Ayah dan Ibu Surya

829 58 3
                                        

Bulan tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain membeku tenang. Otaknya berhenti bekerja sekarang sebab ucapan sang majikan yang terdengar mau melamarnya?

"Tu-Tuan bercanda, kan?" Yah hanya pertanyaan itulah yang timbul di piikiran Bulan akan tetapi gadis itu iembali terpaku saat melihat keseriusan di mata milik Surya.

"Memangnya aku pernah bercanda?" Surya balik bertanya dan sontak Bulan menggeleng.

"Tap, tapi Tuan saya belum mau berumah tangga. Saya masih mau menikmati masa muda dan bekerja lebih giat. Maaf Tuan." Bulan yang tampak kalut bingkas berdiri, meminta undur diri kemudian bergegas pergi.

Dia pun bertemu dengan Safwan. Pria yang berprofesi sebagai perawat tersebut melihat ke arah Bulan. "Apa urusannya sudah selesai?" Safwan memastikan.

Sebagai balasan Bulan mengangguk lalu melangkah lagi. Walau heran akan tetapi Safwan menghampiri Surya. Dia bisa melihat betapa gusarnya pria itu. 'Pak, anda baik-baik saja?" Sontak Surya menengadahkan kepala melihat ke arah perawat.

"Ya, tolong bawa aku ke dalam ruang kerja."

❤❤❤❤

Bulan terus berjalan lalu berhenti tepat di halaman belakang. Degup jantungnya tidak bisa tenang dari Surya memintanya menjadi istri. Sungguh pernyataan yang begitu tiba-tiba.

Dia tak tahu harus mengatakan apa maka gadis berusia 18 tahun tersebut menolak. Alasannya simpel. Bulan merasa belum mau lepas dengan yang namanya kebebasan.

Lagi pula seperti diketahui Bulan kabur dari rumah sebab dipaksa menikah. Akan tidak lucu jika perginya dari rumah hanya untuk kawin bersama orang lain.

"Jangan bilang sebab wajahku Tuan mau menikahiku?" gumam Bulan lirih. Lagi-lagi muka manis miliknya mendatangkan masalah dan dengan begini ia harus menjaga jarak.

Bulan merogoh saku sesaat lalu melihat sebuah kartu undangan yang diberikan oleh teman dari majikan. Sebab kejadian itu, dia jadi lupa akan pesan dari si orang asing.

"Bulan," panggil salah seorang pelayan. Gadis itu tersentak sedikit lalu melirik pada rekan kerjanya.

"Kau dipanggil sama Bu Dona, dia ada di kamarnya." Sesudahnya pelayan tersebut pergi meninggalkan Bulan tanpa berminat mendengar ucapan terima kasih.

Selintas pikiran akan Surya tertiup dan berganti Bu Dona. Bulan kembali dilanda gundah gulana. Berharap jika dirinya tak melakukan kesalahan besar.

Sampai di kamar kepala pelayan dari Mansion Surya Bulan berhenti. Keraguan muncul namun coba ditenangkan dengan menarik napas dalam-dalam lalu dikeluarkan secara panjang.

Mengumpulkan keberanian dia lalu masuk dan mendapati Bu Dona telah duduk di depan meja rias. Rambutnya sudah terikat rapi, menampakkan bekas kemerahan serta kedua mata yang membengkak. "Bu Dona apa sudah baikan?" Bulan memastikan.

"Ya," jawab Bu Dona pendek.

"Lalu bagaimana dengan bekas merah-"

"Nanti juga akan sembuh sendirinya setelah diolesi salep," potong wanita setengah baya tersebut. Bulan tak berbicara lagi. Dia menunggu ucapan dari atasannya itu.

"Aku memanggilmu ke sini sebab masalah tadi. Aku berterima kasih padamu, jika saja kau tak datang tepat waktu mungkin aku akan babak belur lagi. Mulai besok kau bisa bekerja seperti biasa tapi ingat apa yang kukatakan kau harus menjaga jarak dengan Tuan Surya." Bulan sebagai bawahan mengiyakan penuturan dari Bu Dona lalu pergi.

Dia harus kembali melanjutkan pekerjaan tapi sebelumnya harus mengirim dulu surat dari teman Surya. Hanya saja ada perasaan kurang enak yang menghinggap ketika mengingat Bulan baru saja menolak lamaran dadakan dari majikannya itu.

Meski sudah membulatkan tekad nyali Bulan menciut saat berada di hadapan ruang kerja tempat biasanya Surya menghabiskan waktu. Entah kenapa tak sama seperti saat bertatapan dengan Bu Dona bahkan keinginan untuk melangkah ke dalam tak ada sama sekali.

"Sedang apa kau di sini?" Pertanyaan yang keluar dari perawat lelaki bernama Safwan mengagetkan Bulan. Dia sangat gusar turut malu sebab diciduk.

"Masuklah kalau kau mau bertemu dengan Pak Surya. Kau diberi izin sepenuhnya," lanjut pria itu dengan nada datar.

"Ti-tdak. Aku datang ke sini cuma mau menitip sesuatu, apa boleh?"

"Silakan." Bulan lantas mengambil surat undangan lalu diberikannya.

"Ini ada titipan dari teman Tuan tolong berikan ini padanya," pinta Bulan. Safwan melihat sekilas undangan lalu bergatian pada asisten pribadi Surya itu.

"Baik aku akan memberikannya. Kau yakin tidak mau masuk?"

"Ah tidak. Aku punya pekerjaan sekarang jadi tak punya waktu, dah!" Secepatnya Bulan pergi tak memedulikan Safwan yang hendak membuka suara.

Dia menghembuskan napas kasar lalu masuk mendekat pada Surya yang bersantai di kursi. "Pak ini ada surat, kata pelayan yang dari tadi pemberian dari teman."

Pria berusia 25 tahun itu menerima dan tanpa basa-basi membukanya. Dari  gaya tulisan, dia tahu siapa yang membuat bahkan tanggal undangan tersebut jelas menunjukkan jika si pengirim memaksa agar Surya datang.

Dia lalu meremas undangan lalu meminta Safwan agar membuang benda itu ke tempat sampah. Sepeninggal lelaki muda itu Surya menenangkan pikiran dengan menyeruput kopi yang telah tersedia.

Ketenangan sementara membuat dirinya jadi nyaman hingga dering telepon berbunyi. Nama yang tertera di layar ponsel tidak lantas diangkat langsung. Surya menunggu sampai ponsel miliknya berdering empat kali.

"Halo," ucap Surya.

"Kau sedang apa? Kenapa telepon Ayah lama sekali kau angkat?!" marah si lawan bicara.

"Maaf Ayah, aku sedang sibuk. Kenapa Ayah menelepon?"

"Ayah dan Ibu mendengar kau menganiaya bawahanmu lagi." Lawan bicara menjawab.

"Lalu?"

"Lalu apa lagi?! Ayah dan Ibu akan datang ke rumahmu!" suara dengan nada satu oktaf hampir saja memecahkan gendang telinga Surya. Beruntung setelah itu telepon ditutup dan dia membuang napas berat.

"Masalah lagi," lirihnya.

❤❤❤❤

See you in the next part!! Bye!!

Putri Malam(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang