Sebuah tangan kekar terasa berat di atas perut Irina. Ia berusaha untuk keluar dari jepitan itu namun tidak bisa. Dirinya seperti sedang di timpa sebuah pohon besar dan itu rasanya sangat amat menyakitkan. Tidak ada udara yang dapat menerobos masuk ke dalam paru-parunya hingga rongga dadanya terasa bagai di tikam. Benar-benar tidak ada celah baginya untuk keluar dari sana.
Dadanya mulai sesak oleh air mata, ia tidak tau sedang berada dimana karena semuanya gelap gulita. Saat berteriak minta tolong, Irina hanya mendengarkan kembali pantulan suaranya. Bahkan mungkin tidak ada suara yang keluar. Teriakan itu hanya mengambang tidak berguna di dalam benaknya yang mendung.
"Sayang...?"
Irina bersusah payah membuka mata dan mengembalikan kesadarannya. Tangan kekar itu adalah tangan Maxime yang ternyata sedang memeluknya. Butuh waktu bermenit-menit bagi Irina untuk memberitahu dirinya bahwa tadi hanyalah mimpi. Keringat dingin menguar lewat pori-porinya serta dadanya naik turun akibat napas yang putus-putus.
Maxime segera mengambil inhaler di atas nakas lalu memasukkan benda itu ke dalam mulut Irina sampai Irina kembali bernapas dengan baik.
"Kau bermimpi buruk?" Tanya Maxime.
Irina berbalik agar ia bisa menatap wajah Maxime. Dadanya tampak masih naik turun akibat ketakutan yang baru saja ia dapat dari mimpi. Matanya melirik jam dan masih pukul lima pagi. Kemudian kedua tangannya bergerak memeluk Maxime sambil meletakkan pipinya di dada pria itu. Sentuhan halus yang menenangkan dapat ia rasakan di pundaknya.
"Maaf sudah membangunkanmu." Kata Irina pelan, suaranya tenggelam dalam mimpinya yang mengerikan.
"Apa yang kau mimpikan?"
"Aku tidak ingat."
Maxime hanya diam sambil memberikan kecupan menenangkan di puncak kepala Irina yang basah oleh keringat. Matanya menerawang jauh. Ia tidak suka melihat Irina-nya seperti ini. Bahkan walau itu hanya mimpi belaka. Tidak dipungkiri dirinya sangat amat frustasi sekarang. Ia tau meskipun akan melewati berbagai masalah nantinya, semua itu hanyalah jalan menuju kebahagiaan.
Selalu ada cara untuk meraihnya, meski harus berjalan sejauh apapun di atas beling sekalipun.
Kontrak pernikahan bisnis tidak pernah hanya hitam di atas putih semata. Isinya tidak main-main. Tidak gampang memutuskannya. Banyak ranjau yang dapat menjerat siapapun di dalam sana. Mereka tentu membuatnya sedemikian rupa agar tidak ada satu pihak pun yang dapat memutuskan kontrak sebelum tenggat waktu yang sudah ditentukan. Meskipun Maxime punya alasan kuat dalam memutuskan kontrak karena perselingkuhan Carla yang begitu nyata, tapi tetap tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karena...
Hanya Carla yang dapat menceraikannya. Dan Maxime baru bisa melakukannya setelah tiga tahun. Kontrak yang seperti itu bertujuan untuk menjaga keamanan pihak wanita dari kekerasan fisik atau mental yang ditakutkan akan terjadi di dalam rumah tangga selama kontrak berlangsung. Sehingga kendali untuk memutuskan hubungan hanya ada di pihak wanita.
Seperti Angel dan William. William berbuat hal-hal yang memicu perceraian dan ia mendapatkannya. Sebagai konsekuensi, saat Angel menceraikannya maka Xander Corp lah yang terkena imbas.
Karena itu, kedua belah pihak harus saling menjaga satu sama lain.
"Irina..." panggil Maxime.
Irina mendongak pelan untuk memandangi pria itu. Lama Maxime memandanginya tanpa dapat berkata-kata.
"Ada apa?" Tanya Irina akhirnya.
"Nothing, amor. I thought you are sleeping."
"Kau ingin mengatakan sesuatu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN DESIRE
RomantikThe Patlers #3 ( Maxime & Irina ) Maxime F. Patlers adalah keturunan laki-laki satu-satunya di keluarga Patlers sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai pewaris tunggal Patlers Group, sebuah perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika Serikat d...
