Seorang gadis mengerjapkan matanya malas saat mendengarkan bunyi alarm yang cerewet. Tangannya terulur dari dalam selimut, meraba-raba benda yang sudah mengganggu tidur pulasnya. Begitu ia menemukan jam meja berbentuk persegi tersebut, ia segera memencet tombol off.
Gadis itu pun kembali melanjutkan tidur. Kulitnya dapat merasakan cuaca yang cukup sejuk pagi itu sehingga ia enggan untuk beranjak dari kasur empuknya. Dia butuh tidur setelah dua hari bergadang mengerjakan pekerjaan yang tak kunjung habis. Ada lagi dan selalu ada saja.
Drrtt drrt drrt
Oh tuhan. Tangannya kembali meraba-raba benda bergetar. Sungguh kelopak matanya terlalu berat.
Drrtt drrt drrt
Karena tak menemukan ponsel yang sedang ia cari, gadis itu pun bangun dari tidurnya, memasang wajah kesal. Ia meraih ponsel yang baru saja jatuh ke lantai lalu menempelkan benda itu di telinganya dengan mata yang masih tertutup.
"Irina, kau dimana?"
Irina nyaris tertidur jika suara dari seberang tak berteriak lebih keras.
"IRINA! Jangan bilang kau masih tidur!"
"Hmm."
"Astaga. Bangunlah sekarang atau Damien akan memecatmu."
"Dia memecatku?"
"Ya jika kau tidak segera ke kantor."
"..."
"Ini kasus penting. Dia ingin kau segera ke kantor sekarang juga!"
Lagi-lagi Irina nyaris terbang ke alam mimpi. Dia benar-benar tak bisa fokus saat ini. Kantuk menyerangnya dengan sangat kejam. Bahkan ponsel pun kini terjatuh dari telinganya sehingga ia tak dapat mendengar teriakan Alexa lagi.
"..."
Namun detik berikutnya, mata cantik itu terbuka lebar. Ia segera memasang telinganya lebih tajam, berusaha mendengar suara aneh diluar. Irina yakin ia mendengarkan suara orang yang sedang memasak.
PRANG!!
Irina terperanjat kaget. Itu suara wajan yang jatuh. Tubuhnya meremang. Dengan gesit ia segera melompat turun dari ranjangnya, mengambil sesuatu dari bawah ranjang. Sebuah tongkat bisbol.
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang hukum, Irina memang harus waspada. Tak jarang rekan kerjanya mendapat teror dari orang-orang. Dengan pelan Irina pun membuka pintu kamarnya, mengintip ke arah dapur yang tak jauh dari sana.
"Meow!"
"Are you hungry?"
Suara seorang pria? Ia tak salah dengar kan?
"Meow!"
Saat ia keluar kamar, matanya langsung menangkap punggung seorang pria yang tengah membelakanginya. Punggung yang terpahat indah dengan bahu yang bidang itu tampak sedang memasak sesuatu.
Tanpa pikir panjang Irina segera melayangkan tongkat bisbolnya ke punggung pria itu.
BUGH!
Maxime terkejut sambil meringis kesakitan, reflek ia memutar badannya untuk menatap pelaku pemukulan tersebut.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku? Kau membuntutiku?"
Irina baru saja hendak melayangkan pukulan kedua sebelum Maxime meletakkan tangannya di udara, berusaha menjelaskan."No its not like that."
Sial. Pukulan Irina sungguh keras. Rasanya sakit dan nyeri.
Sedangkan Irina kini tampak sedang menyipitkan matanya. Ia seperti mengenali orang ini. Dengan mata tajamnya Irina memindai Maxime dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tubuh tinggi dan atletis. Dada kotak-kotak yang menandakan bahwa ia rajin berolahraga. Perutnya tak memiliki lemak sama sekali. Ada sedikit tato di dada sebelah kirinya. Rambutnya yang berwarna coklat keemasan tampak sedikit berantakan. Dan matanya memiliki lingkaran hitam, bukti bahwa ia tak tidur semalaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomanceThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
