Aku mau percepat alur, karena aku tidak mengikuti greshan dari awal.
Kalau ada yang tidak sama dengan real life maafkan, karena aku mau bikin fiksi aja, hehe.
Hai,
Selamat bacaa yaaa.
****
2016
Secarik kertas yang ku persiapkan untuk mengisi lembaran-lembaran kosong kini sudah terisi, terlampau penuh yang kurasakan. Entah memang takdir atau kebetulan semua sudah diatur sedemikian rupa. Masuk dan keluar dalam kehidupan kini silih berganti. Pertemuan dan perpisahan kini menghampiri.
Tak ada yang menemani dalam ruang kosong berwarna abu-abu ini, tak ada yang bisa paham dan mengerti isi relung hati kian terkikis sedikit demi sedikit.
Aku hanya ingin, yang pernah ku tuliskan dan kutetapkan itu tidak akan pernah berubah. Tapi sayang, semuanya butuh pembaharuan.
Gracia, perempuan manis itu kini tengah terduduk sambil bersila kaki di sisi ruangan yang penuh kaca di depannya. Suara bising dari berbagai kata sangat bergema di setiap sudut ruangan ini, menandakan bahwa tempat ini sangat ramai dan berpenghuni banyak.
Tapi tidak bagi dirinya, entah kenapa gracia merasa ada yang sedikit mengganjal dalam pikirannya. Tidak tau kenapa beberapa hari ini begitu sangat gelisah, seperti akan terjadi sesuatu. Yang membuat gadis ceria yang biasa bising ini, sekarang terduduk sendirian sambil melihat teman-temannya yang berlatih sebelum pelatih datang sambil bercanda gurau.
"Minum." Ujar seseorang yang kini tengah menyodorkan sebotol minuman dingin yang berkeringat itu.
Gracia melihat ke arah samping kiri, perempuan berlesung pipit dan mata sipit itu kini tengah menatap dirinya. Tak lupa, ekspresi datar tak ada senyum kini menghiasi bibir sang manusia di sampingnya.
"Aku engga haus." Ujar gracia, yang kini beralih menatap minuman yang masih di genggaman tangan seseorang di sampingnya.
"Emangnya cuma pas haus aja kita harus minum?." Tanyanya.
Gracia kikuk sekarang, kenapa ia terkadang gugup sama orang di sebelahnya ini, padahal dia sudah dua tahun menjadi temannya.
"Engga juga si ci." Ujar gracia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Yaudah, nanti aku minum." Sambungnya, sambil menerima sebotol minuman dingin itu.
"Kenapa?." Tanyanya.
Gracia kembali menatap mata itu sambil menautkan alisnya. Sedikit dirinya tak paham dengan pertanyaan barusan yang keluar dari perempuan sempurna itu.
"Apanya?." Tanya gracia pada akhirnya.
"Kamu." Ia berujar sambil menyedot bola-bola kenyal warna hitam rasa cappucino.
"Aku?." Tanya gracia sambil menunjuk dirinya sendiri.
Dia hanya mengangguk.
"Emang aku kenapa?." Gracia masih bingung. Ah, sepertinya perempuan di sampingnya ini yang sedikit belibet tidak mau ke intinya, sudah tau gracia sedikit lemah dalam hal memikir.
Dia mengangkat kedua bahunya.
"Ci shani, ih. Aku serius." Ujar gracia sambil mengambil minuman tersebut dari tangan perempuan sempurna ini, menaruhnya di belakang tubuhnya.
"Kenapa di ambil minumannya?." Tanya shani, ia melirik-lirik minuman yang baru ia minum setengah tersebut di belakang tubuh gracia.
"Jawab dulu pertanyaan aku."
