"Tapi Tuan, hutang saya, saya belum bayar hutang saya bukankah di kontraknya harus jalani dulu tiga tahun?" tanya Bulan memastikan.
Surya tidak menjawab lebih dulu. Dia meminta Dona untuk pergi lebih dulu meninggalkan mereka berdua. "Aku tahu tapi aku rasa kalau kamu meninggalkan impianmu sekarang, itu keterlaluan. Kau sudah sejauh ini, kalau kau menyerah maka usahamu sia-sia saja."
"Tapi balas budi Tuan juga belum saya selesaikan. Saya tidak mungkin melepas pekerjaan saya sebagai asisten pribadi Anda."
"Kalau begitu kita buat kontrak yang baru saja, kalau kamu sukses dengan impianmu sebagai desainer maka kau bayar padaku sesuai dengan pinjamanmu. Kau tidak usah khawatir, aku tidak memberikanmu bunga cukup kau mengganti semua uangku." Bulan diam. Dia menatap sendu pada kontrak yang ada di tangannya. Rasa ingin melempar dokumen dan menangis meluahkan semua perasaan yang ada berada dalam benak Bulan tapi semua itu hanya bisa ditahan menyebabkan nyeri dalam dadanya.
"Bersiaplah untuk pulang, rencana kita harus berjalan beberapa hari ke depan, aku akan menyiapkan pesta dan kamu harus bisa menjebak Shera." Surya menyambung ucapannya dan disambut anggukan oleh Bulan.
"Aku pulang dulu, hati-hati dalam perjalanan pulang." Surya bergerak keluar dari pintu pergi tanpa menoleh sedikit pun pada Bulan yang menangis dalam diam.
***
Beberapa hari selanjutnya Bulan akhirnya pulang kembali, masih dengan kacamata yang besar Bulan kembali bekerja sebagai asisten pribadi. Hanya situasi berbeda, Surya tidak lagi mencoba merayu dan bersikap dingin.
Dia hanya akan berbicara jika ada keperluan seolah-olah ingin memberikan jarak. "Ini perasaanku saja atau memang Bulan dan Tuan Surya tidak sedekat lagi setelah Bulan pergi selama satu bulan?" tanya seorang pelayan mulai menggosip.
"Ya sepertinya memang mereka ada masalah kalau tidak kenapa Bulan bisa meminta izin cuti selama satu bulan? Ini kedengarannya aneh."
"Aku rasa itu bukan cuti, Bu Dona mungkin bilang Bulan cuti tapi aku rasa dia itu kena diskors selama satu bulan."
"Itu pasti karena dia menuduh Shera yang tidak baik, Bulan itu pelayan paling dekat dengan Tuan begitu juga dengan Shera bisa jadi Bulan kena PHK tapi karena Surya masih ingin Bulan bekerja makanya diganti hukumannya diskors."
"Kalau tidak mengapa Ami langsung resign? Yang paling membela Bulan adalah Ami, aku rasa dia itu dipaksa sama orang untuk resign ya karena dia nggak punya alasan yang sama dengan Bulan."
"Eh diam, diam Bulan datang." Suasana kantin yang awalnya ramai kini mendadak sunyi saat Bulan muncul di pintu kantin.
Bulan sadar jika dia sekarang menjadi topik hangat pembicaraan banyak orang. Terlalu banyak spekulasi tapi tak pernah sedikit pun Bulan menghiraukan opini mereka. Sudah cukup dia dibuat pusing oleh pemutusan kontrak, tak mau terbebani dengan sebuah omong kosong.
Dia kemudian berjalan menuju sebuah meja kosong setelah mengambil makanan. "Kak Bulan, boleh aku duduk di sini?" Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Shera. Bulan menatap sebentar dan tidak memberikan jawaban apapun.
Shera menganggap Bulan setuju, dia segera mengambil tempat di depan Bulan, tersenyum manis seperti tidak ada kejadian di antara mereka. "Aku dengar Tuan Surya mengabaikanmu, kasihan sekali tapi itu artinya kita itu sama. Aku juga sudah tidak bisa dekat dengan Tuan Surya, karena nasib kita sama, bagaimana jika kita berteman?" tanya Shera menawarkan.
"Sebenarnya dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih mencoba mengincar Tuan Surya dan aku harap kau membantuku. Tuan Surya tak peduli lagi padamu jadi aku pikir ini adalah kesempatan yang baik untuk mengambil hatinya," lanjut wanita itu dengan wajah polos.
Bulan yang mengaduk makanan mendadak berhenti. Dia menatap Shera dengan pandangan merendahkan. "Kau memang tak sadar diri ya, kalau kau dijauhi oleh Tuan Surya itu berarti kau tidak boleh mendekatinya."
"Memangnya kenapa? Tuan Surya tidak dekat dengan wanita lain, selain dirimu siapa lagi musuh terberatku? Kau saja sudah dibuang oleh Tuan Surya." Masih dengan senyum manis, Shera mengejek Bulan. Sepertinya mengira jika dia akan menang.
"Jangan senang dulu, kita memang berdua diabaikan oleh Tuan Surya tapi kau tahu alasan kenapa kita berdua dijauhi oleh Tuan?" Bulan mencondongkan tubuhnya ke arah Shera. Tatapannya berubah serius.
"Karena Tuan Surya telah memiliki wanita lain. Dia jauh lebih cantik dan manis dibandingkan kau."
Shera terpaku sesaat, wajahnya terlihat kesal. "Kau bohong kalau itu benar, aku pasti sudah tahu dari awal."
"Memangnya kau 24 jam bersama Tuan Surya? Tidak, kan? Tuan Surya tidak mengatakan ini secara terbuka karena memang sengaja merahasiakan hubungannya dengan wanita ini," kata Bulan nyaris berbisik.
Shera diam, masih tak percaya. "Kau tahu bukan ada acara penting yang nanti akan diadakan di sini? Tuan Surya akan memperkenalkan wanita itu ke publik."
"Setelah itu kau dan aku akan terlupakan dari pikiran Surya. Ingat, kita ini hanya pelayan rendahan, kita tidak penting." Bulan kemudian mulai melahap makanannya, matanya terus meneliti setiap perubahan ekspresi Shera sembari menahan senyum.
Diam-diam, Bulan menulis sebuah pesan singkat untuk Surya. "Shera menerima pancingan sesuai dengan rencana."
***
Beberapa hari kemudian, semuaq pelayan tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pesta akan dimulai beberapa jam lagi. Semua dekorasi harus siap dan setiap pelayan harus berpakaian rapi. Setiap pelayan memiliki seragamnya tersendiri sesuai dengan pekerjaan masing-masing.
Termasuk Bulan. Hari ini dia bersama beberapa pelayan wanita lain mengurus dekorasi yang ada. Dengan bantuan arahan Bu Dona mereka menyelesaikan semua pekerjaan.
Shera pun ikut ambil bagian menyiapkan beberapa dekorasi bunga. Tapi pikirannya terus mengingat perkataan Bulan. Dia curiga namun tak tak menampik penasaran dengan siapa wanita yang dekat dengan Surya sekarang.
Menjadi perhatiannya pula adalah sikap Bulan yang terlihat tenang. Terlalu tenang cukup membuat Shera curiga tapi Bulan pun tak terlihat bersama Surya. Gadis itu lebih fokus membantu persiapan pesta.
Sepertinya Shera harus mencari tahu sendiri. "Bu Dona," panggil Shera pada kepala pelayan. "Rangkaian bunga telah siap, apa ada hal yang perlu saya selesaikan lagi?" tanya Shera sopan.
"Kerja bagus Shera, kamu bisa membantu orang di luar untuk selesaikan dekorasi." Dona menjawab setelah memeriksa pekerjaan Shera.
"Bu Dona bisakah saya bertanya agak melenceng dari pekerjaan saya?" tanya Shera cepat. Tak mau kehilangan kesempatan.
"Silakan."
"Saya dengar nanti Tuan Surya akan memperkenalkan seorang wanita di pesta ini. Apa dia adalah calon istri Tuan Surya?" Bu Dona terlihat terkejut sebentar dan dalam sekejap mencoba memperbaiki ekspresinya.
"Begitulah Tuan ingin saya merahasiakan hal ini. Dari mana anda mendapat kabar ini?" Bu Dona bertanya penuh selidik.
"Kabarnya simpang siur Bu Dona, semua orang membicarakannya." Bu Dona mengangguk paham.
"Lain kali kerjakan saja apa yang harus dikerjakan jangan bergosip tentang berita yang tidak penting." Bu Dona kemudian kembali fokus pada pekerjaannya meninggalkan Shera tengah jengkel.
"Kalau begitu aku harus menyelesaikannya sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Putri Malam(END)
Roman d'amour"Tuan, apa anda mau menambah kopi anda?" tanya Rembulan pada Surya. "Tidak usah, aku harus menghabiskan ini baru aku meminta kau membuatkannya lagi. Lebih baik kau duduk di sini saja." Bulan terpaku beberapa saat dan duduk dengan canggung di samping...
