Chapter 27 : His secret place

118K 9.3K 1.6K
                                        

Di sore hari, Maxime diperbolehkan pulang karena kondisinya yang tidak membutuhkan rawat inap. Dokter hanya berpesan agar Maxime tidak terlalu banyak beraktivitas dulu selama masa pemulihan. Tapi tampaknya pria itu tak peduli tentang anjuran tersebut karena saat ini saja ia bersikeras menolak kursi roda ketika keluar dari rumah sakit. Ia lebih memilih dipapah oleh Irina padahal ada Dominic bersamanya.

Dengan tubuh besarnya, tentu Irina sedikit kesusahan memapah Maxime. Mulanya Irina jengkel dan berdebat tentang itu hingga akhirnya ia kalah dan terpaksa berjalan terseok-seok menopang sebagian berat badan Maxime yang bersandar padanya.

Namun terlepas dari rasa jengkel, ada perasaan lain yang hinggap kala Maxime terus memberikan ciuman di puncak kepalanya.

"Biar aku saja yang melakukannya," Dominic yang ikutan jengkel melihat kelakuan Maxime pun berusaha menarik lengan pria itu untuk dipapah. Irina berjalan seperti siput dan Dominic tidak suka pekerjaan yang lambat.

Menyadari Maxime menahan tawanya, Irina berdecak semakin kesal. Pria ini memang sedang mengganggunya.

"Kita tidak akan sampai-sampai sebelum aku jatuh pingsan," keluh Irina. Bahkan mereka belum setengah jalan menuju tempat mobil diparkirkan.

"Padahal pekerjaan di atas ranjang lebih menguras energi tapi kau tidak pingsan." Maxime sengaja berbisik agar Dominic tidak mendengarkan.

Pipi Irina memerah karena malu. Apalagi ia dapat merasakan tatapan cabul Maxime yang menggoda. Membuatnya kembali mengingat bagaimana dirinya menjadi wanita jalang yang bergerak liar di atas pria itu. Kali ini tidak ada embel-embel mabuk. Dia bahkan cukup sadar melakukannya. Dia bahkan cukup gila karena tidak dapat menolak ajakan bercinta padahal harusnya ia lakukan itu mengingat kondisi Maxime.

Sekarang baru tau malu. Tadi, kemana saja? Irina merutuki dirinya sendiri. Namun anehnya ia tak menyesal sudah mewujudkan salah satu fantasi seks Maxime. Bercinta saat sedang sakit.

Maxime terlalu gila.

"Sepertinya aku harus sering sakit untuk dapat membawamu ke atasku, sayang." Bisik Maxime lagi, seolah tau apa yang sedang dipikirkan Irina.

"B-bisakah kau berhenti bicara seks?" Irina melirik Dominic yang pura-pura tidak mendengarkan.

Maxime hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum ia mendaratkan kecupan lebih dalam di dahi Irina lalu dirinya pun membebaskan wanita itu dari keharusan memapah.

"Apa kau bisa berjalan?" Irina ngeri melihat Maxime yang kini mencoba berjalan dengan kaki sedikit pincang.

"Jangan khawatir, kau sudah melihat aksiku yang lebih dari sekedar berjalan." Lagi-lagi perkataan pria itu mengarah pada aksi percintaan mereka di atas ranjang.

"Jadi kenapa dari tadi kau bersandar padaku?" Kesal Irina. Nyatanya pria itu memang cukup kuat. Di atas ranjang saja dia bisa bergerak liar walau tak leluasa seperti saat sedang sehat.

"I need to be close to my charger to fill my energy."

Irina tidak merespon, ia menjatuhkan pandangannya ke tanah sambil menahan senyum malu. Tidak ada nada yang menyiratkan bahwa ia sedang mengatakan sebuah rayuan atau omong kosong dari setiap kalimat manis yang keluar dari bibir Maxime. Seolah-olah, Irina memang adalah sebuah charger bagi Maxime.

"Sayang..." panggil Maxime sambil menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Irina yang tertinggal di belakang."Jangan melamun, nanti kita akan mengulanginya lagi jika kau masih belum bisa melupakannya."

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang