Tirta segera menolak secara halus saat kedua orang tua Surtini meminta Tirta untuk bermalam di rumah mereka karena bermaksud hendak menjamunya sebaik mungkin. Pemuda ini beralasan perjalanannya masih jauh dan harus segera pergi. Sebenarnya Tirta merasa tidak nyaman berada lama-lama di rumah orang tua Surtini. Entahlah, hanya saja selain perasaan kikuk dengan sikaf dan perlakuan tuan rumah yang dinilainya berlebihan dan dibuat-buat. Mengucapkan terimakasih sampai puluhan kali dan memuji-muji Tirta setinggi langit sebagai pemuda berilmu, berwajah gagah yang bisa mudah mendapatkan gadis manapun untuk dijadikan isteri. Pun Tirta dibuat merasa jengah dengan sikaf Surtini yang jelas sekali dari cara memandangnya dan senyum manisnya sengaja memperlihatkan rasa sukanya tanpa ditutupi.
Maka setelah berbicang beberapa lamanya dengan tuan rumah yang terlalu ramah itu Tirta pun berpamitan dan pergi meninggalkan dusun tersebut diantar dengan pandangan kecewa gadis bernama Suntini yang sepertinya tidak rela pemuda tuan penolongnya itu pergi cepat.
Baru beberapa lama meninggalkan dusun Tirta mendengar seseorang berteriak memanggil-manggilnya, dan melihat seorang laki-laki setengah baya berlari menyusulnya.
"Raden! Tunggu!"
"Paman memanggil saya?"Tanya Tirta dengan heran karena merasa tidak mengenal laki-laki setengah baya bertubuh gemuk ini. Orang ini angukkan kepala dan setelah mengatur nafasnya yang memburu barulah laki-laki ini berkata.
"Saya ayahnya Marni, gadis yang Raden tolong tadi siang."
"Ooh, ayahnya dik Marni." Tirta anggukkan kepala dan tersenyum ramah menjabat tangan laki-laki itu.
"Maap Raden, tapi kenapa hendak pergi buru-buru? Raden belum singgah di rumah kami. Marni dan ibunya sudah menyiapkan masakan alakadarnya untuk menyambut Raden. Marilah Raden!"
Tirta jadi usap-usap hidungnya bingung mendengar ajakan orang ini. Dirinya sedang buru-buru tapi juga tidak enak untuk menolak begitu saja.
"Terimakasih tawarannya, paman. Bukan menolak kebaikan bapak dan keluarga tapi saya memang sedang buru-buru."Ucap Tirta menolak sehalus mungkin. Ayah Marni gelengkan kepala dengan wajah sedih.
"Raden tuan penolong anak gadis kami. Biarlah kami menyampaikan rasa terimakasih walau hanya sekedar mengajak mampir di gubuk kami yang sederhana. Kami memang orang miskin, tapi kami ini orang yang masih tahu diri adat kesopanan yang tidak akan melupakan kebaikan orang lain. Budi Raden menolong anak saya sangat tidak terhingga. Hutang Budi dibawa mati. Marilah Raden mampir sebentar, saya mohon jangan menolak."
Tirta jadi tidak enak juga mendengar ucapan ayah Marni. Maka dengan setengah hati Tirtapun mengikuti ayah Marni yang tangannya setengah ditarik paksa oleh laki-laki ini. Tidak beberapa kemudian keduanya tiba di sebuah rumah kayu sederhana yang disekitarnya banyak tumbuh pepohonan berdaun rimbun.
Walau rumah orang tua Marni ini sederhana tapi terlihat asri. Di halaman rumah ditumbuhi berbagai tanaman bunga dan rempah-rempah yang ditata rapi. Dikelilingi pagar bambu yang dikapur putih.
Dua orang perempuan berdiri di ambang pintu rumah menyambut kedatangan keduanya. Seorang perempuan setengah baya yang dipastikan isteri ayah Marni dan satu lagi Marni sendiri. Gadis ini sudah berganti pakaian. Mengenakan kain kebaya kuning cerah dengan rambutnya yang panjang hitam dibiarkan tergerai lepas. Gadis ini kelihatan makin cantik dan ayu. Dan seperti sebelumnya, Marni hanya tersenyum manis menyambut kedatangan Tirta yang datang bersama ayahnya itu lalu Marni kembali menunduk kemalu-maluan. Tapi sekilas ekor matanya mengerling ke arah si pemuda.
Betapa Tirta disambut dengan ramah dan ucapan terimakasih dari sang ibu hingga berkali-kali dengan sepasang mata basah. Tirta sampai merasa kikuk dengan sambutan dan perlakuan kedua orang tua Marni yang luar biasa itu. Tapi bisa dilihat keramahan mereka sangat alami, tidak dibuat-buat beda sekali dengan keluarga Surtini sebelumnya. Ki Suparna, ayah Marni ternyata orang yang suka berbicara, supel dan jenaka. Isterinya setail tiga uang. Perempuan setengah baya ini sangat ramah dan murah senyum. Tanpa sadar Tirta pun terbawa keakraban tuan rumah. Sambil makan minum mereka ngobrol sampai Tirta tidak sadar hari sudah petang saking betahnya ditemani ngobrol oleh tuan rumah. Tirta terkejut ketika melihat hari sudah mulai gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Geger Parahiyangan
FantasíaSeorang tokoh silat ahli meramal mendapatkan sebuah petunjuk gaib bahwa rimba persilatan Tatar Pasundan akan mengalami kekacauan yang diakibatkan oleh sekelompok manusia misterius yang menamakan diri mereka Topeng Tengkorak Putih yang terdiri dari j...
