9 Mulai Menghadapi Musuh Bebuyutan

335 17 1
                                        

Semalaman Tirta melakukan pengejaran pada dua orang musuhnya yang melarikan diri. Tapi sampai pagi dirinya melakukan pencarian sosok Handaka dan si Pisau Terbang Beracun tidak diketemukannya. Akhirnya atas saran Ananta yang terus mendampinginya mereka beristirahat di pinggir sebuah sungai kecil di lereng bukit. Tirta duduk terdiam dengan kepala dan pandangan lurus ke depan. Pandangan kosong. Wajah Tirta terlihat jengkel. Wajar saja, semalam kalau tidak ada campur tangan si Pisau Terbang yang menyelamatkan muri keponakannya mungkin dirinya sudah bisa menagkap Handaka, murid si Tangan Gledek musuh besar yang sedang dicarinya.

Ananta bisa memaklumi perasaan sahabatnya. Oleh karena itu pemuda berwajah halus tampan ini tidak banyak mengeluarkan suara. Hanya duduk ikut diam di samping Tirta.

"Entah kemana aku harus mencari musuh-musuhku?"Tanpa sadar Tirta keluarkan suara bergumam. Ananta berpaling dan pandnagannya bertemu dengan siluet wajah Tirta dari samping yang masih memandang ke depan. Beberapa lamanya Ananta menatap lekat-lekat siluet wajah Tirta walau akhirnya palingkan wajahnya dengan muka memerah.

"Mungkin kita perlu turun ke perkampungan untuk bertanya ke orang-orang. Mungkin ada yang pernah melihat dua orang itu."Ucap Ananta memberi saran.

Di kejauhan sebelah barat memang terlihat sebuah perkampungan. Tanpa banyak bicara dua orang pemuda ini meninggalkan tempat istiahat mereka menuju perkampungan yang terlihat dari kejauhan. Tanpa kesulitan mereka bisa menemukan sebuah warung makanan. Maka sambil mengisi perut Tirta dibantu Ananta bertanya perihal dua orang pada pemilik warung. Mungkin ada seorang pemuda dan laki-laki setengah baya yang mampir atau lewat ke kampung tersebut. Tapi dua orang pemuda ini harus kecewa. Tdak seorangpun yang mengaku melihat dua orang dengan ciri-ciri tersebut. Maka selesai membayar makanan keduanya segera meninggalkan kampung itu.

Saat berjalan keluar perkampungan Tirta merasakan perjalanan mereka ada yang membuntuti. Sambil berjongkok pura-pura membetulkan lipatan celananya, Tirta berkata ke arah Ananta,

"Ada yang menguntit perjalanan kita, Ananta."

"Aku tahu, kakang. Sejak kita meninggalkan kampung. Sekitar lima orang berada di kiri belakang kita. Dua diantaranya memiliki kepandaian tinggi. Langkah kakinya sangat halus." Sahut Ananta dengan sikap tenang. Tirta kerutkan kening karena terkejut. Rupanya sahabatnya ini sudah lebih dulu menyadarinya. Jelas bahwa ketajaman pendengaran Ananta berada diatas kemampuannya.

"Kita akan memancingnya supaya keluar. Aku ingin tahu siapa dan maksud apa mereka membuntuti kita." Ucap Ananta pula lalu tanpa Tirta duga Ananta cepat balikan badan dan hantamkan tangan kanan ke arah semak belukar di sebelah kanannya.

Wushh. Brakk!!

Semak belukar itu hancur menjadi serpihan kecil dihantam pukulan Ananta. Saat itu juga lima bayangan berlompatan keluar dari balik semak belukar. Lima orang laki-laki kini sudah berdiri mengurung Tirta dan Ananta. Laki-laki paling depan mengenakan pakaian serba hitam. Dipinggangnya tersisip puluhan pisau bermata dua yang berwarna kehijauan. Jelas pisau-pisau beracun. Dari awal Tirta langsung mengenali orang ini dan membuat pelipis pemuda ini bergerak-gerak penuh geram. Si Pisau Terbang Beracun!

Di sebelah si pisau terbang berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek gempal mengenakan baju putih dan celana hitam. Di pinggangya terselip dua buah golok tanpa sarung. Sedangkan tiga orang lainnya laki-laki yang sama-sama mengenakan pakaian hitam membekal sarung yang diikat dipinggangnya dan bersenjatakan tombak hitam panjang.

"Kalian tidak akan bisa melanjutkan langkah karena akan menerima hukuman dari kami berlima."

Si Pisau Terbang langsung keluarkan ucapan keras pada Tirta dan Ananta yang berdiri memperhatikan mereka.

"Hati-hati, kakang. Orang yang membekal banyak pisau inilah yang bergelar si Pisau Terbang. Dan laki-laki yang satunya lagi kalau tidak salah bergelar si Golok Kembar. Dua orang ini yang harus diwaspadai. Sedangkan tiga orang lainnya tidak terlalu berbahaya. Mereka adalah rampok-ramppok ganas yang digelari Tiga Tombak Hitam."

Geger ParahiyanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang