Pagi-pagi buta Indira sudah bangun, menyiapkan sarapan untuk sang ibu. Sedangkan Sarah sudah lebih dahulu pergi ke rumah Pak Marva. Dari tadi Indira tak berhenti tersenyum, entahlah. Seperti dia merasa akan ada hal spesial terjadi di hari ini. Akan tetapi, apa?
Bosan menerka-nerka, Indira memilih membuka ponsel sebentar sambil menunggu air mendidih-air untuk mengganti termos. Pertama dia membuka galeri. Senyum timbul tatkala melihat wajahnya dan wajah Keynand di dalam satu bingkai. Dengan mudah, Indira berhasil mengajak Keynand mengambil selfie. Tangan Indira tergerak mengusap foto tersebut, layaknya benda berharga yang bisa didapat satu kali dalam seumur hidup.
Air sudah mendidih, segera Indira menjalankan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Mencuci piring, menyapu, kemudian mandi. Setelahnya, dia sarapan dan akan pergi ke sekolah usai berpamitan dengan Sarah.
Hari ini hari terakhir ujian, Indira merasa lega. Di satu sisi, dia lega karena bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar-kendatipun satu-dua soal dia tebak sekenanya. Sisi yang kedua, dia amat bahagia Keynand bisa mengikuti ujian sampai hari terakhir.
Saking senangnya Indira, dia sampai tidak sadar kalau banyak orang menatapnya saat ini. Tak lain dan tak bukan karena dia tersenyum sepanjang jalan.
Angkutan umum datang, berjalan, lalu tak lama sampai di depan sekolah. Indira membayar, kemudian melesat masuk ke melewati gerbang. Ini hari terakhir, dia harus semangat!
Waktu berbaik hati, tetapi tidak untuk saat ini. Adalah waktu di mana Indira sekali lagi mendapat kemalangan yang bahkan masih di pagi hari. Ketika dia berjalan di lapangan-posisi hendak menuju kelas-siraman air menimpa kepala. Indira basah kuyup, refleks menutupkan tangan ke kepala. Peristiwa itu terjadi begitu cepat disusul dengan jatuhnya satu buah telur busuk serta tepung terigu. Lengkap, Indira sudah seperti kue.
Beberapa siswa yang tak menatap terkejut, sekarang sudah bergerak mengerumuni Indira. Hanya ingin tahu apa yang terjadi, hanya. Mereka sontak menutup mulut, sebagian mendongak ke atas memastikan siapa pelakunya.
Oh, tetapi ternyata tidak hanya ingin tahu. Dua siswi merekam hal tersebut, membuat siapa pun yang berhati nurani pasti menyebutnya sangat mencampuri urusan orang. Tidak hanya itu, sebagian juga melontarkan kata-kata tidak pantas untuk Indira. Yang Indira pikirkan salah, rupanya mereka masih mengingat kejadian lalu.
Mereka terus merekam, sampai beberapa orang dari belakang merebut, kemudian menghapus video tersebut. Permanen. Bertambah tegang suasana di sana.
Di atas, Melisa dan Sandra gantian menutup mulut tidak percaya. Keynand dan teman-temannya datang ke sana. Sepertinya Indira kali ini malang, tetapi akan lebih malang nasib mereka berdua.
"Bodoh, kalian pikir ini tontonan?" Suara Keynand tidak tinggi, tetapi ditekan. "Bubar!"
Kerumunan belum bubar, entah apa yang mereka pikirkan.
Dengan napas yang tidak stabil, Keynand berkata, "Siapa pun yang melakukan ini ... kalian emang enggak punya hati nurani. Gue bisa ngelakuin apa aja, tanpa melibatkan jabatan orang tua atau semacamnya. Ini bentuk ... perisakan? Gampang aja gue bikin laporan."
Di belakang Keynand, Noval sigap memegang lengan sahabatnya ketika Keynand sempat hendak kehilangan keseimbangan. Indira masih menunduk, dia tidak berani. Dia tidak berani menatap Keynand yang bercucuran keringat, padahal matahari belum terik. Indira tidak berani menghentikan Keynand, padahal suara lelaki itu terdengar bergetar. Segala kemungkinan terburuk melintas lancar di kepala Indira.
Sedikit lemas, Keynand menatap atas. Dia melihat Melisa dan Sandra yang masih terpaku di sana. "Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya gue bilang ke kalian. Tolong, gue mohon jangan ganggu Indira. Dia murid di sini, berhak mendapatkan kenyamanan. Soal kejadian beberapa hari lalu, gue bisa pastikan Indira melakukan itu karena ada alasan yang membuatnya terdesak. Gue yakin dan gue udah tahu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa (TAMAT)
Teen FictionManis tak selamanya manis, pahit pun sama. Terang tak selamanya benderang, gelap pun sama, tak selamanya gulita. Suatu hubungan yang terjadi dalam sebuah kehidupan, di dalamnya tidak mungkin hanya ada kata harmonis. Pasti ada suatu persoalan yang me...
