"Aku bukan mereka yang tersenyum ketika merasa sakit, karena bagiku tak mudah melibatkan senyuman di sela kesakitan." ~Lee Jeno
KOMENTAR NYA DITUNGGU!
Lelaki itu memasuki rumahnya tak bersemangat, tubuhnya seakan remuk karena perlakuan Taeyong. Bukan nya tak mampu melawan, hanya saja dirinya merasa tak sopan bertengkar dengan kakak kelasnya, terlebih anggota geng mereka tidaklah sedikit. Tidak hanya itu, jika Jeno melawan ataupun melukai Taeyong, tidak heran lagi jika lelaki beringas itu akan melibatkan orang tuanya.
Baru saja melangkahkan kakinya masuk, seseorang memukul rahang nya sangat keras. Jeno mendongak dan mendapati Doyoung yang menatap dirinya penuh amarah. Tak seperti biasanya Doyoung seperti itu, bahkan diantara keluarganya, Doyoung lah yang paling perhatian terhadap Jeno.
"Bang, kenapa?" tanya Jeno ketakutan, lelaki itu lagi-lagi hanya meringis kesakitan tak berani melawan.
"Kenapa lo bilang?" Doyoung tersenyum sinis.
Sekali lagi Doyoung memukul rahang lelaki itu, dan menendang perut Jeno membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Jeno sangat tak mungkin membalas Doyoung, kakak angkatnya itu sudah banyak berbaik hati padanya.
"Lo gak tuli kan? Gak buta? Lo tau gue suka sama Aera. Dan lo malah ciuman sama dia di sekolah? Lo itu punya otak apa kaga? Bener ya kata Mama, lo itu pinter tapi punya otak gak pernah buat mikir. Lo harusnya bersyukur, gue belain lo di depan Papa, biar apa? Biar fisik lo gak di sakitin sama papa, tapi kelakuan lo malah bikin gue sakit hati!"
Jeno hanya menggelang, mengatakan bahwa apa yang diucapkan lelaki itu tidaklah benar. Tapi, Doyoung tetaplah Doyoung, sifat keras kepala papa nya menurun pada lelaki itu.
Sebelum beranjak pergi, Doyoung menarik kerah baju Jeno, membenturkan lututnya pada dada lelaki itu. Jeno lagi-lagi hanya meringis sembari memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Perlahan air matanya jatuh mengenai wajah nya yang penuh lebam. Ini Lee Jeno, lelaki yang jujur pada keadaan, menangis ketika kesakitan.
"Jeno! Bagaimana bisa seperti ini!" teriak seorang paruh baya tak lain adalah asisten di rumah itu.
"Biar bibi kompres, kamu ke kamar sekarang!"
Perempuan itu terus berbicara dengan nada khawatir, Jeno tersenyum samar akan perhatian wanita tersebut. Wanita itu sangat perhatian padanya, bahkan selayaknya ibu kandung.
"Kamu mau olimpiade, tapi wajah kamu lebam kaya gini," ujarnya khawatir.
"Gapapa, Bibi. Jeno olimpiade Matematika, bukan jadi model," jawab Jeno.
"Kamu berangkat hari apa?"
"Lusa, Bi."
"Kamu segera mandi! Kalau Papa kamu datang, kamu nanti dimarahi. Setelah itu kamu istirahat, biar bibi bilang kalau kamu sudah tidur."
Jeno mengangguk pelan, dirinya segera beranjak mandi menuruti nasihat perempuan itu. Otak dan fisiknya terlalu lelah hari ini. Soal-soal membuatnya merasakan penat, belum lagi ulah Taeyong yang membuat tubuhnya seakan remuk. Dan pukulan Doyoung yang tidak pelan menambah rasa sakit di tubuhnya.
Pukul 21.00
Jeno tersentak ketika seseorang menarik selimut nya dengan kasar. Lelaki itu ketakutan ketika melihat Papa angkatnya yang tengah menatap dirinya penuh amarah. Jeno sering kali menunduk karena takut dengan Papa nya, tapi dirinya mencoba untuk bersikap sopan pada orang tua itu, tak mungkin dirinya terus memalingkan muka saat diajak berbicara.
Lelaki paruh baya itu menarik Jeno untuk bangkit dari kasur dan membenturkan tubuh Jeno ke tembok. Lelaki itu memandangi Jeno dengan tatapan penuh amarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Smile | Lee Jeno
Fanfiction"Aku menyukai senyum Lee Jeno, sangat tulus sampai matanya ikut tersenyum." Tentang Lee Jeno dan sebuah ketulusan. •Teori/teka-teki •Kebengekan •Cerita lebih dominan tentang mental seseorang daripada percintaan •Mengandung bawang
