Haii,
Yuk vote dulu, pencet bintangnya,
._.
Selamat baca yaaa.
*****
Decitan dan ketukkan sepatu yang berirama kini terdengar mendominasi ruangan, tempo yang semakin cepat membuat mereka mau tak mau harus menambah power dan konsentrasi agar pas dengan lagu yang sedang di mainkan. Tak ada lelahnya, mereka seolah enggan menghentikan gerakan mereka padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
Peluh yang terus berjatuhan dari dahi menuju bawah dagu kini terus mengalir tanpa hambatan. Sesekali mulut itu terbuka untuk mengambil pasokan oksigen dan menghembusnya secara perlahan. Degupan jantung kini berdetak tak semestinya, bahu pun sudah naik-turun tak kunjung henti.
"Gila, ini bener-bener gilaa.." Suara yang hampir habis itu kini terdengar, terhempasnya banyak orang yang langsung jatuh terduduk dan tertidur ketika lagu yang di mainkan sudah berhenti.
Menetralkan degupan dan nafas kini mereka lakukan sambil memejamkan mata.
Desy yang sedang terduduk mengedarkan pandangannya, ia tertawa, "Mending gue lari sepuluh kilo daripada harus nari dua lagu barusan.."
"Mending tidur, udah yang paling bener emang tidur."
"Tidur terus lo Tasya kerjaannya!"
"Sirik aja lo kak Beby!"
Dua orang yang tak pernah akur kini berdebat, melayangkan tatapan mengejek sambil menjulurkan lidah.
"Di saat lagi capek pun, baku hantam tak menghalangi BebTet.."
"Gak, gue gamau BebTet!" Protes Beby, mendudukan dirinya dan bersandar pada tembok. Dirinya sudah mulai bernafas stabil, untung saja ia rajin menaiki sepeda setiap weekend. ".. Gue maunya BebShan! Boleh kan Shani?." Sambungnya, menatap Shani yang baru saja duduk di samping Gracia.
Shani tampak berpikir sejenak, "Boleh-boleh aja sih." Ucapnya, melirik ke arah Gracia sekilas yang sedang minum dan seolah tak peduli itu.
"Nah, mending gue sama Shani. Dianya aja udah setuju. Nanti kapan-kapan kita makan berdua ya, Shan?." Beby menurun-naikkan alisnya.
"Aku ngikut kak Beby aja."
"Cie udah manggil Beby, Beby padahal aku belum nyatain cinta.."
Shani hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Nanti aku telepon kamu ya Shan, jangan lupa angkat."
Para member saling melirik satu sama lain, bibir mereka sama-sama di lipat ke dalam. Tak mengerti kenapa pembahasannya jadi seperti ini, hawa di ruangan ber-AC ini tiba-tiba saja panas dan tak mengenakkan.
"Kak Beby ga sadar apa ya ada ci Gre?." Bisik Chika kepada Indy yang sedang terkekeh melihat ekspresi Gracia yang sudah menggelap.
Indy kini mengalihkan tatapannya pada Chika, menganggukan kepalanya, "Ci Shani juga malah ngeladenin. Member pada aneh kan? Kecuali gue."
"Yeh, sempet-sempetnya narsis."
Hening beberapa detik, hingga pada akhirnya ada yang membuka suara dan membuat semua mata menatap ke arahnya.
"Nin, anter aku ke belakang yuk!" Ucap Gracia yang kini berdiri dari duduknya, berjalan ke arah Anin dan menarik tangannya tanpa melirik ke manapun.
"Mantap Gre! Gracia keren banget mengembalikan kedudukan.." Ucap Desy sambil tertawa.
"Main bola kali ah."
