Mata Maxime terus memandangi Irina. Sial. Maxime tak mengerti kenapa kejantanannya berdenyut gila. Apakah itu efek dari tendangan atau efek dari gairah yang masih hidup. Entahlah.
Ia bahkan mulai membayangkan bibir ranum itu terbuka sedikit lalu menyebut namanya sambil mendesah. Atau payudara penuh itu bergoyang di depan matanya. Atau mata indah itu terpejam oleh kenikmatan. Maxime menginginkan Irina berada di bawahnya saat ini.
Brengsek memang. Yah, dia memang brengsek.
"Jika kau keberatan kau boleh keluar dari tempatku."
"Aku rela membayar dua kali lipat untuk kamar itu."
"Baiklah $10000." Irina berharap Maxime muak dengan sikapnya sehingga memilih untuk pergi dari apartemen ini.
"Aku tak percaya kau seorang wanita mata duitan. Apakah kau kekurangan uang selama menjadi anak rantau?"
Irina terus memandangi Maxime dengan raut wajah dingin, tak segan-segan memperlihatkan bahwa dirinya sangat terganggu oleh kedatangan pria itu. Apa dia tetap tidak akan pergi juga?
"I want to know more about you."
"Aku tidak terlalu suka pada orang yang terlalu ingin tau tentang diriku." Jujur Irina.
"Dari mana kau mendapatkan sifat sombong ini? Ibumu cukup ramah. Ayahmu juga. Kakakmu bahkan sangat bersahabat. Apa kau sebenarnya anak pungut?"
Irina merasa kesal dan tak suka dengan perkataan Maxime. Sementara mata Maxime menggelap oleh gairah yang semakin sulit ia tahan kini.
Brengsek. Berhentilah menegang!
Oh ya ampun, pria ini sepertinya memang tidak berniat pergi dari sini.
Irina pun berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa mengunci pintu. Omong-omong, sedari tadi jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang terjadi. Dia tak ingin memikirkannya karena itu ia harus segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama kemudian kegiatan di kamar mandi pun selesai. Irina memakai tank top satin berwarna krem dipadu dengan celana cullotes senada dan terakhir blazer hitam. Irina menyapukan sedikit lipbalm pada bibirnya yang merah muda, lalu memakai bedak tabur dan menyisir rambut coklatnya.
Hal terakhir yang ia lakukan adalah mengambil laptop serta beberapa dokumen.
Seharusnya sekarang dia masih tidur pulas tapi Damien tak bisa di abaikan. Pria gila kerja itu tak pernah main-main dengan perkataan menyebalkannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Maxime saat melihat Irina keluar dari kamar.
Keparat. Blazer dan celana cullotes yang membungkus tubuh tinggi nan langsing milik Irina membuat Maxime terpesona.
"Aku harus pergi bekerja." Jawab Irina sambil memakai high heels nya. Kini ia benar-benar tampak seperti wanita karir yang sempurna.
"Berapa nomormu?"
"Untuk apa?"
"Karena kita tinggal satu rumah. Itu artinya kita harus tau nomor ponsel masing-masing."
"Satu-satunya yang perlu kau tau adalah password rumahku. Dan kau sudah tau itu."
"You are right. But i still want to know your number."
Irina menatap Maxime lama, memindai wajah pria itu, mencari maksud terselubung yang mungkin disembunyikan olehnya. Bukan apa-apa, kekesalannya belum reda tapi dia sudah berani meminta nomornya.
"Selama aku disini, kau akan menjadi tanggung jawabku. Jadi kemanapun kau pergi, aku harus tau." Maxime melanjutkan modusnya.
"Bertanggung jawab atas apa? Kurasa aku baik-baik saja selama ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
Storie d'amoreThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
