32. Bertemu Kembali

322 27 9
                                        

Pemuda yang baru muncul dan menolong Mintari ini ternyata memang benar Tirta adanya. Mendengar namanya disebut segera menoleh ke arah Mintari, tersenyum ke arah gadis itu lalu melompat menghampiri Mintari. Tapi pemuda ini segera menyadari keadaan tubuh Mintari yang terbuka, wajahnya mendadak memerah. Tirta palingkan muka. Dari buntalannya pemuda ini buru-buru keluarkan sehelai baju warna biru dan segera dilemparkan pada Mintari disertai ucapan.

"Kau pakailah baju ini!"

Mintari sendiri seperti baru menyadari keadaannya. Dengan muka merah karena jengah gadis ini menerima baju yang diberikan Tirta lalu dengan cepat balikan badan dan mengenakan baju dari Tirta untuk menutupi tubuhnya hingga menutupi lutut. Dalam hati gadis ini sangat bersyukur kedatangan Tirta tepat pada waktunya. Sudah dua kali pemuda ini menolongnya. Gadis ini balikan badan dan hendak mengucapkan terimakasih tapi dilihatnya Tirta sudah maju mendekat ke arah si Setan Cakar Neraka.

Munculnya Tirta yang tiba-tiba, menolong Mintari sekaligus membunuh dua orang Topeng Tengkorak membuat situasi berubah. Si Telapak Api yang sedang bertarung dengan Ki Antasena segera menarik serangannya, lalu melompat ke dekat si Setan Cakar Neraka dan si Kaki Iblis. Matanya pandangi Tirta dari bawah sampai atas penuh rasa terkejut keheranan karena masih mengenali pemuda ini.

"Heh! Bukan kah kau pemuda yang dulu hampir mati kubunuh kalau tidak ditolong Bidadari Kilat Merah?" si Telapak Api memandangi Tirta dengan wajah jelas terkejut.

"Benar! Aku orang yang dulu pernah dipukul hampir mati ditanganmu." Jawab Tirta tegas dan balas menatap si Telapak Api tajam. Masih teringat perlakuan si Telapak Api yang menyiksanya setengah mati membuat Tirta merasa dendam.

Si Telapak Api benar-benar terpana tidak percaya. Pemuda ini memang jelas yang dulu pernah dipukulinya hingga hampir mati, tapi melihat kemunculannya tadi dengan satu pukulan sakti yang membuat dua orang Topeng Tengkorak tewas membuatnya hampir tidak percaya. Pemuda yang dulu dikira sama sekali lemah tidak mengerti ilmu silat mengapa kini muncul dengan segala kegagahannya.

"Sungguh kebetulan! Aku memang sedang mencarimu, Telapak Api. Ingin mengembalikan bekas tanganmu dulu beserta dengan bunganya." Ucap Tirta tajam dengan sepasang mata berkilat tajam.

Ki Antasena yang sebelumnya ditinggalkan oleh lawannya segera menghampiri Mintari dan ajukan pertanyaan. "Siapa pemuda itu, muridku?"

"Dialah pemuda yang pernah kucertakan padamu dulu, guru. Orang yang pernah menolongku."Jawab Mintari tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Tirta. Ki Antasena memperhatikan ke arah Tirta dengan penuh perhatian.

"Hmm. Tidak kusangka orangnya masih semuda ini, tapi sudah memiliki tenaga dalam lumayan."

Mintari tidak menanggapi ucapan sang guru karena seluruh perhatiannya seperti tersedot ke arah sosok Tirta. Kedua tangan memegang kancing baju pemberian pemuda itu.

Dengan kemunculan pemuda ini yang secara mendadak, tanpa disadari pula telah menghentikan semua pertarungan. Tiga orang jago segera menggunakan kesempatan ini untuk mengurusi kawan-kawannya yang tewas dan terluka parah dibawa ke pinggir. Sedangkan tiga orang Topeng Tengkorak yang masih hidup segera berdiri di belakang si Telapak Api dan Setan Cakar Neraka dengan sikaf siaga.

Mendengar ucapan Tirta barusan si Telapak Api sesaat terpana. Tapi kemudian laki-laki ini semburkan tawa geli dan geleng-gelengkan kepala.

"Kasihan sekali!"Kata si Telapak Api disela tawanya," Hanya karena bisa membunuh dua orang anak buahku dari tingkat dua kau sudah berani berkoar menantang aku. Sungguh lucu!"

Tirta tidak menanggapi ejekan si Telapak Api. Anak muda ini malah dengan tenang melepaskan buntalan kainnya dari punggung, melemparkannya ke tanah dimana Mintari dan Ki Antasena berdiri seperti isyarat pada si gadis untuk menjaganya. Mintari segera memungut buntalan kain itu. Begitu buntalan kainnya terlepas dari tubuh, mendadak Tirta berkelebat kirimkan satu jotosan ke arah si Telapak Api. Gerakannya begitu ringan dan cepat. Kalau saja si Telapak Api bukan seorang jago berpengalaman dan berilmu tinggi maka tinju Tirta sudah pasti mengenainya.

Geger ParahiyanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang