Haii,
Yuk vote dulu, pencet bintangnya,
._.
Selamat baca yaaa.
****
Shani tau, apa yang menjadi resiko yang ia ambil akan membuat huru-hara dan juga pendapat yang berbeda-beda, tetapi jika tidak sekarang, ia tak memiliki hal yang ada di pikirannya untuk mencari momen yang pas itu kembali.
Setelah di percaya menjadi kapten di grup ini, sudah banyak yang ia alami, semua masa sulit dirinya yang di hadapi, membuat ia bertahan seperti sekarang. Kontribusi fans, management, member, keluarga dan juga seseorang yang sedang di hadapannya memakan sushi adalah hal yang paling penting untuk Shani.
"Habis ini kegiatan apa kamu?" Shani memakan sushi itu dan menatap Gracia yang kini tengah memberhentikan makan-nya dan melihat ke arah Shani yang tadi sedang bertanya.
Gracia meletakkan sumpit itu, membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di sekitar sudut bibir-nya, "Gaada sih, kayak-nya aku mau pijet deh, badan aku udah mulai ga enak, boleh?"
"Boleh, tapi aku gabisa nemenin gapapa?" Shani menyelesaikan makannya. Jujur saja kali ini ia sungguh-sungguh tak berselera makan.
Entah kenapa pikiran-nya begitu berkecamuk di kepala. Hal-hal yang ia tidak bisa bayangkan sebelum-nya itu terekam jelas di otaknya, fungsi otak cerdasnya kini tampak cemas untuk menghadapi beberapa hal yang akan terjadi di kepala.
Mendelik pada Shani dengan tatapan sedikit curiga, membuat Shani yang di tatap seperti itu kini sedikit salah tingkah, "Emang kamu mau kemana?" Pertanyaan itu kini terlontar yang membuat pemilik nama Shani Indira itu sedikit membuang nafas berat.
"Ketemu Teh Mel, ada beberapa yang harus aku bicarain."
"Bicara apa?"
Shani mengambil jemari Gracia yang ada di atas meja. Menggenggam-nya dengan begitu hangat, sekali-sekali ia usap dengan begitu lembut, "Ada beberapa hal yang harus aku omongin sama Teh Mel, Ge."
Gracia menganggukan kepalanya, tersenyum tipis dengan begitu cantik. Senyum itu sangat menular, Shani ikut tersenyum kepada Gracia yang kini menatapnya dengan begitu lekat, "Iya yaudah Ci, aku bisa sendiri kok, gapapa."
"Aku anterin kamu dulu, baru aku ke kantor."
"Ih gausah! Aku bisa sendiri loh Ci Shani."
Shani menggelengkan kepalanya, tanda ia sangat tidak setuju dengan pernyataan Gracia, "Kamu tahu aku ga suka ribut sama kamu? Jadi biar aku anter ya? Kalau aku tawarin tuh tandanya aku mau, ga merasa kamu ngerepotin atau apa, Ge."
"Ci, makasi banyak ya. Aku sayang kamu, gatau kalau gaada kamu gimana."
Satu pernyataan Gracia membuat jantung Shani berdegup kencang. Bibirnya tiba-tiba kelu, tidak tahu harus menjawab apa. Shani sangat-sangat berpikir keras, otak cerdasnya terus memproses apa yang terbaik untuk menjawab hal tersebut.
Nafas ia hembuskan perlahan, senyumnya ia tampilkan untuk membuat damai di resto sushi yang tidak terlalu ramai sore ini, menatap Gracia dengan penuh kasih, "Aku selalu disini, Ge. Aku gaakan ninggalin kamu, aku juga sangat-sangat begitu sama kamu."
Ayo Shani, aku sungguh-sungguh ingin mengatakan, bahwa aku sayang Gracia,
Ah, sangat sulit! Untuk di ungkap
Shani memasuki kantor yang sudah tampak sepi, mungkin saja beberapa member yang ada sudah berlatih dan berkegiatan. Jika tidak, bisa dipastikan ruangan dari pintu ini hingga setiap sudutnya akan di penuhi suara yang entah sedang membicarakan apa saja.
