Melepaskan Bulan

133 6 0
                                        

Surya mengetuk-ngetuk jemarinya di meja. Tak terasa sebulan telah berlalu. Bulan tak kunjung kembali sebab sibuk dengan dunia sendiri sementara Surya masih saja diganggu oleh Shera tapi kali ini dia tak pernah menggubris.

Rasa kesepian ini cukup membuat Surya kehilangan semangat. Bahkan sempat berpikir tak akan mengizinkan Bulan untuk pergi ke tempat manapun. Dia hanya ingin Bulan berada di sisinya.

Sama seperti sekarang meski rapat berlangsung, Surya tak sekali pun bisa konsentrasi. Hanya sesekali melirik jam di ponsel kemudian membuka proposal tanpa ada niatan membaca sedikit pun.

"Demikian isi presentasi saya, jika ada kesalahan kata saya mohon maaf. Sekian dan terima kasih." Seorang karyawan mengakhiri presentasi di depan.

Surya mengerjapkan mata, tersadar dari lamunan. "Bagaimana Pak? Apa anda suka dengan proposalnya?" tanya Surya pada seorang klien.

Seorang pria paruh baya mengangguk, dia tersenyum lebar. "Saya suka dengan hasil kerja karyawan Tuan Surya. Kerja sama ini saya terima." Klien dan Surya menjabat tangan kemudian menandatangani dokumen sebagai tanda kerja sama.

Ketika klien tersebut pergi Surya segera memanggil sekretarisnya. "Setelah ini apa ada jadwal?"

"Sore nanti anda akan pergi ke sebuah acara perlombaan. Pemilik acara secara khusus ingin mengundang anda." Surya menggangguk paham.

"Kalau begitu, aku akan istirahat di ruang kerja tolong jangan menggangguku."

"Baik Tuan." Surya kemudian melangkah pergi dari ruang rapat. Tak lupa berterima kasih pada karyawan dan memuji mereka atas kerja yang bagus.

Surya merenggangkan punggung setelah lelah dengan hanya duduk saja. Dia kemudian duduk di sofa, memikirkan Bulan. Sedang apa gadis itu di sana? Apa dia baik-baik saja? Apa sudah makan? Bahkan lebih buruk lagi, apa Bulan sudah lupa dan memiliki seorang kekasih yang lain.

Semua itu berputar dalam kepala CEO itu. Meski tidak seharusnya dia berpikiran buruk tapi Surya tidak tenang. Lebih sial lagi Surya terus merasa marah pada dirinya sendiri sebab tidak membelikan ponsel untuk Bulan.

Dia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun sehingga Surya tidak pernah bisa membawanya pergi membeli alat komunikasi khusus untuk mereka berdua.

***

"Tuan, Tuan," suara sekretaris membuat Surya yang awalnya membuka mata terbangun. Dia berkedip sebentar kemudian memandang sekretarisnya.

"Ini saatnya Anda harus pergi. Acara tidak lama lagi akan dimulai." Surya mengangguk. Dia segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan wajah yang lelah setelah tidur agak lama.

Sampai di sana Surya segera mendapat atensi sepenuhnya pada beberapa kamera. Dia mencoba terlihat ramah dengan tersenyum, tak lupa berjabat tangan dengan pemilik acara. Mengobrol ringan sebentar, Surya kemudian diarahkan oleh panitia untuk menempati kursi yang telah disediakan.

Beberapa kata sambutan setelahnya  acara itu dimulai. Para model berjalan dengan anggun menampilkan pakaian yang dibuat oleh para desainer muda. Hanya terpilih tiga desainer muda dari beberapa desainer yang tampil di sini. Semua orang tampak bertepuk tangan riuh, kadang kala memuji beberapa pakaian. Surya pun terlihat menikmati acara, meski tidak sesuai dengan pekerjaan, dia menganggap acara ini hanyalah sebuah hiburan baginya yang selalu lelah dengan tidak hadirnya Bulan di sisi.

"Para tamu dan hadirin sekalian, marilah kita undang para desainer muda kita untuk maju ke depan!" Suara MC disusul dengan tepuk tangan. Senyuman Surya lantas memudar seiring dengan sosok gadis yang paling dia rindukan berjalan menuju podium beserta dua orang lainnya.

Bulan tidak memakai kacamata besar yang menutupi kecantikannya. Dia tampak percaya diri dengan penampilan anggun dan segar.  Senyuman manis ditorehkan dan tampak begitu berbeda dengan Bulan yang dikenal oleh Surya.

"Baik, silakan perkenalkan nama Anda Nona."

"Nama saya Bulan."

"Nona Bulan, dari tadi kami melihat baju rancangan Anda tampak begitu anggun serta fashion sekali tapi saya dengar anda ini lulusan sarjana pendidikan. Tolong ceritakan pada kami, apa yang membuat anda begitu tertarik dengan fashion?" tanya MC.

"Saya tertarik dengan fashion setelah saya menjadi seorang asisten pribadi dari seseorang yang sangat memetingkan penampilan. Orang ini sangatlah ketat dalam memilih pakaian apa yang digunakan bahkan ketika acara di rumah orang ini akan selalu menyiapkan pakaian yang modis untuk seluruh karyawan yang ada."

"Karena ini pula saya jadi tertarik dengan desain pakaian. Awalnya saya suka dengan mencocokan beberapa warna pakaian kemudian orang ini memberikan kesempatan pada saya untuk belajar lebih jauh. Saya senang memiliki atasan seperti dia," jelas Bulan tampak tersenyum malu.

"Lalu untuk ke depannya apa harapan Anda?" tanya MC lagi.

"Saya ingin lebih berkarya dalam desainer baju. Saya sangat ingin bisa lebih maju dan bisa memberikan yang terbaik untuk desain saya." Semua orang bertepuk tangan tapi tidak dengan Surya. Wajahnya muram.

Sontak dia bangun, berkata ingin ke kamar mandi sebentar kemudian berjalan pergi dari acara itu di susul oleh sekretaris. Setelah cukup jauh dari acara, Surya menghentikan langkahnya dan memandang sekretaris serius.

"Aku mau kau panggil Bulan ke depanku, setelah acara selesai. Aku mau berbicara dengan dia empat mata."

"Baik Tuan." Surya kemudian kembali masuk ke dalam acara. Tiga desainer telah pergi dari podium, secepat itu juga Surya berpamitan mengatakan ada yang harus dia selesaikan.

Namun Surya hanya menunggu sampai acara selesai dan langsung masuk kembali setelah sekretarisnya memberikan isyarat.

Di sana, di belakang panggung Bulan memegang kontrak dari sebuah brand fashion ternama. Mereka ingin Bulan bisa bekerja sama dengan mereka tapi sepertinya kontrak itu harus pupus sebab Bulan belum bisa membayar hutang dari Surya.

Suara pintu membuyarkan lamunan Bulan, dengan tenang ia memasukan kontrak itu di tas dan memberikan senyuman. "Selamat atas kemenangannya. Aku dengar kau juara satu dalam acara ini." Surya menyodorkan sebuah buket bunga untuk Bulan.

"Terima kasih Tuan, kalau bukan karena Tuan yang mengizinkan saya untuk ikut acara ini saya tidak mungkin bisa menempati posisi ini sekarang." Bulan menghela napas. "Besok saya akan pulang, saya akan bekerja lagi sebagai asisten pribadi untuk Anda. Tiga tahun tidaklah lama, saya akan segera mengejar ketertinggalan saya setelah menyelesaikan hutang dari Anda."

Penjelasan Bulan membuatnya Surya tertegun untuk sebentar. "Bulan, harus aku akui kau terlihat cantik dan segar dengan penampilanmu sekarang. Kau sangat berbeda tapi tampak penuh percaya diri," puji Surya dengan senyuman canggung.

"Benarkah? Ami yang mendorong saya untuk lebih percaya diri dengan saya yang sekarang. Dia adalah teman baik yang saya punya sekarang."

Surya mengangguk mendengar penuturan Bulan. "Baiklah sudah saatnya, Bu Dona tolong masuk ke dalam." Bulan terpaku. Dia tak mengira jika Dona akan datang ke tempat itu juga.

Dona datang dan memberikan sebuah dokumen yang langsung diberikan untuk Bulan. "Tuan, ini apa?" tanya Bulan tidak mengerti.

"Silakan baca sendiri." Bulan dengan cepat membuka dokumen, membaca dengan teliti sekaligus cepat. Rupanya sebuah dokumen pemutusan kontrak.

Ya, dokumen resign untuk Bulan. "Tuan, ini maksudnya apa?" Masih tidak mengerti Bulan mencoba bertanya maksud Surya.

Sekarang Surya tidak tersenyum canggung. Hanya mata dengan sorot kesedihan. "Aku ingin melepaskanmu Bulan."

Putri Malam(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang