18. Tahun Yang Berat

12.2K 497 82
                                        

Haii,

Yuk vote dulu, pencet bintangnya,
._.

Selamat baca yaaa.


Tok.. Tok.. Permisi pakeeeeeet! Hehe.

****


".. Kamu mau coba? Sedikit aja ci, ga pedes kok, sengaja ga aku kasih sambel banyak biar kamu juga bisa makan." Katanya, sambil menyuapkan mie panjang tebal itu ke dalam mulutnya.

Seseorang yang berada di sampingnya sedang memainkan handphone itu menoleh, melihat gracia sedang menguyah.

"Kamu aja, takut kurang kalau aku ikut makan."

"Apaan sih! Pake segala ngomong kaya gitu."

Shani terkekeh, meletakkan handphonenya di atas meja, dirinya mengubah posisi duduk menjadi sepenuhnya pada gracia. "Masih kenyang beneran."

"Yaudah lah, aku ga maksa. Mau kamu makan atau engga juga, percuma debat mulu." Katanya, kembali menyumpitkan mie itu untuk masuk ke dalam mulutnya, tidak mengeluarkan suara sama sekali, mengabaikan tatapan manusia menyebalkan di sampingnya yang masih menatap dirinya lekat-lekat dalam diam.

Hampir sepuluh menit shani melihat gracia tapi seperti di abaikan, akhirnya ia menghela nafasnya. Memajukkan kursi tersebut agar lebih mendekat.

"Iya aku makan, sekalian suapin kamu.." Ujar shani. Mengubah posisi gracia agar saling berhadapan, kemudian ia ambil mangkuk dan sumpit tersebut.

Gracia mengendus sebal.

"Tadi katanya gamau, tadi katanya kenyang." Mengerucutkan bibirnya, gracia tetap menerima suapan dari shani, tak menolak sama sekali.

"Nanti ada yang marah-marah, nanti ada yang ngambek, nanti ada yang diemin aku." Balasnya dengan santai, dirinya menyuapkan sendiri spagetti itu ke dalam mulutnya.

Decakan terdengar, semakin heran dengan shani yang semakin hari sifatnya semakin mengesalkan, padahal dulunya tidak seperti ini. Siapa yang mengajarkannya?!, liat saja nanti, gracia akan protes.

Shani terkekeh tiba-tiba. Dirinya mengambil tisu di saku hoodie-nya, mengarahkan dan mengusap dengan pelan sudut bibir gracia. "Padahal makan-nya udah pelan, kenapa masih belepotan sih? Bayi besar." Ledeknya.

"Kok ngeledek?."

"Perasaan aku ga ngeledek deh."

"Tadi bayi besar?!." Pekiknya, tidak terima.

"Emang iya aku ngomong bayi besar?."

"Iya ci shani."

Shani menaruh piring yang makanan-nya itu tinggal sedikit lagi. "Yaudah maaf deh ya, salah ngomong aku tuh." Ia mencoba mengalah, eh? Tepatnya mending mengalah daripada urusannya menjadi panjang.

"Gamau, sebe-." Sebelum selesai gracia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba dua orang berjalan ke arah mereka dengan suara yang cukup besar, memanggil keduanya.

"Mben, ci shani, ayoo latihan. Malah asyik berduaan, di cariin sensei dari tadi." Feni, bersama celine datang dan berhenti di depan mereka.

"Elite dikit dong cari tempat berduaan. Malah mojok di dapur, di basecamp pula. Sungguh terlalu."

Setelah mengatakan itu, feni berlalu begitu saja. Mengisikan botol minum-nya dengan penuh, kemudian berlalu menuju ruang tengah, tempat biasa para member berlatih.

Shani Untuk GraciaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang