EXTRA CHAPTER

110 13 5
                                        

Langit tampak lebih redup dari biasanya. Angin berembus lebih terasa dingin menusuk kulit. Indira berjalan di antara nisan-nisan.

Kalau biasanya mengunjungi tempat ini ditujukan untuk sang ayah maka tidak untuk enam bulan terakhir. Ini terhitung kali ke tiga Indira ke mari. Sebetulnya kalau bisa ingin setiap hari, tetapi Indira tak mau terlalu membebani hatinya.

Sudah tiba di nisan yang ingin dikunjunginya. Senyum mulai tercipta di wajah gadis itu. Diletakkannya seikat bunga Lily putih di atas tanah nisan. Sekali lagi dia membaca nama yang tertera di sana.

Keynand bin Himzan.

“Enggak terasa udah enam bulan lo ninggalin gue, Key.” Indira bermonolog.

Tangannya bergerak mengusap ukiran nama di nisan itu. Tidak tahu seberapa besar usahanya membangun benteng pertahanan dia akan selalu lemah bila mengingat cowok ini.

Dadanya perlahan mulai sesak, matanya memanas.

“Lo gimana di sana? Gue baik tau di sini, sekarang udah kelas 12. Beasiswa itu berhasil gue dapetin lagi semester ini.” Indira kembali berujar sembari menatap nanar nisan.

Dia menggerutu dalam hati ketika matanya mulai berkaca dan siap menumpahkan air. Sungguh sulit membuat perasaannya baik-baik saja ketika seperti ini.

Indira menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya sembari menatap langit agar tak menangis.

“Oh, iya. Ona sekarang kayaknya lagi deket sama Anand. Gue tetep enggak ngobrol banyak, sih, sama dia. Cuma ada beberapa kali. Gue sama Ibu juga udah pindah dari rumah Pak Marva.”

“Pasti enggak kerasa bentar lagi gue udah tamat SMA aja.”

Indira diam lagi. Napasnya memburu, dadanya seperti terhimpit dua batu beasar. Sesak sekali. Tanpa bisa mengontrol lagi air mata itu lolos dari kelopak matanya. “Gue kangen lo,” lirihnya.

Langit berubah semakin gelap. Rintikan hujan mulai turun ke bumi menyentuh kulit Indira. Seolah langit ikut merasakan pilu yang dirasakan gadis itu.

“Gue benci banget sama gue yang cengeng gini.” Indira menyeka air matanya. “Harusnya gue bisa adaptasi seperti sebelum ada lo di hidup gue, tapi, nyatanya enggak bisa. Gue terbiasa ada lo, Key.” Air mata itu kembali terjatuh di pipi Indira.

Rintikan hujan berubah buliran air yang semakin deras. Indira tak bisa terus di sini. Gadis itu menghapus air matanya. “Gue harus pulang. Nanti gue ke sini lagi dan enggak akan cengeng lagi.” Indira berdiri kemudian tergesa untuk keluar area makam dan mencari tempat perlindungan.

Namun, begitu hampir tiba di gerbang dirinya tak sengaja menabrak seorang perempuan yang mengenakan seragam, tetapi berbeda dari seragamnya.

“Sori,” ujar orang itu.

“Gue yang minta maaf.” Indira berkata sambil menatap orang itu.

“Enggak, pa-pa,” jawabnya lalu kemudian mereka secara bersama keluar dari makam.

Sebuah mobil putih sudah berada tak jauh dari makam. Gadis yang tak sengaja Indira tabrak tadi sepertinya adalah sang empu mobil itu.

Indira berteduh di bawah pohon depan makam sementara gadis tadi beralih menatapnya setelah tak jadi melangkah pergi.

“Lo mau pulang bareng, gue?” tanyanya.

Indira menggeleng sambil tersenyum. “Enggak usah, makasih.”

“Hujannya bakal deras. Lo bisa basah kuyup.” Dia kembali berkata.

Indira ikut memikirkan hal itu. Meski tak enak hati, dia juga tak mungkin basah kuyup karena di dalam tasnya ada buku-buku perpustakaan yang tak boleh rusak.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 10, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tabula Rasa (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang