Malam gelap tanpa bintang. Satu sosok bayangan hitam bertubuh ramping berkelebat diatas atap rumah-rumah penduduk. Kepala dan wajahnya tertutup rapat oleh topeng kain hitam, hanya sepasang matanya yang terlihat dari dua lobang topeng. Gerakannya sangat lincah dan ringan pertanda ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat tinggi. Sosok ini bergerak tidak berhenti sekalipun menuju ke arah utara dimana terletak rumah mendiang Juragan Wikarta, si Tuan Tanah kaya raya di kampungnya. Saat ini rumah besar Juragan Wikarta ditempati oleh putranya, Raden Widana tapi lebih dikenal sebagai Juragan Muda orang yang sangat ditakuti penduduk kampung saat ini. Kecabulan, kekejaman, dan kesewenangannya sudah melampaui batas kemanusiaan.
Sosok hitam begitu tiba di rumah Juragan Muda langsung melayang dan hinggap di atas genting rumah. Sepasang mata bening berkilat menyapu keadaan sekitar. Di depan rumah besar itu, tidak kurang dari dua puluh orang centeng terlihat berjaga-jaga dengan membekal berbagai senjata terutama golok. Dengan gerakan sangat enteng sosok bertopeng hitam ini kemudian melayang ke bawah langsung ke arah halaman depan rumah. Tidak ada suara sedikitpun saat kedua kaki menapak tanah. Kemunculan sosok bertopeng hitam ini langsung membuat semua centeng yang saat itu berjaga geger. Dua puluh orang langsung berlompatan maju mengurung manusia ini.
"Siapa andika yang malam-malam begini datang ke rumah juragan Muda? Dan menutupi wajah pula? Kalau mau merampok silahkan berfikir dua kali!"
Bentak salah satu orang yang menjadi pimpinan para centeng dengan suara garang.
"Aku tidak berniat merampok. AKu hanya ingin menemui Raden Widana dan berbicara dengannya. Minta dia keluar! Kalau tidak aku akan memaksa masuk."Orang bertopeng keluarkan ucapan tenang dan tidak terlihat khawatir.
"Sungguh berani mati!"Bentak pimpinan centeng marah."Siapa kau yang lancang mau menemui majikan kami saat malam begini?"
"Kalian mau melakukannya atau tidak?"Manusia bertopeng bukannya menjawab malah balik membentak dengan sepasang mata melotot.
"Jahanam! Anak-anak ringkus manusia ini!" Teriak si pemimpin dengan marah.
Empat orang centeng melompat maju dengan tangan merentang. Tapi tanpa diduga, dengan gerakan sangat cepat manusia bertopeng hitam sudah bergerak lebih dulu. Empat kali tangan dan kakinya bergerak terdengar suara bakk bukk dan empat orang centeng itu sudah terjungkal roboh di tanah dan muntah darah. Semua orang terkejut terlebih pimpinan centeng. Dengan suara menggembor dia berteriak nyaring memberikan perintah dan mendahului maju ke depan. Enam belas orang centeng maju mengeroyok manusia bertopeng. Sinar golok berkelebatan menyilaukan mata. Tapi dengan gerakan gesit dan sangat cepat sosok hitam manusia bertopeng berlompatan menghindari serangan. Tidak ada satupun serangan yang mengenai sasaran, malah dalam beberapa jurus kemudian kembali empat orang jatuh roboh terkena jotosan dan tendangan keras manusia bertopeng. Centeng yang lainnya semakin marah dan beringas. Mereka mempercepat serangan mereka tapi manusia bertopeng benar-benar cepat dan gesit.
Walaupun dikeroyok belasan orang namun sedikitpun tidak kelihatan sosok bertopeng ini terdesak. Sepuluh jurus kemudian kembali tiga orang centeng jatuh menggeletak ke tanah. Suara ribut pertarungan jelas terdengar di keheningan malam membuat Raden Widana yang saat itu berada di dalam kamar di atas tempat tidur dan sedang menggumuli tubuh telanjang seorang gadis muda merasa terganggu.
"Setan jahanam! Siapa manusianya yang membuat keributan di kediamanku?"Dengan menggeram marah laki-laki setengah baya ini menyambar baju dan kain sarungnya lalu buru-buru keluar kamar meninggalkan sosok telanjang perempuan muda yang masih tergolek pasrah di atas ketiduran.
Raden Widana atau Juragan Muda benar-benar marah. Kesenangannya terganggu. Dengan langkah-langkah lebar laki-laki ini menuju halaman kediamannya dan matanya jadi melotot lebar begitu melihat belasan centeng yang ditugaskannya untuk menjaga kediamannya sudah pada roboh di halaman. Sedangkan lima orang anak buahnya yang tersisa termasuk Jupra pimpinan centeng saat itu terlihat sedang mengeroyok satu sosok bertopeng hitam. Tapi lima orang ini pun sepertinya tidak akan bertahan lama. Tiga kali membuat gerakan kilat manusia bertopeng hitam sudah kembali merobohkan tiga orang centeng. Kini tinggal Jupra dan seorang lainnya yang jelas sudah merasa ketar ketir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Geger Parahiyangan
FantasiaSeorang tokoh silat ahli meramal mendapatkan sebuah petunjuk gaib bahwa rimba persilatan Tatar Pasundan akan mengalami kekacauan yang diakibatkan oleh sekelompok manusia misterius yang menamakan diri mereka Topeng Tengkorak Putih yang terdiri dari j...
