Episode 1 [Mulai]

353 33 15
                                        

"Kuhitung detik demi detik, seolah perputaran hidup begitu lambat. Tidak banyak kugantungkan harapan, detik di mana setidaknya hiruk pikuk hidupku ini perlahan mulai normal layaknya mereka menjadi satu-satunya hal yang kunanti."
-Indira.

***

Langkah kaki gadis yang baru saja turun dari angkutan umum itu terlihat begitu cepat. Dia menuju gerbang yang di atasnya jelas bertuliskan "Jewel High School".

Begitu tubuhnya melewati pagar, menoleh ke kiri dan kanan, depan serta belakang. Selalu saja menampilkan pemandangan kendaraan roda empat ternama yang berlalu lalang ke arah parkiran sekolah. Tidak, tidak. Ada pula motor ninja di antara mobil-mobil tersebut.

Gadis yang hanya turun dari kendaraan umum itu adalah Indira Marthisa. Jika diakumulasi dari semua siswa yang baru datang bertepatan dengan waktunya, maka dia menjadi paling berbeda.

Meski begitu, dia tak peduli. Mengeluarkan earphone dari saku seragamnya, kemudian menyambungkan ke ponsel. Berakhirlah earphone tersebut menyumbat kedua telinga.

Perlahan langkah yang semula pelan, menjadi normal menuju kelas.Ini tahun kedua dan semester ketiga dirinya berada di sekolah ini. Sekolah yang begitu terkenal dengan kualitas muridnya, baik dari segi ilmu maupun segi keuangan. Ya, dengan kata lain sekolah yang lebih sering disingkat JHS ini merata dihuni dengan manusia-manusia yang berada di tingkat sosial atas. Bisa dilihat dari kendaraan yang mereka bawa, 'kan?

Awalnya senyum miris terlukis di wajah Indira ketika pertama kali menginjakkan kakinya di JHS. Semua julukan yang ada untuk murid JHS rasanya terkecuali dirinya. Dia hanya memiliki keberuntungan menjadi butiran debu di antara mereka. Indira bisa di sini, karena tes beasiswa yang diikutinya setahun yang lalu.

Menyusuri koridor, tak ada sapaan selamat pagi atau sekedar senyum siswa yang berada di sekitar atau tak sengaja berpapasan. Begitulah guna earphone yang menyumbat telinga Indira. Tidak ditegur, disapa, dan sebagainya bukanlah masalah, 'kan, jika dia saja tak bisa mendengar mereka?

Begitu sampai di kelas, yang dilakukan Indira setelah meletakkan tas satu-satunya adalah membuka novel yang selalu dibawa ketika sekolah. Beruntung di sekolah ini bangku tersusun sendiri-sendiri. Jadi, dirinya tidak perlu repot mencari teman sebangku yang mungkin tak akan pernah didapat.

Semacam sudah menjadi tradisi bahwa murid yang menerima golongan beasiswa akan begitu. Minim teman, atau nahasnya tidak sama sekali memiliki teman. Seperti Indira saat ini.

Namun, semua tak menjadi penghambat untuk Indira. Toh, satu tahun lebih sudah dilalui. Sendiri. Dia hanya perlu terus bersekolah di sini, mengikuti semua rangkaian yang diadakan hingga lulus. Selama tak ada yang mengusiknya, maka tak satu pun teman bermasalah untuknya.

"Hai, Dira!"

Tatapan Indira yang semula terfokus ke novel beralih menatap ke arah sumber suara. Siswi yang baru saja menyapa mengambil alih kursi tepat di depan bangkunya. Dia duduk, lalu tersenyum manis.

Indira membalas senyuman itu. "Hai."

"Gue Iona. Lo bisa panggil Ona." Gadis yang bernama Ona itu mengulurkan tangan.

Meski sebenarnya suara gadis itu beriringan dengan musik yang mengalun di earphone, dirinya masih bisa mendengar suara Ona.

Akhirnya Indira dengan senang hati menerima uluran tangan Ona. "Gue Indira," jawabnya sambil tersenyum.

"Iya, gue udah tau, sih. Udah setahun gue tau." Ona terkekeh begitu tangan mereka terlepas.

"Gue kira enggak akan ada yang tau gue." Indira tertawa kecil. Memang benar, bukan, apa yang dia ucapkan barusan? Dia berbeda, tidak mungkin banyak orang yang tahu.

Tabula Rasa (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang