Dengan tubuh masih melayang di udara, tanpa tunggu lebih lama Tirta kibaskan telapak tangan kanan ke bawah menggunakan pukulan Sayap Elang Mengibas Bumi. Sengaja menghantam diantara dua pukulan dua topeng tengkorak yang menyerang Sagita Devi.
Blaarrr!!!
Ledakan keras terdengar. Dua manusia bertopeng terjajar tiga langkah akibat bentrokan tenaga pukulan sakti. Belum juga mereka menguasai diri Tirta sudah berkelebat ke arah mereka dan membagi dua jotosan kiri kanannya.
Bukkk Bukkk!!
Jotosan keras dengan telat mendarat di sasarannya masing-masing. Satu di pelipis dan satu di dada. Dua keluhan keras terdengar dan dua orang topeng tengkorak jatuh terlentang. Belum lagi mereka berusaha untuk bangun kembali Tirta sarangkan dua tendangan keras.
Bukk Bukkk!!
Dua tubuh terpental bergulingan dan ketika berhenti keduanya tidak bergerak lagi. Tapi ketika hendak memburu satu desiran angin dingin datang dari arah punggungnya. Tanpa berbalik Tirta merunduk lalu dengan tendangan belakang kakinya bergerak cepat dan keras.
Bukkk!!
Terdengar suara jeritan keras saat tendangan keras Tirta mengenai sasarannya. Saat berbalik Tirta melihat seorang topeng tengkorak membungkuk pegangi perutnya. manusia ini ternyata adalah manusia bertopeng yang tersisa dan sebelumnya membantu Si Bola Setan Penghancur mengeroyoknya. Dengan kempalangan keras di tengkuk Tirta kembali membuat orang ini roboh ke tanah. Tiga orang topeng tengkorak putih dari tingkat satu yang tersisa sudah roboh semua. Semuanya dilakukan oleh Tirta hanya dalam waktu begitu singkat. Padahal dulu, untuk melawan seorang anggota tingkat dua saja Tirta harus berusaha keras. Hal ini membuktikan bahwa kepandaian Tirta kini sudah melampaui kemampuannya beberapa tahun sebelumnya.
Tirta menghela napas. Pemuda ini berpaling dan melihat Sagita Devi sedang duduk mengatur hawa murninya di kelilingi tiga orang kakek. Sebelumnya Iblis Mata Api menyerahkan sesuatu kepada gadis itu yang langsung dimasukan mulut. Jelas benda itu merupakan obat luka dalam. Tirta segera menghampiri mereka dan tanpa basa-basi bungkukkan badan ke arah Iblis Mata Api dan dua orang kakek lainnya.
"Kami berdua sangat bersyukur dan berterimakasih atas kedatangan kalian bertiga. Kakek Mata Api, apakah kau sehat-sehat saja?"
Iblis Mata Api tidak menjawab pertanyaan hanya menatap Tirta sesaat lalu mendengus dan palingkan muka. Tirta yang sudah sedikit mengenal watak kakek berdandan kereng ini hanya usap-usap hidung dan tersenyum pencong. Si kakek berjubah kuning yang sejak tadi memperhatikan Tirtapun tidak berbicara. Hanya si Iblis Hitam yang kemudian terdengar berbicara.
"Anak muda! Untuk apa kau berterimakasih pada kami? Aku dan dua kawan ini tidak melakukan apa-apa. Kau dan gadis itu sendiri yang sudah merobohkan mereka semua. Kami hanya menonton!"
"kalau kalian bertiga tidak datang dan merusak perhatian mereka usaha kami akan lebih sulit lagi dalam membereskan orang-orang ini. Kami tetap berterimakasih."Ucap Tirta dengan sungguh-sungguh.
"Terserah kau saja, bocah. Kau memang pintar bicara dan tidak pernah mau kalah!"Iblis Mata Api kini terdengar keluarkan suara menggerutu.
"Bagaimana kakek Mata Api dan dua orang kakek ini bisa sampai di tempat ini? " Tanya Tirta dengan penasaran.
"Kami sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Tanpa sengaja saat melewati tempat ini melihat pertarungan kalian. Mengetahui kau dan gadis asing itu yang tengah dikeroyok oleh orang-orang Topeng Tengkorak Putih maka kami sengaja berhenti sebentar untuk menonton. Ternyata memang kami tidak perlu repot-repot turun tangan."Menjelaskan Iblis Mata Api dengan acuh tak acuh, lalu sambungnya lagi," Sungguh sayang! Hutang budiku padamu belum bisa kukurangi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Geger Parahiyangan
FantasySeorang tokoh silat ahli meramal mendapatkan sebuah petunjuk gaib bahwa rimba persilatan Tatar Pasundan akan mengalami kekacauan yang diakibatkan oleh sekelompok manusia misterius yang menamakan diri mereka Topeng Tengkorak Putih yang terdiri dari j...
