Entah sejak kapan kedua anak manusia itu sudah telanjang bulat kini. Tubuh Maxime kembali merangkak dan menindih tubuh Irina. Sedangkan tangan Irina bergerak secara alami meremas rambut Maxime saat pria itu mencumbu bibirnya. Keduanya terbuai dalam ciuman panas tersebut. Namun Irina tak tau harus bagaimana. Ciuman ini begitu baru. Rasanya manis dan memabukkan. Ia tak pandai menggerakkan bibir maupun lidahnya yang terus mendapat serangan dari pria itu.
Sebelah tangan Maxime langsung menarik pinggul Irina lebih dekat ke tubuhnya sehingga kejantanan keras dan gagah itu dapat menggesek-gesek bagian luar kewanitaan Irina. Ia menggeram antara nikmat dan marah. Hatinya masih terbakar.
Lagi-lagi Maxime dibohongi oleh janji Irina untuk tidak datang ke bar. Bahkan kali ini wanita itu berani tebar pesona pada pria asing. Maxime tak sanggup membayangkan andai ia tidak datang tepat waktu, Irina pasti sudah bergumul dengan pria itu di atas ranjang.
Keparat!
Maxime segera menjauhkan wajahnya dari Irina, menegangkan rahang sambil memandangi kecantikan yang telah menghipnotisnya.
"I want to fuck you now."
Irina terengah-engah, pandangannya buram namun ia tak dapat menolak bahwa semakin dilihat pria ini semakin tampan. Dadanya yang bidang, perut tanpa lemak dan aroma maskulin tubuhnya yang membangkitkan gairah. Irina menarik kembali wajah Maxime dan melumat bibir pria itu. Bukannya malah senang, Maxime semakin marah hingga kepalanya seperti sedang dibakar habis-habisan. Tangannya mencengkram rambut Irina dengan kuat karena ia sangat marah.
Irina bertingkah seperti jalang untuk pria yang bahkan tidak ia kenal. Irina tidak tau siapa yang sedang ia cium. Kepada siapa ia sedang bertelanjang. Kepada siapa ia akan menyerahkan keperawanannya. Gadis itu tidak tau.
Memejamkan matanya murka, Maxime pun segera menuntun batangnya dengan kasar masuk ke dalam liang surgawi Irina.
"Aahh...!" teriak Irina kesakitan. Tubuhnya sampai tersentak menabrak kepala ranjang demi menjauhkan diri tapi Maxime kembali menarik pinggul Irina. Ia tak akan membiarkan gadis liar itu lepas. Sekuat tenaga Maxime mendorong batangnya yang bahkan belum masuk setengah.
"Feel the pain."
Saat Irina mencoba mendorong Maxime, pria itu segera menangkap tangannya dan mencengkramnya di kasur. Maxime membungkam mulut Irina dengan bibirnya, bahkan menggigit bibir gadis itu sampai berdarah.
Hatinya panas sekali. Sangat amat panas.
Teriakan Irina terkurung di dalam mulut Maxime sementara sudut matanya mengeluarkan air saat Maxime terus membobol segel yang masih membungkus keperawanan gadis itu. Butuh waktu yang lumayan lama untuk bergelut disana sampai batang Maxime mulai terasa bagai di jepit dengan sangat kuat.
Maxime akhirnya berhasil menancapkan seluruh batangnya ke dalam liang senggama Irina. Dengan keras pula ia menghujam Irina di dalam sana seolah meniduri jalang bukan perawan. Ia tidak peduli sama sekali saat merasakan paha Irina yang bergetar karena kesakitan.
Oh Maxime tidak tau apa itu toleransi.
Lagipula, itulah tujuannya. Menyakiti Irina.
Bibir Irina bergetar. Kewanitaannya bagai dicabik-cabik rasanya. Setiap kali Maxime bergerak, nyerinya bukan main namun lama kelamaan semua itu berubah menjadi sebuah kenikmatan. Saat gairah keduanya bersatu membentuk rasa yang luar biasa.
Irina mulai mendesah dengan mata terpejam. Tangannya mencengkram punggung Maxime kuat-kuat bahkan sesekali ia menggigit pundak Maxime. Sentakan demi sentakan terus mengaungi ruangan. Deru napas dan desahan saling bersahutan. Maxime mengusap bibir Irina yang terbuka setengah, begitu sensual dan seksi. Ia ingin terus menciumi Irina sampai bibir itu bengkak untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomansaThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
