Haii,
Yuk vote dulu, pencet bintangnya,
._.
Selamat baca yaaa.
****
Di balik selimut yang menutupi tubuh dua orang yang sedang tertidur pulas hingga batas leher. Keduanya masih berada di alam mimpinya masing-masing. Nafas yang teratur menandakan keduanya tidak akan terbangun dalam waktu dekat.
Remang-remang cahaya yang menghiasi kamar tidur ini tak menyurutkan kecantikan dari perempuan-perempuan tersebut. Waktu menunjukkan pukul lima kurang dua puluh pagi.
Salah satu di antara mereka menggeliat, menggesek-gesek kedua kakinya sendiri untuk menciptakan sebuah kehangatan akibat kedinginan. Perlahan, kedua kelopak mata tersebut terbuka, melirik ke arah samping dimana orang di sebelahnya masih pulas tertidur.
Tangan tersebut terulur pada samping tempat tidur mencari sesuatu yang ia simpan di atas nakas. Setelah menemukannya, ia mengambil dan melihat. Menyipitkan matanya akibat cahaya yang begitu terang. Mengecek sebentar, kemudian menaruhnya lagi di tempat semula.
Ia hadapkan kembali tubuhnya untuk berhadapan dengan teman tidur di sebelahnya. Tangan tersebut menjangkau pipi yang sedikit chubby dan mengusapnya dengan lembut.
"Ci.. Bangun, shalat dulu yuk." Ia membangunkan shani dengan tangan yang terus mengusap.
Tidur Shani terusik, ia berusaha menyingkirkan apa yang mengganggu tidurnya. "Gee, tangannya." Gumam shani.
"Bangun dulu, kamu harus shalat."
"Iya sebentar lagi." Dirinya kembali bergumam, tangannya berusaha menaikkan selimut agar menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Gracia yang melihat itu membulatkan matanya. Bisa-bisanya ia bilang sebentar lagi. Dengan cepat gracia mendudukkan dirinya.
"Bangun ga?! Ci shani.." Ujar gracia sambil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh shani. Menepuk-nepuk pipi shani beberapa kali agar ia terbangun. Biarkan saja shani marah.
Dengan sangat terpaksa akhirnya shani membuka kedua matanya. Menatap gracia yang sedang duduk dengan ekspresi sedang marah. Marah bohongan, tapi tetap saja, sedikit seram.
"Ini aku bangun." Katanya sambil duduk berhadapan dengan gracia. Matanya kembali terpejam.
"Ke kamar mandi, basuh itu loh yang pake air namanya apa si?, ayo ih shani, tadi udah ada orang yang pake bahasa arab-arab gitu di masjid, kedengeran. Yang kata kamu waktunya shalat, aku lupa namanya." Gracia berbicara sambil menepuk-nepuk kembali pipi shani.
Bukannya segera beranjak dari tempat tidur, shani malah mengambil kedua tangan gracia dan menggenggamnya. "Diem geee."
"Shani, aku marah nih."
Shani bergumam tidak jelas, ia tidak peduli gracia akan marah. Ia masih sedikit mengantuk akibat kemarin ada kegiatan yang padat di tambah dengan kuliah, membuatnya tak cukup istirahat.
"Shani indira, ayo bangun. Nanti kamu telat ibadah." Gracia mencoba membangunkan shani kembali. Sabar gracia, sabar.
"Hmm.." Katanya, tapi detik berikutnya ia mendekatkan dirinya pada gracia. Tanpa banyak kata, shani memeluknya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kekasihnya itu, wangi. "Peluk dulu, lima menit. Habis itu beneran, aku shalat." Sambungnya, sambil menyamankan posisi dan mengeratkan pelukan.
Gracia menghela nafasnya, ia tau sebanyak apa tugas-tugas kuliah shani dan harus di jalani bersamaan dengan kegiatan JKT juga. Ia mengusap punggung shani dan shani kembali tertidur.
