3 Pertemuan Pertama

477 20 3
                                        

Bidadari Kilat Merah

Suatu siang hari Tirta tiba di luar perkampungan dan melewati sebuah areal pesawahan yang tampak menghijau menyegarkan mata di hadapannya. Karena merasa lapar maka pemuda ini memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dipilihnya sebuah tanah berumput di bawah sebuah rumpun bambu. Bekalnya yang masih terisa berupa sepotong ubi rebus segera dilahapnya. Selesai menghabiskan bekalnya itu Tirta malah jadi kebingungan karena ingat bahwa tidak ada air minum sedikitpun. Maka sambil membawa buntalannya, murid mendiang Ki Ageng Saketi ini berjalan mencari sumber air.

Di depannya, anak muda ini melihat sebuah kali kecil dangkal. Dengan rasa gembira segera Tirta berlari ke sana dan begitu sampai langsung saja anak muda ini berjongkok. Tapi ketika hendak menciduk air kali yang jernih itu dengan kedua telapak tangan, telinganya mendengar suara tawa perempuan di sebelah kirinya. Tawa kecil tertahan mirip orang kegelian. Tentu saja anak muda ini penasaran dan timbul harapannya, mudah-mudahan perempuan yang terdengar suara tawanya ini adalah petani yang sedang menggarap ladang atau sawah di sekitar situ dan pasti mempunyai air minum. Kalau benar, alangkah lebih baiknya daripada minum air mentah dari kali. Tirta hendak meminta barang beberapa tegukan.

Buru-buru Tirta berdiri dan berjalan ke arah suara tawa tadi. Tapi alangkah terkejutnya anak muda ini ketika menyibak semak belukar yang menghalangi jalannya. Anak muda ini jadi tertegun berdiri bagai arca. Buru-buru Tirta membalikan tubuh dengan wajah memerah dan menyelinap ke balik semak belukar sambil memaki pendek.

"Dasar manusia-manusia tidak tahu malu."

Sebenarnya apa yang dilihat Tirta hingga membuat jantung anak muda ini berdebar hebat?

Ternyata di balik semak belukar yang tadi dilihatnya, diatas sebuah batu besar yang berpermukaan rata Tirta melihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang berciuman dengan mesranya. Dan tanpa menyadari kehadiran Tirta, si laki-laki kini kemudian mendorong perempuan itu berbaring di atas permukaan batu rata dan menindih perempuan itu. Yang membuat Tirta jadi memerah wajahnya dan cepat-cepat menghindar ke balik semak belukar karena si laki-laki kemudian mulai membukai kebaya perempuan muda itu hingga tidak lama kemudian sudah dalam keadaan bugil. Di balik persembunyiannya Tirta masih bisa mendengar ucapan-ucapan kedua orang ini.

"Kakang, cepatlah! Aku takut nanti ada orang yang melihat perbuatan kita."Itu adalah suara perempuan.

"Apa yang kau takutkan, Narmi? Tempat ini kalau siang begini pasti sepi. Hanya dilewati oleh para pencari kayu bakar dini hari tadi. Sudahlah, aku sudah lama menunggu kesempatan bisa bercinta denganmu seperti ini. Kemolekan tubuhmu selalu terbayang setiap waktu." Sahut si pria dengan suara bergetar dan napas keras memburu. Tirta mendengar pekikan tertahan perempuan itu yang diikuti suara erangan aneh. Tapi bukan erang kesakitan ataupun penderitaan. Jelaslah mereka berdua sedang bercinta di dalam hutan sepi ini.

Tirta sendiri tidak bisa melihat melihat apa yang sedang mereka perbuat karena pemuda ini sengaja berdiri membelakangi batu besar itu. Rasa malu dan karena kesopanan membuatnya berusaha tidak mengintip. Tapi lama kelamaan anak muda ini jadi penasaran juga. Hal ini karena suara pekikan dan erangan aneh perempuan itulah yang membuat Tirta berubah pikiran. Yang tadinya berniat akan segera pergi, tapi kemudian dengan gerakan perlahan dan hati-hati Tirta menyibak sedikit semak belukar yang hampir setinggi manusia itu.

Di atas batu besar itu, Tirta bisa melihat dengan jelas punggung laki-laki yang berada di atas tubuh perempuan bugil berkulit kuning langsat itu sedang menggerakkan pinggulnya turun naik dalam irama tetap. Suara erangan lirih si perempuan di bawah himpitan terdengar jelas oleh Tirta membuat darahnya memanas.

Inilah kali pertama bagi Tirta menyaksikan hubungan badan sepasang manusia. Kejadian yang sebelumnya belum terbayangkan oleh anak muda gunung ini. Tentu saja jantungnya jadi berdegup kencang. Darah mengalir cepat dan badan bergetar entah kenapa. Sepasang mata melotot terpana menyaksikan pergumulan dua sejoli itu. Sebenarnya ingin sekali Tirta balikan badan dan secepatnya pergi dari tempat itu karena tidak kuasa menyaksikan pemandangan mendebarkan itu. Tapi kakinya seperti dipantek di atas tanah sulit digerakan. Tanpa disadarinya, tubuh bagian bawahnya mulai merespon pemandangan panas yang sedang disaksikannya itu. Kelelakiannya sudah mengeras. Hal ini membuat Tirta sendiri terkejut dan buru-buru menekannya dengan telapak tangan.

Geger ParahiyanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang