Haii,
Yuk vote dulu, pencet bintangnya kakak
._.
Selamat baca yaaa.
****
"Waktu itu gracia curhat sama aku, dia tuh udah ga marah sama kamu shan, cuma gatau kenapa susah aja buat dia percaya lagi sama kamu, dia cuma takut." Ujar perempuan yang lebih tua dari shani, yang sedang mengaduk-aduk kopi sambil sesekali meminumnya.
"Maaf karena shani udah ingkari janji yang cici kasih ke shani, untuk selalu jaga gracia." Ia menunduk, tak berani menatap lawan bicaranya yang kini duduk di hadapannya, meski sama-sama teman segenerasi, tetap saja, dia lebih tua darinya.
"Aku engga marah sama kamu, cuma aku sedikit kecewa aja, kenapa bisa terjadi hal itu."
Shani terdiam, tidak menjawab. Sedangkan perempuan di depannya masih sibuk dengan segelas kopi sambil memainkan handphonenya, matanya sekali-sekali melirik ke arah shani. Ia membiarkan shani sibuk dengan dunianya sendiri, overthinkingnya yang pasti sudah menyelimuti pikirannya.
Minggu lalu, tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan gracia yang secara mendadak tanpa memberi taunya itu, ada di depan pintu rumahnya. Dengan wajah yang semakin tidak baik-baik saja.
Gracia menceritakan kenapa ia bisa di depan rumahnya tiba-tiba sampai pada akhirnya dia menceritakan masalahnya dengan shani, ia menangis dan ia juga merasa bersalah karena sudah mendiamkannya selama itu.
Sebenarnya itu bukan salahnya gracia, bukan salahnya shani juga, dan kita juga tidak boleh menyalahkan vienny. Tapi ini salah keadaan saja, dimana shani dan gracia tidak saling berkomunikasi sebelum terjadinya kejadian itu. Ia memberi nasihat kepada gracia agar secepatnya memaafkan shani, mendengar penjelasan shani. Awalnya gracia tidak mau, karena masih enggan. Tapi sebagai orang yang sudah dewasa, terlebih lagi ia sudah menganggap shani dan gracia sebagai adiknya sendiri itupun memaksa gracia agar segera berbaikkan, dan gracia menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan sudut pandang dari gracia, ia langsung menghubungi shani agar bisa bertemu dengannya. Dan sekarang ia sudah bersama shani disini, dari satu jam yang lalu, dan shani sudah menceritakan semuanya.
"Jadi sampai sekarang, sudah satu bulan kamu sama gracia jauhan?." Tanyanya, ia kembali bersuara untuk menyadarkan shani dari lamunannya.
"Iya, terhitung dua hari yang lalu, sudah satu bulan ci."
Perempuan itu menghela nafasnya.
"Gracia itu type orang yang gampang terbawa perasaan, dan kalau udah kecewa dia sulit banget untuk kembali seperti semula. Disini aku engga memihak sama siapapun, karena aku udah dengerin dari sudut pandang kamu maupun dia. Coba sekali lagi kamu ajak dia bicara, pelan-pelan aja, jangan di paksa kalau dia masih gamau. Tapi, kalau dia terus-terusan gamau, kasih tau aku." Ujarnya, sambil menepuk-nepuk tangan shani yang ada di atas meja.
Shani tersenyum sambil mengangguk. "Makasih ci ilen."
"Iya, sama-sama. Habis ini ada latihan ya?."
"Iya, dua jam lagi latihan." Ujar shani sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Di theater atau di basecamp?."
"Basecamp ci."
"Kalau gitu yuk, aku anterin."
"Eh gausah ci, aku bisa sendiri."
"Gapapa yuk, kan aku yang minta ketemuan tadi, sekarang biarin aku anterin kamu."
