70. Bertemu di Puncak Gunung Salak

465 45 24
                                        

Bau wangi harum tercium memasuki penciuman Tirta saat sosok itu memeluknya dan menahan tubuhnya sebelum jatuh. Satu raut wajah cantik jelita yang biasanya selalu tertutup cadar tapi kini kain merah itu telah dilepas muncul di depannya, dihiasai sepasang mata bening bagus yang tengah memandanginya penuh rasa khawatir. Senyum menyeruak di bibir Tirta saat pandangi wajah cantik ini.

"Wulan," Tirta memanggil pelan. 

Bibir merah Bidadari Kilat Merah membalas dengan mengulas senyum manis tapi wajah cantik bagai purnama itu dipenuhi rasa khawatir melihat keadaan Tirta yang tidak terluka. Gadis ini mengusap rambut dan kepala Tirta penuh rasa sayang. Mata Tirta terlihat sayu dan bibirnya berlepotan penuh darah. Tapi pandangan mata anak muda ini begitu lembut menelusuri seluruh wajah Wulan Sari.

"Apakah aku kalah dari Datuk Neraka?"Tanya Tirta pada Bidadari Kilat Merah.

Wulan Sari atau Bidadari Kilat Merah menggigit  bibirnya berusaha untuk menahan isak tangis melihat keadaan sang kekasih tapi bibir gadis ini masih memaksa untuk tersenyum. 

"Tidak!"Wulan Sari gelengkan kepala dan tersenyum," Kau menang, Tirta. Kau berhasil membunuh Datuk Neraka. Rima persilatan kini akan kembali aman."

"Syukurlah! Aku sekarang bisa istirahat kalau begitu,"Ucap Tirta dengan wajah terlihat lega kemudian terbatuk-batuk.

"Beristirahatlah, Tirta. Aku disini akan menjagamu!"Kata Wulan Sari lembut dan mengusap kening Tirta. Tirta tersenyum anggukkan kepala.

Mendadak senyum manis Wulan Sari berubah jadi jeritan kaget saat kemudian sepasang mata Tirta tiba-tiba terpejam, kepala terkulai dan tubuh anak muda ini menggelosoh di dalam pelukan Wulan Sari atau Bidadari Kilat Merah.

"Tirta, kau tidak apa-apa? Buka matamu! Tirta!"Pekik Wulan Sari panik dan gadis ini menggoyang-goyang bahu Tirta. Tapi mata Tirta tetap terpejam dan tidak bergerak sama sekali. Bidadari Kilat Merah berdebar terlihat memucat wajahnya, tubuh gadis cantik ini bergetar saking panik ketakutan dengan keadaan Tirta.

Dalam keadaan begitu tiga bayangan berkelebat datang ke arah dua orang ini. Ternyata Pandan Arum, Sagita Devi dan Mintari datang menyusul. Ketiga gadis cantik yang sama-sama khawatir demi mendengar jeritan Bidadari Kilat Merah tadi langsung ikut mengerubungi Tirta yang tergeletak tak bergerak dalam pelukan Bidadari Kilat Merah.

"Kakang Tirta!" Panggil mereka secara berbarengan dengan nada penuh khawatir dan wajah ketiganya sama-sama pucat terkejut melihat Tirta terkulai di dalam pelukan Wulan Sari.

Beberapa orang tokoh jawara segera datang menghampiri. Ki Bergawa orang yang pertama tiba dan kakek ini segera memeriksa keadaan Tirta. 

"Dia hanya pingsan akibat luka dalam. Tapi lukanya cukup parah!"Ucap Ki Bergawa pelan setelah memeriksa keadaan sang murid. Kakek ini terdengar menghela nafas. Mendengar itu empat orang gadis semakin berubah paras mereka.

Nyi Ayu Kinasih sudah hendak berseru memanggil dua orang tabib yang sedang menunggui si Jari Maut. Tabi Ki Bergawa segera menahannya dan berkata pada si Selendang Maut.

"Keadaan si Jari Maut lebih membutuhkan mereka. Biarlah muridku diobati di tempat lain."

"Kalau begitu kita harus segera membawanya ke pondok di Gunung Gede untuk mengobatinya."Ki Winangun yang juga paman guru Tirta begitu mendengar ucapan Ki Bergawa keluarkan ucapan memberi saran.

"Tidak! si Tirta tidak akan dibawa ke Gunung Gede! Aku akan membawanya ke Gunung Salak." Bantah Ki Bergawa tiba-tiba. Banyak orang yang menjadi keheranan mendengar ucapan kakek sakti ini. Mereka saling pandang tidak mengerti, dan bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Tirta yang sedang terluka dalam parah mesti dibawa ke gunung Salak yang jelas jaraknya lebih jauh? Ada siapakah di sana? 

Geger ParahiyanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang