Chapter 1 : His wedding

267K 14.4K 3K
                                        

"Apakah kau yakin masih bisa melakukan balapan ini, Dad?" Tanya Maxime pada ayahnya sambil menginjak puntung rokok di bawah sol sepatunya.

Aaric mengedikkan bahunya sombong sambil melemparkan kunci mobil pada Maxime lalu ia masuk ke dalam Lamborghini miliknya.

"Kau meragukan kemampuan ayahmu ini?"

Maxime mengejek sebelum dirinya masuk ke mobil, bersiap balapan dengan sang ayah malam ini. Saat keduanya sudah berada di balik kemudi masing-masing, Aaric menurunkan kaca mobil lalu tersenyum tipis pada putra semata wayangnya itu sambil menekan pedal gas, membuat deru mobil yang terdengar gagah.

"Kau siap, son?"

"Always."

"Siap untuk kalah maksudku."

Maxime tertawa renyah."Harusnya kau katakan itu pada dirimu, dad."

Aaric dan Maxime pun menaikkan kembali kaca mobil lalu menatap lurus ke depan, pada jalanan kota Manhattan yang begitu sepi di tengah malam itu. Detik berikutnya kedua mobil itu pun meluncur pesat saling mengejar demi sebuah kemenangan.

Maxime memimpin di depan. Mata elangnya melirik spion. Ah ayahnya selalu saja kalah namun sangat terobsesi untuk menang darinya. Maxime pun melepaskan kakinya sedikit demi sedikit dari pedal gas agar kecepatannya berkurang. Kali ini biarlah ayahnya itu menang. Tak lama melakukan pertandingan, akhirnya dua mobil itu pun sampai di di pinggir sungai kota Manhattan.

"Lihat, aku menang. Jangan meragukan kemampuanku, Maxie." Aaric berkata sombong.

Maxime pun bergabung dengan ayahnya sambil bersandar di kap mobil."Congratulations."

Aaric merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan rokok dan menyerahkan satu batang untuk Maxime, lalu menghidupkan benda itu.

"Maxie apa kau menginginkan pernikahan ini? Aku tak pernah memaksakanmu untuk menikah ataupun memimpin Patlers Group. Kau dapat menolak jika kau tak menyukainya. Mungkin sudah saatnya Patlers di pimpin oleh seorang wanita."

"Aku menginginkannya." Maxime memandangi ayahnya, meyakinkan pria itu bahwa dia memang ingin memimpin perusahaan besar itu.

"Aku hanya ingin kau bahagia. Hidupku hanya untuk kebahagiaanmu. Menikah dengan wanita yang tak kau cintai tidak akan pernah mudah. Aku sudah pernah melihat kisah menyedihkan itu pada Uncle Alaric. Aku dapat melihat bagaimana hancurnya pria itu akibat salah membuat keputusan dengan menikahi wanita yang tidak ia cintai."

Maxime menghembuskan asap rokoknya lalu tersenyum tipis pada ayahnya."Dont worry, dad. Everything will be fine."

"Kau yakin, Maxie?"

"Hm."

"Dengar Maxie, saat kau berurusan dengan sesuatu yang besar, kau tak pernah tau bencana apa yang akan menghancurkanmu. Aku tidak sedang membicarakan Patlers Group. Pernikahan adalah hal yang lebih besar dari perusahaan itu."

"Ini hanyalah pernikahan bisnis semata. Tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Aaric merangkul putranya lalu mencium kepala pria itu dalam-dalam."Aku tak ingin kau terpaksa melakukan hal yang tidak kau sukai."

"Aku sedang melakukan apa yang aku sukai. Aku sangat menyukai bisnis."

"Aku sangat mencintaimu, son. Kau tau itu kan?"

"Kau terlalu mencintaiku. Carilah wanita, dad."

"Aku tak butuh apapun bahkan wanita karena aku sudah memilikimu, Maxie. Tak ada waktu untuk tetek bengek percintaan." Aaric menghela napasnya."Aku hanya hidup untukmu seorang."

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang