Melbourne, Australia
Irina sedikit merasa canggung saat melangkah masuk ke dalam ruangan kerja yang masih kosong. Oh sepertinya Irina datang terlalu pagi. Meletakkan laptop dan tasnya di atas meja, Irina pun mengambil napas melihat tumpukan pekerjaan yang tidak seberapa. Sepertinya Damien sudah menyelesaikan sebagian atau bahkan semuanya. Irina menghidupkan komputer. Mulai hari ini ia harus kembali pada kehidupan sebelumnya.
"Selamat pagi," sapa salah seorang rekan kerja Irina.
"Selamat pagi."
"Kau datang lebih awal. Sepertinya sudah rindu pekerjaan ya? Bagaimana liburanmu?"
"Menyenangkan." Irina tersenyum sambil mengangguk.
"Are you okay, Irina? Kau tampak sedikit pucat."
"Mungkin karena bangun terlalu pagi. Nyawaku belum sepenuhnya berkumpul."
"Yah, masuk akal."
"Selamat pagi," Alexa memasuki ruangan dan langsung berbinar saat mendapati Irina."Wow, aku tidak menyangka kau akan masuk kerja hari ini." Alexa mengatakan sambil menarik kursi yang ada di meja kerjanya.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan di kota ini selain bekerja." Irina mengangkat tangannya sambil tertawa kecil, memperlihatkan gigi-giginya yang cantik.
"Apa kau baik-baik saja? Kau pucat." Kening Alexa berkerut tipis.
Irina belum sempat menjawab karena saat itu Damien baru saja memasuki ruangan. Mata pria itu tampak sedikit terkejut melihat kehadiran Irina. Ia pun langsung duduk di meja kerjanya yang terletak tepat di depan Irina.
"Morning," sapa Damien sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja.
"Morning."
"Bagaimana liburannya? Menyenangkan sepertinya." Dia bicara tanpa mau melihat Irina, tangannya sibuk dengan berkas dan matanya mulai memandangi komputer.
"Menyenangkan."
"Pekerjaanmu sudah kuselesaikan semuanya. Kau tidak perlu melakukan apapun." Sindiran keras itu menohok hati Irina.
"Terimakasih. Aku bisa lakukan pekerjaan baru." Irina menatap Damien yang juga sedang menatapnya dingin saat ini.
"Aku mulai terbiasa melakukannya sendiri."
Alexa berdeham penuh arti."Kalau tidak keberatan, kau bisa membantuku dengan pekerjaanku, Irina."
Damien menghela napas pelan lalu berdiri, memasukkan tangan ke dalam saku celananya dan berdiri di depan meja Irina, menatap wanita itu dengan tatapan menjengkelkan. Irina menunggu saja apa yang akan dikatakan pria itu.
"Sebenarnya aku sudah tidak punya alasan mempekerjakanmu sebagai asistenku." Damien berkata."Sekarang aku ingin kau memberikanku satu alasan saja kenapa aku harus mempertahankanmu di kursi itu."
"Aku akan bekerja lebih baik ke depannya."
Damien menatap Irina sedikit lebih lama sebelum ia kembali ke meja kerjanya, fokus di depan komputernya.
Dan Irina juga fokus pada layar komputernya untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan walaupun ia tak tau harus melakukan apa karena tampaknya Damien benar-benar sudah menyelesaikan pekerjaannya. Jadi karena tidak ada yang dapat ia lakukan, Irina pun mengambil ponsel, melihat kalau-kalau ada yang menghubunginya.
Tidak ada.
Sedikit perasaan kecewa hinggap dalam nadinya. Mungkin Maxime sedang sibuk dengan pekerjaannya. Irina kembali meletakkan ponsel di atas meja lalu menyusun file-file yang berantakan di dalam komputernya hingga akhirnya jam pulang kerja pun tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
CintaThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
