Melbourne, Australia
Mata Irina terfokuskan pada layar komputer sejak ia masuk kantor pagi-pagi tadi. Damien akhirnya memberikannya beberapa pekerjaan walaupun hanya merevisi beberapa data. Bukan pekerjaan berat bahkan itu terkesan seperti tidak bekerja sama sekali karena Irina dapat menyelesaikannya dalam waktu singkat. Tampaknya Damien memang sedang menyiksa Irina. Jadi karena tidak ada yang dapat ia lakukan, Irina pun memilih untuk main The Sims. Irina harus menyibukkan dirinya karena tidak ingin pikirannya terus mengingat apa yang ia nonton di TV kemarin malam.
Kemarin, Irina benar-benar pergi merayakan pesta ulang tahun Louis di sebuah cafe. Mereka bersenang-senang namun suasana hatinya langsung berubah ketika TV disana menyiarkan pernikahan seorang selebriti Amerika yang dihadiri oleh berbagai kalangan konglomerat termasuk Maxime. Pria itu terlihat begitu gagah dengan tuxedo dan senyum tipisnya, digandeng oleh Carla yang begitu cantik dengan gaun ungu. Ternyata itulah yang membuat Maxime pergi pagi-pagi buta tanpa permisi dan hanya meninggalkan pesan?
Sudahlah, memang dia siapa harus cemburu?
"Kau lebih baik pulang saja kalau datang kesini hanya untuk bermain game." Suara Damien terdengar dingin dan Irina baru menyadari pria itu sedang berdiri di depan mejanya dengan gaya yang angkuh dan bossy."Suara game mu mengganggu konsentrasi orang-orang."
Irina melirik kiri dan kanan, pada rekan kerjanya yang berpura-pura sedang fokus di depan komputer. Padahal Irina tau betul kalau telinga mereka lebih berfungsi daripada mata.
"Pekerjaanku sudah selesai."
"Bukan berarti kau boleh main game." Potong Damien."Entah mengapa aku masih saja membiarkanmu berada satu ruangan denganku. Ingin sekali aku memecatmu."
"Pecat saja kalau begitu." Irina menatap Damien dingin. Ia sedang tidak berada dalam suasana hati yang bagus saat ini.
Aneh, beberapa hari yang lalu ia sangat gampang bersedih. Tapi sekarang, ia malah lebih gampang marah-marah. Irina sedikit senang karena setidaknya itu lebih baik daripada mengeluarkan air mata menjijikkan untuk seseorang yang tidak jelas.
"Aku akan memberimu kesempatan," Damien menghela napas."Citramu akan buruk dan kau akan sulit mendapatkan pekerjaan di firma hukum yang lain."
Irina tidak menjawab namun Damien dapat melihat rahang yang tegang dan sorot mata pembunuh di dalam bola mata cantik wanita itu. Merogoh sakunya, Damien pun mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita kecil berwarna gold.
"Semoga hadiah kecil ini bisa membuatmu lebih giat bekerja bukannya main game." Setelah mengatakan itu, Damien kembali duduk di tempatnya.
Apa-apaan?
Irina menatap kotak kecil itu, heran dan bertanya-tanya apa yang salah dengan Damien.
"Hei apa isinya?" Alexa berbisik dari meja sebelah."Aku penasaran. Bukalah."
Irina mengambil kotak itu lalu membukanya pelan-pelan. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk timbangan, lambang keadilan.
"Ya ampun cantik." Bisik Alexa.
Irina pun bangun dari duduknya dan berdiri di depan meja Damien."Aku tidak bisa menerimanya." Diletakkannya kotak tersebut di atas meja Damien.
"Anggap itu permintaan maafku. Aku sudah lama ingin memberikannya tapi tidak pernah ada waktu yang tepat karena kau terus membuatku marah."
"Dan menurutmu ini waktu yang tepat?"
Damien menghela napas, bersandar di kursi sambil memandangi Irina."Terima saja. Setelah itu urusan kita selesai. Aku tidak perlu merasa bersalah lagi karena sudah sering membentakmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomansaThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
