Chapter 40 : Her party

160K 9.5K 3.5K
                                        

Kembalinya Irina disambut dengan penuh suka cita oleh keluarga besar The Patlers. Sheena langsung memeluk dan menciumi putri bungsunya sambil menangis. Abraham apalagi, ia tak berhenti memeluk Irina. Sama seperti yang lainnya Reagan memeluk wanita itu dengan tubuh keriputnya. Kacamata yang bertengger di hidung pria tua itu tak membuat Irina sulit melihat bola mata Reagan yang berkaca-kaca.

"My Nono is back." Ujarnya serak.

"Grandpa tau kan, aku tidak suka dipanggil Nono." Jawab Irina."Tapi Grandpa juga tak cocok memanggilku Irina jadi yasudahlah."

Reagan tertawa pelan sambil memeluk cucunya sekali lagi."Kau sudah tumbuh besar. Padahal baru kemarin kau memukul wajahku dengan tangan mungilmu, Nono."

"Tidak kemarin juga, Grandpa. Sudah dua puluh tahun yang lalu." Karin memutar bola mata lalu semuanya terkekeh lucu. Pasalnya kakek mereka sudah mulai pikun.

"Daddy miss you so much." Abraham merengkuh wajah Irina lalu mengecup keningnya.

"Aku juga merindukanmu, daddy." Irina memeluk Abraham sambil memejamkan matanya. Sudah lama sekali ia tak memeluk ayahnya.

Abraham mengusap pelan punggung putri yang begitu ia rindukan. Kabar bahwa Irina akan berkarir di Amerika sesungguhnya membuat Abraham sedikit paranoid. Kebiasaannya menjauhkan orang-orang yang ia sayang masih saja tak dapat ia hilangkan. Tapi jika itu keinginan Irina, ia tak dapat mencegahnya. Abraham sudah belajar di masa lalu untuk mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya.

"Hola, little cat."

Irina membuka matanya, melihat arah suara dan itu adalah milik paman sekaligus ayah dari Maxime, Aaric. Pria itu tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya sebagai sapaan.

"Uncle Aaric." Irina datang untuk memeluknya.

"Cómo estás, cariño?"

"Bien, que tal tú?"

"Muy bien."

Irina tersenyum dan mengangguk pelan. Ia tidak tau bagaimana mengungkapkan perasaannya saat melihat wajah Aaric. Itu adalah paman dan ayah dari... kekasihnya. Gila memang.

"Irina, hai apa kabar?"

Mata Irina kini mengarah pada seorang wanita yang tampaknya baru keluar dari sebuah ruangan. Dengan gaun coklat berbahan beludru dan rambut di sanggul, wanita itu datang memeluk Irina.

"Aku Carla, kau pasti belum mengenalku?"

"Maklum saja, dia bagai anak kucing liar yang baru pulang sekarang. Menyebalkan bukan?" Sheena kemudian merangkul Irina."Tapi untung saja dia masih tau jalan pulang."

Carla tersenyum sambil kembali memandangi Irina."Rasanya senang sekali akhirnya aku bisa mengenal semua sepupu dari suamiku."

"Ah benar, hanya Irina yang tidak hadir di pernikahan kalian. Waktu itu kau sedang ada ujian ya sayang?" Tanya Sheena pada Irina.

Irina hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya.

"It's okay." Carla berkata."Selama ini aku selalu bertanya-tanya seperti apa Irina? Ternyata dia lebih cantik dari yang aku bayangkan. Mirip sekali denganmu, Sheena."

"Jika kau penasaran seperti apa aku saat muda dulu, lihat saja Irina. Secantik inilah aku." Sheena tertawa pelan menanggapi kicauannya.

"Irina versi lebih cantiknya karena sudah bercampur dengan darahku." Abraham menyombong.

"Walaupun menyebalkan tapi aku setuju denganmu, sayang." Sheena memutar bola matanya dan Abraham terkekeh.

"Senang bertemu denganmu, Irina." Carla memberikan senyum tipis.

FORBIDDEN DESIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang