gadis Himalaya yang cantik dan anggun itu memang mempunyai daya tarik luar biasa. Walau jarang bicara tapi senyumannya akan membuat setiap laki-laki berdebar jatuh cinta.

Begitulah lima orang asing ini tetap melakukan pengembaraan bersama. Dan suatu hari ketika mereka sedang beristirahat di suatu tempat yang teduh dan baru saja selesai bersantap dari ujung jalan muncul berjalan seorang laki-laki tua mengenakan topi jerami kering dan langkahnya dibantu sebatang tongkat yang diketukan ke tanah. Lima orang pendekar asing ini sama-sama memandang ke arah kakek itu yang makin lama makin mendekat malah sengaja menghampiri rombongan Ciu Hay.

Si kakek sekarang sudah berdiri di dekat kelima orang pendekar itu yang juga sedang memandang si kakek penuh perhatian. Pakaian yang dikenakannya begitu sederhana, banyak robekan dimana-mana. Wajahnya penuh keriput dengan sepasang mata terus terpejam tapi bibirnya mengembangkan senyum bersahabat. Sebatang tongkat bambu sepanjang satu meter dipegangnya menopang tubuh rentanya. Sepertinya kakek ini seorang pengemis. Setelah batuk-batuk terdengar si kakek yang mengenakan baju butut banyak robekan ini berkata.

"Orang-orang muda gagah, bolehkan aku yang tua ini meminta air minum?"

Walau heran dengan keadaan si kakek ditempat itu dengan mata terpejam dan mendadak meminta air minum, tapi seorangpun belum ada yang berani keluarkan suara. Sagita Devi yang saat itu sedang memegang kantong kulit air tanpa banyak bicara langsung berdiri dan menyerahkan kantong kulitnya. Bun Tan sebenarnya mau mencegah tapi terlambat. Si kakek menerimanya dan setelah tersenyum sebagai tanda ucapan terimakasih langsung meneguknya sampai habis.

"Ah, betapa segarnya air ini. Terimakasih gadis asing." Si kakek berucap masih memajamkan mata lalu menyerahkan kembali kantong kulit air yang sudah kosong itu pada Sagita Devi. Gadis cantik ini anggukkan kepala dan tersenyum ramah.

"kalau kau suka, mari silahkan duduk. Kami masih ada sisa bekal makanan. Pasti kau lapar." Kini giliran Ciu Hay yang keluarkan ucapan sambil kemudian pemuda ini berdiri dan mempersilahkan si kakek.

Si kakek berpaling ke arah Ciu Hay. Bibirnya kembali mengulas senyum lebar dan anggukkan kepala.

"Aku memang sudah beberapa hari belum makan. Berhari-hari mengemis tapi tidak membuahkan hasil. Malah caci maki yang kuterima. Baiklah, aku mau makan apa saja yang kalian berikan."

Mei Lan dan Sagita Devi tanpa diminta segera mengeluarkan sisa makanan mereka lalu disuguhkan di depan si kakek yang sudah duduk.

"Kalian anak-anak baik. Semoga dewa memberikan berkahnya." Kata si kakek dan tanpa menunggu lagi langsung melahap makanan yang diberikan dua gadis itu. Lima orang itu hanya duduk memperhatikan saja. Dalam waktu singkat semua makanan itu sudah dilahap habis. Mei Lan memberikan air minumnya yang langsung ditenggak habis.

Geger ParahiyanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang