Part 35

4.7K 482 153
                                        

Haii,

Yuk vote dulu, pencet bintangnya,
._.

Selamat baca yaaa.

****


Semuanya bisa saja berubah, tak terencana atau terencana sekalipun. Bukan inginnya, bukan juga pintanya, kadang Tuhan memang punya rencananya sendiri. Klise memang, tetapi mau bagaimana lagi, ini bukan sukanya.

Bagaimana pun, Tuhan yang menghidupi, Tuhan yang berhak atas semua yang ada pada dalam diri.

Semoga kali ini, Tuhan berbaik hati.

Jarinya terus membuka setiap lembaran pada buku yang cukup tebal itu, terkadang dirinya menuliskan note pada buku kecil yang selalu ia bawa kemana pun dan kapan pun itu ketika sedang berada di dalam maupun luar rumah. Hal yang membuatnya merasa jauh lebih tenang, hal yang selalu ia berlari dan kembali berserah tentang apa yang terjadi pada hidupnya yang ia sedang rasakan.

Alkitab.

Sebuah hal yang selalu berada pada genggamannya, yang selalu ada dan tak pernah hilang ketika ia mulai tak tenang.

Sudah entah berapa halaman yang ia baca, dan berapa puluh kata yang ia tulis, sejak dirinya duduk dan menundukan kepalanya satu setengah jam yang lalu. Sebuah helaan nafas terdengar, di iringi dengan dirinya menutup buku itu sambil memanjatkan doa penutup.

Pukul setengah tujuh kurang tujuh menit.

"Kak," Panggilnya saat ia melihat salah satu staff sedang berjalan di depannya.

Yang di panggil kini terhenti, melihat ke arah seseorang yang memanggilnya,"Apa Gre?"

"Eum, aku mau istirahat dulu di atas, nanti kalau member yang lain udah ada yang datang, tolong bilangin bangunin aku di ruangan biasa gitu, ya?" Katanya, sambil membereskan barang bawaanya dan mulai berdiri dari duduknya.

"Iya nanti aku bilangin. Lagian kamu, orang latihan masih jam delapan, jam segini udah di sini."

Gracia tertawa, "Kebetulan tadi adik aku lagi mau main sore, jadi yaudah sekalian aja berangkat bareng."

"Ah begitu. Yaudah sana, istirahat banyak-banyak Gre, kan dari kemarin kurang istirahat."

"Oke kak, Thank u sebelumnya."

Segera Gracia melangkahkan kaki jenjangnya pada lantai dua basecamp ini. Hanya beberapa orang saja yang berada di sini, mungkin karena produktif mereka beberapa bulan belakangan ini kebanyakan di malam hari, dan produktif seharian full hanya di waktu weekend.

Memasuki ruangan yang selalu menjadi tempat favoritnya ketika sedang menunggu jemputan tiba. Menaruh barang bawaannya, kemudian merebahkan diri di atas karpet tebal berbantalkan boneka putih seukuran dirinya. Tak berniat melihat handphone sama sekali, kini Gracia mulai memejamkan matanya.

Mengistirahatkan dirinya sejenak, dari hal-hal yang mungkin cukup membuat tenaganya terkuras habis, meski dirinya adalah orang yang sangat aktif dan energik.

"Ci Gre, Ci Gre, bangun Ci," Sayup-sayup terdengar orang yang memanggil namanya. Membuka mata sungguh amat berat bagi Gracia.

"Ci Gre," Panggilan itu kembali terdengar memasuki telinga, dengan beberapa kali guncangan halus pada lengan sebelah kanannya.

Mau tak mau, ia perlahan membuka mata. Menyesuaikan cahaya yang begitu terang, hingga menampilkan seseorang yang tengah melihat ke arahnya sambil tersenyum malu-malu.

Shani Untuk GraciaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang