Suara halus ombak dan cahaya matahari yang menerpa pelupuk mata Irina membuatnya perlahan-lahan kembali ke alam sadar. Matanya sedikit bergerak namun ia tak kuasa membukanya. Ia masih ingin tidur tapi bayang-bayang Maxime yang kembali berkeliatan benar-benar harus segera dihentikan. Irina kembali mengingat tentang yang terjadi semalam saat badai menciptakan suasana horor di dalam kapal mewah itu.
Deburan ombak yang ribut disertai hujan dan angin kencang membuat Irina harus meringkuk di dalam selimut dengan tubuh gemetaran.
Namun bukan itu intinya. Usaha Irina untuk tidak memeluk Maxime pun gagal total. Entah bagaimana ceritanya ia sudah berada dalam dekapan Maxime dengan pipi menyentuh dada pria itu. Irina memejamkan mata dengan Maxime yang terus mengecup puncak kepalanya. Tidak tau harus disebut apa perasaan itu. Nyaman dan takut datang bersamaan. Satu lagi, memalukan.
Irina pun menggeser tubuhnya dari Maxime saat ia kembali pada kesadaran bahwa tak semestinya ia memeluk pria itu bahkan setakut apapun dirinya terhadap badai yang menerjang.
"Jangan jauh-jauh dariku." Maxime kembali menarik lalu mendekap erat tubuh Irina.
Irina tidak dapat berkata-kata akibat rasa ngeri yang menjalar, ia hanya terus berusaha menjauhi pria itu. Sialnya, gerakan reflek Irina datang begitu saja saat suara petir menggelegar bagai membelah kapal sehingga ia sontak bersembunyi kembali dalam pelukan Maxime.
"Tetaplah seperti ini." Maxime tersenyum tipis merasakan pelukan dari wanita kesayangannya tersebut.
Ditengah-tengah terpaan badai, Irina dapat merasakan bunyi debaran jantungnya yang menggila. Aroma memabukkan yang dipancarkan oleh pori-pori Maxime kembali menghantarkan perasaan aneh ke dalam diri Irina. Ia memberanikan diri untuk mendongak, menatap bola mata gelap Maxime yang tengah memperhatikannya. Pria itu bergerak sedikit lebih ke bawah hingga wajah mereka kini sejajar.
Maxime mengakui bahwa ia tak pernah melihat ciptaan Tuhan yang lebih cantik daripada makhluk di hadapannya saat ini. Sepertinya Abraham dan Sheena benar-benar bekerja sama dengan baik.
"Apa kapalnya baik-baik saja?" Irina benar-benar takut jika kapal tenggelam.
"Hm." Gumam Maxime halus."Apa kau lebih takut kapal tenggelam daripada milikku yang tenggelam di dalam milikmu?"
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."
Tangan Maxime bergerak menyentuh betis Irina, perlahan naik ke pahanya, masuk ke dalam gaun katun berbahan halus hingga sampai di pangkal paha Irina. Maxime tau cara mengalihkan rasa takut Irina terhadap badai dengan rasa takut yang lebih... nikmat. Itu lebih baik bukan?
Maxime mendekatkan bibirnya pada Irina dan langsung melumatnya tanpa aba-aba. Ia tak tahan dengan hasrat gila yang terus memukulnya sedari tadi. Berada begitu dekat dengan Irina membuat gairah itu tak dapat terelakkan. Setelah beberapa saat, ia melepaskan bibirnya dari Irina. Pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu buas mencium wanitanya.
Seluruh indra Irina hanya terpusat pada sentuhan Maxime yang kini bergerilya di tepi kewanitaannya. Perlahan jari itu menyusup ke dalam celana dalamnya hingga menimbulkan gelanyar aneh saat pria itu mengelus bibir yang ada di selangkangannya.
"Should we make this thunderstorm become thundersex?" Bisikan Maxime bagai godaan setan. Tidak ada manusia yang kuat dengan godaan itu rasanya.
Sentuhan lembut kali ini terasa begitu berbeda dari sebelumnya. Entah karena Maxime melakukannya dengan lihai atau memang gairah Irina yang sudah hidup hingga ia sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah saat ini.
"Say something, mi amor." Maxime mencumbu telinga Irina sementara jarinya masih ingin bermain di luar saja. Ia dapat merasakan gerakan Irina yang mulai menggeliat, seolah minta dimasuki.
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomanceThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
