Mulai Dari Sekarang

119 6 0
                                        

Bulan diam. Dia mengembuskan napas panjang seraya menatap bosan pada Surya yang sekarang tampak bersemangat memberikan Bulan makanannya.

"Tuan, dagingnya terlalu banyak aku tak bisa makan daging yang banyak." Surya diam sesaat. Memandang daging yang diberikan kemudian berpaling melihat Bulan.

"Ah tidak, kau pun terlihat kurus makanlah dengan baik jangan sampai orang tuamu berpikir kau tidak kuberi makan dengan layak." Sekali lagi Surya memberikan daging sapi panggang di atas piring asisten pribadinya itu.

"Terima kasih tapi makanan di rumah Anda selalu cukup untukku."

"Jangan terlalu formal, ini bukan tempat kerja kita jadi kita bisa berbicara santai."

Bulan menggeleng. "Aku akan tetap memanggil Anda dengan sebutan Tuan. Memang statusku adalah pelayan Anda."

"Baiklah terserah kau saja yang penting makan siang dulu." Surya kembali memberikan sepotong daging sapi yang selesai dipanggang.

Bulan akui terlihat begitu enak tapi ini bukan menyangkut makanan. Ada hal lain yang menjanggal dalam diri Bulan. "Kenapa? Tidak selera makan?" tanya Surya.

"Tuan, aku ada di sini itu semata-mata karena Tuan adalah majikan saya tapi tolong jangan memperlakukanku begitu berbeda."

Surya mengkerutkan dahi. Tak mengerti dengan ucapan Bulan. "Tuan kalau seperti ini nantinya aku akan dianggap apa sama rekan kerjaku? Aku mau hidup saya tenang saja tanpa ada yang mengganggu jadi aku mohon sampai Ayu puas dengan pekerjaannya itu tinggalkan aku sendiri."

Bulan melahap beberapa potong daging sapi. Memakannya begitu terburu-buru, tidak lama daging sapi yang ada di piring habis tak tersisa. "Terima kasih atas makanannya, aku pergi Tuan."

Surya tak sempat mencegat Bulan sudah melangkahkan kaki dengan cepat. Padahal Surya ingin traktir Bulan semata-mata karena ingin meminta maaf. Bulan bahkan tak bersedia untuk duduk mengobrol santai.

Apa Bulan belum memaafkannya atau membencinya?

***

Mood Surya berganti sejak itu. Surya tidak lagi mengembangkan senyuman dan sebagai gantinya karyawan tidak luput dari kemarahannya. Emosi Surya membuat karyawan tidak betah berada di dekatnya meski hanya sebentar.

Dia terus memberikan sikap dingin sampai Surya tidak pulang ke rumah. Awalnya pria itu terus melangkahkan kaki menuju kamar tapi dia merasa ada sesuatu yang kurang.

Surya melangkahkan kaki lagi masih merasa janggal. Dia kemudian berbalik arah menuju tempat kerja, bisa saja sesuatu yang menngganjal ini menyangkut pekerjaan.

Sebuah surat dengan nama Ayu berada di atas meja kerjanya. Barulah Surya sadar biasanya asisten pribadi akan menunggunya pulang dan mempersiapkan segala kebutuhan.

Surya lantas membuka surat dan membaca sebuah surat pengunduran diri. Dalam surat itu Ayu mengatakan dia sadar jika dia tidak akan bisa menyamai Bulan sebab Bulan sendiri telah memiliki tempat tersendiri dalam hati Surya.

Ayu telah meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten pribadi dan Surya pikir dia pun tak akan membutuhkan asisten lagi. Dari obrolan pun Surya juga tahu jika Bulan tak ingin lagi jadi asisten pribadinya.

"Baiklah apa boleh buat." Surya mengambil laptop, mengetik surat resmi untuk para pelayannya. Pintu ruang kerja diketuk dan Dona masuk ke dalam saat Surya selesai mencetak surat.

"Tuan mencari saya?" tanya Dona.

"Ya aku ingin kau membuat lowongan kerja di internet, kita kekurangan pelayan di mansion ini setelah tindakan tak jelas dari Ayu. Seperti biasa, adakan beberapa ujian lalu aku ingin kau membuat pengumuman bahwa tidak akan ada pekerjaan asisten pribadi, Bulan akan bekerja dengan rekan kerjanya."

"Baik Tuan, akan saya sampaikan." Surat yang sudah selesai mendapat tanda tangan dan cap diberikan kepada Dona.

Dona segera meminta para pelayan untuk berkumpul termasuk Bulan. Para pelayan yang mayoritas adalah perempuan berbisik-bisik, penasaran dengan kenapa mereka dikumpulkan begitu mendadak.

"Perhatian semuanya!" perintah Bu Dona tegas. "Tuan Surya telah membuat pengumuman jadi tak usah basa-basi, yang pertama adalah tidak lagi ada pekerjaan asisten pribadi Tuan Surya. Karena pekerjaan ini telah membuat kegaduhan jadi Tuan merasa tak memerlukan lagi bantuan. Bulan," panggil Dona.

"Iya Bu," balas Bulan singkat.

"Kau akan bergabung dengan rekan kerja lain menjadi pelayan biasa. Besok pagi kau bawa baju kerjamu nanti diganti dengan baju pelayan yang lain."

Begitu banyak reaksi yang diberikan terutama tawa ejekan dan beberapa hinaan dari beberapa pelayan untuk Bulan tapi Bulan tak ambil pusing. "Lalu yang kedua, Tuan Surya akan membuka lowongan kerja baru dan dia berharap agar kalian dapat bersikap baik dengan para pelayan baru. Tuan tidak akan menolerir pembulian apapun kepada seluruh pelayan dan jika terbukti bersalah maka akan langsung dipecat. Apa kalian mengerti?" Semua diam mendengar Dona.

"Aku bertanya, apa kalian sudah mengerti?" tanya Dona lantang.

"Ya Bu!" jawab mereka serempak.

"Kalau begitu di tangan saya ada surat peraturan baru, nanti akan diberikan pada kalian masing-masing mohon baca dan ikuti peraturan yang ada sekian, silakan bubar." Para pelayan otomatis bergerak pergi.

Bulan tetap termenung di tempat berpikir keras. "Kau tidak apa-apa?" tanya Ami, teman Bulan yang setia berada di sampingnya.

"Aku baik-baik saja. Ayo pergi." Bulan berjalan menjauh.

"Aku pikir kau sedih karena pekerjaanmu sudah hilang. Kini pekerjaanmu sudah seperti kami dan kau tidak akan bertemu lagi dengan Tuan Surya. Memangnya kau tidak akan merindukan Tuan Surya?" tanya Ami sekali lagi.

Bulan menghentikan langkahnya, menatap Ami dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ada apa? Kau marah?" Bulan menggeleng.

"Aku tak apa-apa. Ayo pergi." Bulan melenggang pergi meninggalkan Ami termangu sendirian.

Pekerjaan telah selesai, Bulan berada di kamarnya sambil terus menggambar sketsa. Pengumuman tadi terus terngiang-ngiang. Bulan pun tak tenang. Apa ini semua karena obrolannya dengan Pak Surya?

Ada sedikit kelegaan ketika mendengar Bulan tidak menjadi lagi asisten pribadi Surya tapi dalam hatinya pun ada kecewa entah karena apa. Bahkan karena terlalu banyak pikiran Bulan tidak bisa menggambar sebuah desain baju.

Bulan merasa perlu ketenangan sehingga dia memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Bulan sebenarnya ingin berjalan menuju halaman belakang tapi pengalaman beberapa hari yang lalu membuatnya sedikit trauma.

Dia pun berjalan menuju lantai dua. Berharap tak harus bertemu dengan Surya. Semilir angin menyapu tubuh Bulan tapi wanita itu terus bergerak sampai akhirnya berhenti di balkon. Pemandangan taman belakang di hiasi lampu hias membuat tentram pikiran Bulan.

"Rupanya kau ada di sini juga." Jantung Bulan berdegup kencang. Surya berjalan mendekat mengambil tempat di samping Bulan tapi gadis itu tanpa menoleh sedikit pun bergegas menjauh.

"Apa kau sebenci itu sama aku sampai kamu tidak bisa menatap wajahku?"

***

See you int the next part!! Bye!!

Putri Malam(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang