Episode 6

73 17 5
                                        

"Kenyatannya, kondisi ini begitu terasa asing. Entah karena aku yang sudah lama mengasingkan diri atau memang penyebab dari keasingan ini adalah kamu."

***

Sarah baru saja menyiapkan sarapan untuk keluarga Pak Marva, lalu Naya yang merupakan istri Pak Marva sekaligus ibu dari Ona menemuinya.

“Sarah, saya boleh minta tolong? Nanti kamu temanin saya ke supermarket, ya?” pinta isri majikannya itu. Sudah pasti Sarah mengiakan dengan cepat.

Naya tersenyum, lalu kembali ke meja makan karena suami serta anaknya sudah berada di sana untuk sarapan. Meskipun yang memasak bukanlah dirinya, yang mengambikan nasi beserta lauk pauk untuk suami dan juga sang putri adalah Naya sendiri. Dia anggap ini semacam sebuah perhatian untuk keluarga kecil itu. Sejujurnya dia pun ingin memasak, tetapi Marva--sang suami--melarang karena ada pembantu. Jadilah dia hanya menyiapkan kebutuhan kecil-kecil mengenai anak juga suaminya. Seperti saat ini mengambilkan nasi.

Sementara keluarga Marva yang tengah menyantap sarapan pagi, Indira muncul dari pintu dapur menemui sang ibu untuk berpamitan. “Ibu, Indi pamit, ya.” Diraihnya tangan sang Ibu, lalu menyalaminya.

“Udah makan?” tanya Sarah.
Indira hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia mengucapkan salam, lalu pergi.

Rupanya Ona dari ruang makan memperhatikan interaksi antara ibu dan anak tersebut. Dengan cepat dimasukkannya nasi yang berada di sendok makan ke dalam mulut, lalu meminum air putih dengan cepat. Kemudian, dia berdiri.

“Lho? Kamu kenapa, Sayang?” tegur sang Ibu ketika anak semata wayangnya seperti tergesa-gesa.

Sambil meraih tas di kursi, Ona berkata, “Anu, Ma, Pa. Ona lupa hari ini mau daftar ekskul jadi harus pagi. Ona duluan pergi, ya. Dah, Assalamualaikum!” Dengan cepat gadis itu berlari keluar sebelum kehilangan jejak Indira.

“Kenapa, sih, dia?” tanya Marva dan mendapat respons dengan angkatan bahu singkat dari sang istri.

***

Begitu keluar dari gerbang rumah, sudah ada sopir yang membukakan pintu mobil untuk Ona. Akan tetapi, gadis itu segera menolak.

“Enggak usah, Pak. Ona mau pergi naik angkutan umum aja bareng Indira. Duluan dan makasih, ya. Pak!” teriaknya, lalu benar-benar tergesa-gesa berlari menyusul Indira.

Cukup panjang jalan yang harus dilewatinya hingga tiba di depan gang tempat menunggu angkutan umum. Napasnya benar-benar memburu karena kelelahan. Dadanya naik turun merasa olah raga pagi yang dia ciptakan sungguh menguras tenaga.

Namun, kelelahannya membuahkan hasil ketika mendapati Indira yang tengah berdiri di pinggir jalan menanti angkutan umum yang lewat. Diembuskannya sekali napas lalu menghampiri gadis itu.

“Gila, cepat banget lo jalan,” ujarnya ketika berada di samping Indira.

Sontak gadis itu menoleh ke arahnya sambil memicingkan mata. Ona hanya merespons dengan senyuman.

Indira langsung saja membuang muka dan menatap lurus ke depan, atau sesekali ke kiri menanti angutan umum yang kewat. Melihat respons Indira yang terkesan mengabaikannya membuat lagi-lagi Ona mengembuskan napas kasar.

“Gue enggak tau, ya, lo benci sama gue beralasakan apa. Gue enggak ngerasa pernah terlibat masalah sama lo, tapi tetap aja sikap lo ketus ke gue.” Perkataan Ona barusan berhasil membuat pandangan Indira kembali padanya.

Ona hanya menunggu kira-kira kali ini perkataan jenis apa lagi yang akan keluar dari mulut gadis itu. Dia sudah siap apa pun itu karena Ona benar-benar ingin tahu apa penyebab Indira yang terlihat begitu enggan berteman dengannya.

Tabula Rasa (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang