Chapter 12 : For the rest of his life

174K 10.7K 1.8K
                                        

Irina mengurung dirinya di kamar sambil terisak. Air matanya tak mau berhenti keluar. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan penuh dengan jejak merah dimana-mana. Selangkangannya nyeri bahkan masih mengeluarkan sedikit darah saat ia buang air kecil tadi pagi. Ia tak dapat berjalan dengan baik ditambah kepalanya yang terasa sangat amat berat. Irina mengambil inhaler untuk menghirupnya akibat dada yang semakin sesak.

Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal, melanjutkan tangisannya yang tak mengubah apapun. Rasanya tak ada guna bertanya kenapa ini bisa terjadi dalam hidupnya karena tidak ada jawaban untuk itu.

Seberat apapun Irina memutar otaknya untuk mencari tau motif Maxime melakukan ini, tetap saja tak ada jawaban yang masuk akal. Awalnya Irina ingin memaklumi sikap otoriter pria itu tapi bercinta dengannya... Irina memukul bantal.

Bayang-bayang tentang percintaan panas semalam kembali berputar di dalam benak Irina. Ia masih dapat merasakan sentuhannya, tatapan marahnya, erangannya, cara dia bergerak keluar masuk di bawah sana, bahkan setiap kecupan basah yang pria itu berikan kepada Irina masih dapat ia rasakan dengan sangat jelas. Panas kembali menjalar di kulit wanita itu tapi air mata pun bertambah satu liter lebih banyak dari sebelumnya.

Maxime adalah sepupunya. Dan yang paling gilanya lagi, pria itu sudah memiliki istri.

Bangun dari tidurnya, Irina mengusap air mata dengan kasar. Tatapannya tajam sebelum ia keluar dari kamar dan segera membuka kamar Maxime. Pria itu sedang berbicara di telepon, menoleh pada Irina sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Hm, aku hubungi lagi nanti." Ujar Maxime sebelum memutus sambungan telepon, lalu memandangi Irina."Ada apa, sayang?"

"Berhenti memanggilku sayang!" Irina marah bukan main."Berhenti bertingkah seperti kau masih lajang dan sedang menggoda gadis. Apa kau tidak tau sikapmu itu sangat menjijikkan?"

"Apa kau datang ke kamarku hanya untuk memakiku?"

"Bagaimana bisa kau punya pikiran untuk melakukan seks denganku?" Irina memicingkan matanya geram."Kau sudah beristri, kita sepupu. Bagaimana bisa kau punya pikiran kotor seperti itu? Oke jika aku salah karena sudah menyeretmu ke kamar club tapi kau tau aku sedang mabuk dan kamar itu sangat redup!"

Maxime berjalan lebih dekat pada Irina, memandangi wajah kesukaannya yang penuh dengan air mata.

"Aku sudah memperingatimu sebelumnya bukan, Irina sayang?" Desis Maxime pelan."Bahwa aku ingin bercinta denganmu?"

Irina baru saja hendak melayangkan tamparannya namun Maxime segera menangkap tangan wanita itu.

"Sepertinya kau sedang berusaha membangkitkan gairahku lagi, sayang."

Napas Irina benar-benar tak beraturan. Kebenciannya bertambah semakin banyak ketika melihat kilat cabul penuh dengan nafsu di dalam bola mata gelap Maxime. Apalagi pria itu tampak begitu santai seperti tidak terjadi apa-apa.

"Bagaimana kau bisa sesantai ini?"

"Tidak ada alasan aku harus berteriak seperti yang kau lakukan." Jawab Maxime."Because last night is the best night that i have ever had, mi amor."

"Itu adalah mimpi buruk—"

"Sshh, itu bukan mimpi buruk." Maxime berkata dengan nada rendahnya."You are so good in bed." Maxime menyunggingkan senyum tipisnya sambil merengkuh wajah Irina.

Irina mencoba melepaskan tangan itu tapi Maxime mengeratkan cengkramannya. Oh pria sakit jiwa ini terlihat seperti predator yang menemukan mangsanya.

"Haruskah aku beritahu berapa kali kau keluar untukku hm?"

"Diam—"

"Kau orgasme hingga lima kali, sayang."

FORBIDDEN DESIRECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang