64. Orang-orang Misterius

328 26 7
                                        


Di depannya, di dekat semak belukar  seorang kakek bertubuh gemuk luar biasa, berpakaian putih kumal dengan rambut beruban jabrik acak-acakan sedang tengkurap di tanah berumput. Wajahnya bulat merah berpipi gemuk. Yang membuat Marni bengong keheranan karena melihat kakek gendut itu tengkurap sambil sedang kepayahan memegangi empat ekor kelinci sekaligus dengan empat anggota badannya. Dua kelinci gemuk di pegang dua lengan kiri kanan, kaki kiri kanan menginjak kelinci lain pula yang bergerak-gerak berusaha melepaskan diri.

"Orang tua! Apa yang sedang kau lakukan?"Tanya Marni dengan keheranan sekaligus menahan senyum geli melihat keadaan kakek aneh itu.

"Jangan bertanya dulu, anak gadis! Kau bantulah aku pegangi binatang-binatang ini. Mereka hampir kabur."

Si Kakek bukannya menjawab malah berkata dengan nada mengomel ke arah Marni yang si gadis melengak kaget diomeli tiba-tiba oleh seorang kakek tidak dikenal. kakek ini sepertinya orang gila, pikir si gadis sedikit jengkel!

"Hei, anak gadis! Jangan diam saja. Cepat kau bantu aku pegangi kelinci-kelinci ini. Aku sudah susah menangkap binatang ini untuk santapan pagi. Cepaat, aku sudah tidak tahan!"

Si kakek kembali berkata ke arahnya dengan muka berubah memelas. Mau tidak mau walau dengan perasaan tidak mengerti dan ragu akhirnya Marni maju dan mengambil dua ekor kelinci di kaki si kakek. Begitu dua kelinci di kakinya terlepas, kakek berambut jabrik ini segera bangkit, dua kelinci di kedua tangannya segera diikat disatukan. Begitu selesai kakek ini kemudian lari terbirit-birit ke balik sebuah pohon besar. Tidak lama kemudian terdengar suara riuh rendah air mengucur. Rupanya kakek gendut itu sedang buang air kecil! 

Marni dibuat tercengang, geleng-geleng kepala tapi palingkan muka ke arah lain, dan gadis ini tidak mampu menahan senyum gelinya. Bahunya tersentak-sentak menahan suara cekikikan. Sepertinya si kakek sudah kebelet menahan kencingnya sejak lama, tapi tidak mau melepaskan semua binatang tangkapannya itu. 

Kakek jabrik itu sudah muncul kembali dari balik pohon, dan sambil tertawa lebar ke arah Marni kakek ini berkata ramah.

"Untung kau datang tepat waktu! Kalau tidak, aku bisa ngompol di celana, hehehe!"

Marni memerah wajahnya mendengar kata-kata si kakek yang tidak tahu malu ini. Segera kelinci-kelinci itu diserahkan kembali kepada kakek jabrik ini.

"Karena sekarang kakek sudah selesai buang hajat, sepertinya kau bisa mengurus binatang-binatang ini sendirian. Aku mohon diri hendak melanjutkan perjalanan." Marni yang memang tidak mau berlama-lama dengan kakek yang diduganya kurang waras ini segera berpamitan dan hendak balikan badan. Tapi kakek gendut jabrik itu segera menahannya malah menghadang di depan Marni.

"Eh, anak gadis, anak cantik! Bagaimana kau bisa pergi begitu saja setelah membantuku. Kau bisa tinggal dulu disini sampai kelinci ini matang dipanggang. Kita bisa sarapan sama-sama. Lima ekor kelinci ini terlalu banyak kalau kuhabiskan sendiri. Aku yakin kau sendiri belum sarapan, iya kan?"

Berkata begitu si kakek acungkan empat ekor kelinci itu di hadapan si gadis. Marni melihat kelinci-kelinci itu yang ternyata besar dan gemuk lalu menatap wajah bulat kemerahan si kakek yang tersenyum dengan mimik memohon. Wajah yang sungguh memelas.

"Apakah selain mengundang makan kaupun memintaku untuk memanggangnya juga, kek?"Tanya Marni dengan miringkan kepala curiga.

Si kakek tersenyum lebar dan tersipu tapi masih berkata pula merayu.

"kalau menolong itu jangan tanggung. Aku ini seorang tua renta. Sewajarnya minta tolong pada orang muda yang masih bertenaga. Aku mana bisa memanggang kelinci begini banyak seorang diri. Dan sudah pasti kau lebih pintar mengolahnya dibandingkan aku laki-laki tua ini."

Geger ParahiyanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang