21. Together?

8.1K 501 113
                                        

Haii,

Yuk vote dulu, pencet bintangnya,
._.

Selamat baca yaaa.


Kok kalian pada galak-galak?🧐

****


".. Gausah ikutan buka puasa sama temen kampusmu, ini lagi ningkat banget kasus corona-nya. Emang kamu ga nonton berita ci?." Kata seseorang di sebrang sana.

Yang tadi di beritahu kini sedang mengambil barang bawaannya, kemudian bergegas keluar kamar untuk memakai sepatu, "Nonton, tapi cici cuma sebentar kok mah. Datang, makan terus pulang."

"Papah ngizinin?."

"Iya, ini juga di anter sama papah, nanti pulangnya di jemput sama koko."

"Yaudah kalau di bolehin, pesen mamah cuma hati-hati aja ci."

"Iya mah, hati-hati kok cici."

"Kalau gitu mamah mau masak dulu. Bilang ke papah nanti mau mamah telepon."

"Iya-iya, Assalamu'alaikum mah."

"Waalaikumsalam ci."

Shani menaruh handphonenya di dalam tas, kemudian mengambil sepatu berwarna putih dan menggunakannya. Melihat jam sekilas, kini waktu menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit. Segera bergegas mengambil tas dan keluar dari unit apartemen, menyusul sang papah yang sudah lebih dulu berada di mobil karena harus memanaskan mobilnya terlebih dahulu.

Setelah sampai, dirinya langsung membuka pintu di samping pengemudi, memasang seatbelt dan menoleh pada sang papah, "Tadi kata mamah, mamah mau nelpon nanti."

Papah shani menyalakan mesin mobilnya kembali, mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, "Iya, nanti biar papah aja yang telpon habis anter kamu."

Shani menganggukan kepalanya, kemudian mengambil handphone yang ada di dalam tasnya, melihat-lihat sosial media dan menonton youtube. Saat sedang terlarut dalam dunianya, suara dari sang papah membuatnya menoleh seketika.

"Oh iya, papah mau sombong dulu ah ke cici."

Shani mengerutkan keningnya, "Hah? Apa sih pah, kok jadi gajelas gini papah, kaya koko. "

"Papah di kirimin bakmie sama Klapertart ama gracia dong, banyak pula."

Shani membulatkan matanya, duduknya ia ubah menyamping. Kini dirinya duduk menghadap sang papah, seatbeltnya ia biarkan terlepas, untuk sekarang ia butuh penjelasan dari ucapan papahnya tadi, "Loh kok cici gatau sih?."

"Ngapain kamu harus tau? Kan makanan buka puasanya untuk papah sama koko, bukan kamu."

"Ih tau ah, nyebelin banget."

Merubah posisi duduknya, kini kembali menatap jalanan di depannya. Memberengut sebal saat menyadari dirinya belum berbaikan dengan gracia, kekasihnya itu masih menghukumnya dengan tak menghubunginya sama sekali, apapun itu.

Teringat lagi hal yang buat hatiku,
Jatuh cinta dengan hebatnya padamu,
Hingga kini ku belum mampu percaya,
Kau milikku s'lamanya~

"Beberapa minggu ini aku coba merenung ci, atas sikap aku ke kamu kepada tuhan-nya aku, mencari sosok untuk cerita dan memberi masukan sama kak beby,

Aku tau, sejak awal memang aku ini manusia paling egois yang segalanya pasti aku cemburuin atau tiba-tiba marah dan diemin kamu. Aku tau kamu ga bermaksud, tapi ini rasanya sakit banget ci gatau kenapa. Tapi, sepertinya aku berlebihan, ga seharusnya aku melarang kamu melakukan apapun yang kamu inginkan, karena itu hak kamu bukan aku,

Shani Untuk GraciaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang